Cerita Kombes Wayan Winaya: Dari Brimob Papua, MotoGP Mandalika, hingga Pimpin Polresta Denpasar

Kapolresta Denpasar Kombes Pol I Wayan Winaya saat menghadiri diskusi bulanan Ikatan Wartawan Online (IWO) Bali #NgopiSantuy di kawasan Renon, Denpasar, Sabtu (31/10/2026). (Balihotnews/dre)
Kapolresta Denpasar Kombes Pol I Wayan Winaya saat menghadiri diskusi bulanan Ikatan Wartawan Online (IWO) Bali #NgopiSantuy di kawasan Renon, Denpasar, Sabtu (31/10/2026). (Balihotnews/dre)

Balihotnews.com | DENPASAR – Tongkat komando Kepolisian Resor Kota (Polresta) Denpasar kini resmi dipegang oleh Kombes Pol I Wayan Winaya. Putra asli Sanur, Denpasar, ini akhirnya “pulang kampung” usai malang melintang dalam berbagai medan penugasan, mulai dari daerah konflik di Papua hingga pengamanan ajang internasional MotoGP Mandalika.

​Komitmen menjaga kondusivitas wilayah hukum Denpasar langsung ditegaskan Winaya. Salah satu gebrakan awalnya adalah turun langsung memimpin patroli malam di titik-titik rawan.

​Hal tersebut diungkapkan Winaya saat hadir sebagai narasumber dalam diskusi bulanan Ikatan Wartawan Online (IWO) Provinsi Bali bertajuk #NgopiSantuy di sebuah kedai kopi kawasan Renon, Denpasar, Sabtu (31/10/2026).

​”Kami menilai masyarakat ingin kehadiran polisi, makanya nanti malam kita patroli, dari jam 11 malam sampai jam 4 pagi,” tegas perwira lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 2001 tersebut di hadapan awak media.

​Winaya menjelaskan, jam operasional patroli tersebut ditentukan berdasarkan analisis Bagian Operasi Polresta Denpasar terhadap tren aktivitas masyarakat dan tingkat kerawanan. Langkah ini diambil untuk memberikan jaminan rasa aman, baik bagi warga lokal maupun wisatawan.

Berita Terkait:  Serius dalam Penegakan Hukum, OJK Jatuhkan Total Denda Rp 2,52 Triliun Pelaku Pelanggaran di Pasar Modal

​Terkait citra keamanan pariwisata Bali, Winaya meminta agar pemberitaan dilakukan secara proporsional. Ia mengingatkan agar satu tindak kriminal di titik tertentu tidak lantas digeneralisasi seolah-olah seluruh Bali tidak aman, seperti pada kasus kejahatan warga negara asing yang kerap menyita perhatian publik.

​”Seberapa pengaruh ketidakamanan di titik ini terhadap luasnya wilayah? Kan harus dinilai itu, tidak boleh digeneralisir,” imbuhnya.

​Karier Panjang: Dari Medan Konflik hingga Reserse

​Lahir pada 1979, Winaya menghabiskan masa kecilnya di Sanur dan menamatkan pendidikan sekolahnya di Denpasar. Setelah itu, jalur pengabdian membawanya lulus dari Akpol pada 2001 dan langsung diterjunkan ke satuan Brimob Polda Sulawesi Selatan.

Berita Terkait:  Penjelasan Desa Adat Selabih Soal Status Lahan Rest Area yang Viral di Media Sosial

​Mental lapangannya ditempa di daerah rawan. Pada 2003, ia ditugaskan ke Maluku Utara, disusul operasi penanggulangan konflik antarsuku di Timika, Papua, pada 2004.

​”Tugas kepolisian menuntut anggota mampu menghadapi karakter masyarakat yang berbeda. Polisi dituntut memiliki kemampuan menangani beragam persoalan secara bersamaan,” kenang perwira yang juga mengantongi gelar Magister Hukum ini.

​Kariernya kemudian moncer di dunia reserse. Ia pernah menjabat Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, Kasubdit I Ditresnarkoba Polda Jatim, hingga Kapolres Ngawi (2020–2022). Saat memimpin Ngawi, kesuksesannya mengelola penyekatan Exit Tol selama masa PPKM Darurat berbuah penghargaan dari Dirut PT Jasa Marga.

​Telegram Denpasar Turun di Mandalika

​Sebelum resmi menggantikan Kombes Pol Leonardo David Simatupang pada 19 Oktober 2026, Winaya menjabat sebagai Dirpamobvit Polda NTB. Di sana, ia memegang peran vital dalam pengamanan balap motor dunia MotoGP Mandalika 2026.

Berita Terkait:  OJK Tegaskan Komitmen Reformasi Pasar Modal dan Penguatan Kepercayaan Investor Global

​Menariknya, surat telegram (TR) penunjukannya sebagai Kapolresta Denpasar turun justru saat ia tengah sibuk mengamankan jalannya MotoGP di sirkuit tersebut.

​Bagi Winaya, memimpin kepolisian di tanah kelahirannya adalah sebuah amanah besar. Pengalaman lintas wilayah yang ia miliki menjadi modal kuat untuk memahami karakter khas sosial budaya masyarakat Bali, termasuk sinergi dengan desa adat dan dinas.

​Di sisi lain, mantan perwira Divisi Humas Polri ini juga menekankan pentingnya komunikasi dua arah dengan insan pers. Ketua IWO Bali, Tri Widiyanti, yang mengawal jalannya program #NgopiSantuy, mengapresiasi keterbukaan sang Kapolresta.

“​Lewat ruang dialog santai namun kritis ini, diharapkan sinergi antara aparat penegak hukum dan media di Bali dapat terus terbangun demi menyajikan informasi yang akurat dan menjaga iklim pariwisata yang aman,” tandas Widiyanti.*** (dre)

Berita Terkini