Kuta Selatan Mati Air Sepekan, BEM Unud Sentil Janji Politik Bupati Badung Adi Arnawa

Ketua BEM FH Unud I Gusti Agung Roman Kertajaya (kiri) dan Kabid Kajian & Aksi Strategis Ida Bagus Gede Permana. (Balihotnews/Ist)
Ketua BEM FH Unud I Gusti Agung Roman Kertajaya (kiri) dan Kabid Kajian & Aksi Strategis Ida Bagus Gede Permana. (Balihotnews/Ist)

Balihotnews.com | MANGUPURA — Krisis air bersih yang melanda sejumlah wilayah di Kuta Selatan, Kabupaten Badung, memantik kritik dari Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Udayana (BEM FH Unud). Mereka menagih janji politik Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa untuk menuntaskan krisis air yang terus berulang di kawasan pariwisata elit tersebut.

​Kepala Bidang Kajian dan Aksi Strategis BEM FH Unud, Ida Bagus Gede Permana Putra Manuaba, menegaskan masalah krisis air tidak bisa terus dimaklumi sebagai persoalan teknis insidental semata.

​”Persoalan ini sudah berulang. Bahkan penyelesaian krisis air di Kuta Selatan sebelumnya telah menjadi janji politik Bupati Badung. Kalau masyarakat masih menghadapi persoalan yang sama hingga hari ini, tentu harus ada evaluasi serius,” kata Putra Manuaba melalui keterangan tertulis, Rabu (30/9/2026).

​Menurutnya, tata kelola Perumda Air Minum Tirta Mangutama harus diperbaiki secara menyeluruh. Solusi instan seperti pengerahan mobil tangki setiap kali air mati dinilai tidak mengurai masalah struktural.

​Pemerintah dituntut membedah persoalan ini dari hulu ke hilir. Mulai dari kapasitas sumber air baku, infrastruktur, jaringan distribusi, hingga manajemen Perumda.

Berita Terkait:  Jelang Putusan Praperadilan, Propam Mabes Polri Registrasi Aduan Kubu Eks Kepala BPN Bali

​Putra Manuaba juga menyoroti ironi di Badung. Sebagai pusat pariwisata utama Bali dengan pertumbuhan hotel yang masif, masyarakatnya justru kesulitan mendapat hak paling esensial.

​”Jangan sampai kita memiliki pariwisata yang gemerlap, tetapi masyarakat justru kesulitan mendapatkan air bersih. Air bersih bukan fasilitas tambahan, melainkan kebutuhan dasar,” ucapnya.

​Derita Warga Kuta Selatan

Ketua BEM FH Unud, I Gusti Agung Roman Kertajaya, mengaku merasakan langsung penderitaan akibat krisis air ini. Aliran air dari Perumda Tirta Mangutama di wilayah domisilinya di Jimbaran dilaporkan mati selama delapan hari terakhir.

​”Ketika air tidak mengalir selama berhari-hari, kebutuhan paling dasar masyarakat ikut terganggu. Ini bukan sekadar persoalan yang kami baca, tapi persoalan yang kami alami langsung,” tutur Gung Roman.

​Ia menolak jika krisis air melulu disalahkan pada musim kemarau. Faktanya, masalah serupa terus mendera warga Kuta Selatan dalam berbagai kondisi dan musim.

​Gung Roman secara khusus mendorong Gubernur Bali agar ikut turun tangan mengatasi krisis air di Badung Selatan. Baginya, persoalan ini tidak hanya menyangkut hajat hidup orang banyak, tetapi juga citra dan keberlanjutan pariwisata Bali.

Berita Terkait:  Cegah Krisis Air Bali, Wamenpar Ni Luh Puspa Tanam 12.500 Bambu di Lempuyang

​”Jangan sampai Badung dikenal sebagai daerah dengan pariwisata maju, tetapi masyarakatnya harus mengantre air. Pemerintah harus memastikan pembangunan berjalan dengan tetap memenuhi hak dasar masyarakat,” tegasnya.

​Seperti diketahui, krisis air di Kuta Selatan saat ini dipicu oleh kerusakan motor pompa utama (800 kW) di Sistem 4 Estuary. Kondisi ini diperparah oleh penurunan drastis debit air baku di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Estuari Suwung imbas musim kemarau.

​Kawasan terdampak mencakup sembilan titik padat penduduk dan wisata. Di antaranya Desa Bualu, Sawangan, Kampial, Kutuh, Ungasan, Pecatu, Labuan Sait, Balangan, hingga Jimbaran dan sekitarnya.

​Akibatnya, aktivitas rumah tangga warga hingga operasional pelaku usaha lumpuh. Mereka terpaksa antre berjam-jam demi mendapatkan jatah air dari mobil tangki.

​Pemkab Evaluasi Ketersediaan Air Baku

Sementara itu, menyikapi tantangan suplai air di Kuta Selatan, Sekretaris Daerah (Sekda) Badung, Ida Bagus Surya Suamba, mengingatkan perlunya perencanaan infrastruktur yang selaras dengan ketersediaan sumber air baku.

Berita Terkait:  Semarak HUT ke-66 Karang Taruna Gianyar: Soroti Potensi 100 Ribu Pemuda, Sentil Separuh Desa Belum Aktif

Menurutnya, pembangunan jaringan pipa distribusi harus diimbangi dengan keandalan sumber air utama agar pasokan tetap stabil ke depannya. Terlebih, potensi kemarau panjang tahun ini diperkirakan akan mempengaruhi debit air permukaan, khususnya di kawasan Estuary Dam.

​”Kita perlu mempertegas kembali skema teknis yang akan diambil. Mengingat prediksi kemarau tahun ini yang lebih panjang, volume air baku di Estuary tentu akan mengalami penyesuaian yang cukup signifikan,” ujar Surya Suamba dalam Rapat Lanjutan Perubahan Rencana Kerja dan Anggaran (PRKA) Perumda Air Minum Tirta Mangutama, belum lama ini.

​Ia mengajak jajaran Perumda untuk bersama-sama memetakan kembali neraca air di wilayah Badung Selatan secara lebih rinci, guna memastikan keseimbangan kebutuhan antara rumah tangga dan industri pariwisata.

​“Pertanyaannya, bagaimana kita melihat neraca air di Badung Selatan saat ini? Kita perlu memetakan dengan baik berapa riil kebutuhan masyarakat dan industri, serta menyiapkan langkah-langkah antisipatif manakala pasokan sedang berkurang,” pesannya.*** (dre)

Berita Terkini