Balihotnews.com | BADUNG – Merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan RI tak selalu harus riuh dengan pawai dan perlombaan. Siswa Pencinta Alam (Sispala) Wira Satya Mandala SMA Negeri 1 Kuta, Kabupaten Badung, memilih jalan berbeda dengan menggelar ekspedisi maraton membersihkan empat gunung di Bali dan menanam ratusan bibit mangrove di pesisir Tuban sepanjang Agustus 2026.
Mengusung filosofi Nyegara Gunung, yakni sebuah konsep luhur dalam menjaga keseimbangan alam Bali dari hulu ke hilir, ratusan pelajar ini mendedikasikan tenaga mereka untuk Ibu Pertiwi.
Langkah tegap mereka dimulai dari dataran tinggi. Sejak Sabtu, 1 Agustus 2026 lalu, beberapa tim kecil yang masing-masing beranggotakan enam orang diberangkatkan untuk menyusuri jalur pendakian Gunung Batur, Adeng, Sanghyang, dan Catur.
Misi mereka di sana bukan sekadar menaklukkan puncak, melainkan memunguti sampah yang kerap ditinggalkan para pendaki abai. Menariknya, setiap tim dibekali ‘Plakat Gunung Ramah Lingkungan’. Alih-alih dipancangkan di puncak sebagai monumen kebanggaan komunal, plakat itu justru dibawa turun kembali bersama karung-karung berisi sampah hasil clean up.
Ketua Umum Sispala Wira Satya Mandala, Komang Charissa Maharani, menyebut ada pesan simbolis yang kuat di balik perlakuan terhadap plakat tersebut. Cara ini diharapkan mampu mengubah paradigma generasi muda dalam mencintai alam.
”Pesan kepedulian lingkungan tidak boleh berhenti atau tertinggal di kawasan gunung. Pesan itu harus terus dibawa turun dan diterapkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Charissa melalui keterangan tertulis, Senin (17/8/2026).
Bergerak ke Hilir, Menghidupkan Sabuk Hijau Pesisir
Usai merampungkan misi yang menguras keringat di ketinggian, bakti pelestarian ini bergerak menuju hilir. Tepat sehari sebelum proklamasi dirayakan, atau pada Minggu, 16 Agustus 2026 kemarin, kelompok pelajar ini turun ke Taman Hutan Mangrove yang dikelola Kelompok Nelayan Wana Sari, Tuban, Badung.
Di area pesisir berlumpur ini, mereka tak sekadar melakukan aksi bersih-bersih pesisir, tetapi juga menanam 100 bibit bakau. Agar tak jatuh pada kebiasaan seremonial usang “tanam lalu tinggalkan”, Sispala telah menyiapkan rancangan berkelanjutan.
Mereka menerapkan sistem pemantauan rutin bulanan. Setiap anggota diwajibkan mengecek kondisi bibit satu per satu pada cell tanam, demi memastikan sabuk hijau pelindung pantai tersebut benar-benar bernapas dan tumbuh lebat.
Rangkaian panjang ekspedisi edukasi alam ini digarap secara taktis oleh Ketua Panitia Arkana Girasta di bawah arahan Pelatih I Wayan Aldy Wira Sanjaya. Seluruh pergerakan dikawal ketat demi memastikan misi konservasi ini berjalan aman dan berdampak nyata.
Pembina Sispala Wira Satya Mandala, Ida Bagus Narayana, S.H., CLOP., menegaskan bahwa kegiatan ini adalah manifesto dari para pencinta alam sejati, sekaligus teguran halus bagi penikmat alam liar.
”Ini momentum bagi anggota kami untuk menyampaikan pesan tegas bahwa aktivitas di alam liar harus selalu berjalan selaras dengan upaya konservasi,” ujar Narayana.
Lewat keringat di jalur pendakian dan tangan-tangan kotor berlumpur di pesisir, para pelajar dari SMAN 1 Kuta ini membuktikan satu hal mutlak. Kemerdekaan yang utuh adalah ketika manusia mampu membebaskan diri dari sikap abai dan mulai merawat bumi yang dipijaknya.*** (dre)







