Dinkes Badung Sikat Klinik Bodong, Siagakan Layanan Darurat 24 Jam

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Badung, Dr. dr. Bagus Padma Puspita. (Balihotnews/red)
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Badung, Dr. dr. Bagus Padma Puspita. (Balihotnews/red)

Balihotnews.com | MANGUPURA – Lonjakan wisatawan mancanegara yang menembus angka 3,3 juta jiwa hingga Juli 2026 membuat Pemerintah Kabupaten Badung bergerak cepat. Tak mau ambil risiko, Dinas Kesehatan (Dinkes) Badung kini menyiagakan layanan medis 24 jam penuh sekaligus menabuh genderang perang terhadap praktik fasilitas kesehatan (faskes) ilegal di kawasan wisata.

​Kepala Dinkes Kabupaten Badung, Dr. dr. Bagus Padma Puspita, menegaskan bahwa kenyamanan pariwisata tidak melulu soal keindahan alam, melainkan jaminan perlindungan medis yang andal. Ia memastikan pemerintah tidak akan memberi ampun pada klinik tak berizin yang mengancam nyawa pasien.

​“Kami tidak menoleransi praktik medis ilegal yang berisiko membahayakan keselamatan pasien, dan tentunya juga tenaga medis tersebut,” ujar Bagus Padma kepada awak media di Puspem Mangupraja Mandala, Mengwi, Jumat (21/8/2026).

Berita Terkait:  OGOD Dongkrak Penerimaan Retribusi Nusa Penida hingga 210,45 Persen

​Langkah tegas ini secara khusus menyoroti maraknya penawaran IV drip atau infus vitamin terselubung. Pengawasan ketat juga menyasar warga negara asing (WNA) yang nekat membuka praktik pelayanan medis tanpa lisensi resmi di Pulau Dewata.

​Sebagai solusi strategis dari sisi layanan, Dinkes mengoptimalkan aplikasi ‘Badung Sehat’. Sistem digital ini mengintegrasikan 13 puskesmas dengan armada ambulans yang tersebar di berbagai titik krusial.

​Hasilnya terbukti signifikan. Waktu tanggap (response time) kegawatdaruratan yang sebelumnya memakan waktu di atas 30 menit, kini berhasil dipangkas drastis menjadi hanya 10-14 menit per kasus.

​Aplikasi ini tidak sekadar berfungsi sebagai tombol darurat. Masyarakat dan wisatawan bisa memanfaatkannya untuk mengakses telemedicine, memanggil ambulans non-darurat, memantau ketersediaan darah, hingga melacak sebaran penyakit seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) dan rabies.

Berita Terkait:  Imigrasi Ngurah Rai Usir 9 Bule Nakal, Ada yang Nyamar Jadi Investor hingga Buka Praktik di Canggu
​Antisipasi Bali Belly dan Gigitan Kera

​Mengingat Badung adalah magnet turis global, ancaman “Bali Belly” hingga risiko gigitan kera di kawasan wisata seperti Sangeh dan Uluwatu turut diantisipasi secara berlapis.

​Bagus menjelaskan, cakupan vaksinasi rabies pada anjing di Badung kini telah melampaui 80 persen. Setiap puskesmas dan rumah sakit daerah juga telah disiagakan sebagai Rabies Center yang siap memberikan suntikan Vaksin Anti-Rabies (VAR) maupun Serum Anti-Rabies (SAR).

​Sementara untuk mencegah tragedi gangguan pencernaan khas turis atau Bali Belly, inspeksi keamanan pangan terus digencarkan dari hulu ke hilir. Pengawasan ini menyasar dapur hotel bintang lima, restoran, hingga warung kuliner skala mikro.

Berita Terkait:  Semarak HUT ke-66 Karang Taruna Gianyar: Soroti Potensi 100 Ribu Pemuda, Sentil Separuh Desa Belum Aktif

​Dinkes juga mewanti-wanti para pengelola vila, homestay, dan hostel agar berhenti merujuk tamu yang sakit ke sembarang tempat, dan memastikan mereka hanya ditangani oleh faskes resmi yang memiliki izin.

​Bila terjadi kondisi darurat, wisatawan dan masyarakat dapat langsung menghubungi Safety Center Kesehatan Badung di nomor 0811-3991-9119. Adapun untuk kritik, saran, atau aduan layanan publik, Kontak Bupati Badung selalu bersiaga via WhatsApp di 081-558-200-200.

Berita Terkini