Balihotnews.com | JAKARTA – Ajang lari internasional Maybank Marathon 2026, pada Agustus lalu di Gianyar, membuktikan diri bukan sekadar arena adu kecepatan. Gelaran sport tourism ini sukses menyuntikkan dana segar ratusan miliar rupiah ke urat nadi perekonomian Pulau Dewata.
Total perputaran uang dari ajang yang digelar pada 23 Agustus 2026 lalu ini menembus angka fantastis, yakni Rp 533,4 miliar. Angka raksasa ini tidak muncul tiba-tiba, melainkan gabungan dari derasnya belanja pelari dan efek dominonya ke warga lokal.
Studi terbaru PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia) bersama Katadata Insight Center membedah aliran dana tersebut ke dalam dua pintu utama.
Pintu pertama adalah dampak ekonomi langsung yang menembus Rp 229,9 miliar. Uang ini merupakan pengeluaran tunai para peserta selama di Bali, yang nilainya melonjak tajam dibanding tahun lalu di kisaran Rp 170,8 miliar.
Pintu kedua berasal dari efek ganda (multiplier effect) senilai Rp 303,5 miliar. Ini adalah perputaran uang lanjutan dari belanja pelari yang akhirnya menetes ke ekosistem UMKM di Bali. Angka efek domino ini melesat 34,6 persen dibandingkan edisi 2025.
Presiden Direktur Maybank Indonesia Steffano Ridwan menilai lompatan perputaran uang ini membuktikan Maybank Marathon telah bermetamorfosis menjadi motor penggerak ekonomi daerah yang sesungguhnya.
”Temuan ini memperkuat komitmen kami mewujudkan misi Humanising Financial Services. Kami ingin Maybank Marathon tumbuh bersama ekonomi daerah, memberdayakan komunitas, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat Bali,” ujar Steffano dalam keterangan tertulis, Rabu (14/10/2026).
Turis Asing Jadi Penyumbang Terbesar
Tingginya angka ratusan miliar ini berbanding lurus dengan membludaknya peserta. Tahun ini, 14.100 pelari ikut ambil bagian, melampaui rekor sebelumnya sebanyak 13.600 orang. Rata-rata dompet yang dirogoh peserta pun menebal, dari Rp 12,5 juta menjadi Rp 16,3 juta per orang.
Pelari mancanegara (WNA) tampil sebagai penyumbang pundi-pundi paling gemuk. Rata-rata pengeluaran turis asing menembus Rp 40,1 juta per orang, naik signifikan dari Rp 27,7 juta pada tahun lalu.
Mereka juga jauh lebih betah menetap di Bali dengan durasi tinggal mencapai sembilan hari. Berbeda dengan pelari domestik yang rata-rata menghabiskan waktu tiga hingga empat hari saja.
Berkah untuk Hotel hingga Jasa Transportasi
Gurihnya putaran uang dari belasan ribu pelari ini langsung dinikmati para pelaku usaha. Omzet UMKM di Bali rata-rata terdongkrak 35 persen seiring naiknya jumlah pelanggan selama acara.
Sektor perhotelan menjadi pihak yang paling panen dengan lonjakan pelanggan hingga 64 persen. Berkah serupa mengekor pada restoran dan kuliner (41 persen), transportasi lokal (34 persen), hingga jasa wisata (10 persen). Efek positif ini bahkan berujung pada penyerapan tenaga kerja baru di sektor UMKM yang ikut terkatrol hingga 18 persen.
Masifnya dampak ekonomi ini sangat bergantung pada disiplin penyelenggara. Predikat Elite Label Road Race dari World Athletics yang disandang Maybank Marathon menjadi jaminan mutu yang terus merawat kepercayaan pelari dunia datang ke Bali.
”Kepercayaan pelari dibangun melalui konsistensi standar penyelenggaraan. Mulai dari keselamatan, kenyamanan rute, hingga manajemen acara,” tegas Project Director Maybank Marathon 2026 Bambang Irawan.
Standar ketat ini, kata Bambang, tidak akan diturunkan sedikit pun pada edisi mendatang. Tujuannya hanya satu: menjaga pengalaman lari terbaik bagi peserta, sekaligus memastikan kucuran ekonomi terus mengalir deras bagi tuan rumah Bali.






