Mengupas Sejarah Galungan: Mitos Hancurnya Raja Lalim Mayadenawa

Ket foto: Umat Hindu di Bali merayakan Hari Raya Galungan dengan deretan penjor menjulang tinggi menghiasi sepanjang jalan desa, menyambut kedatangan hari kemenangan Dharma melawan Adharma. (Balihotnews/ilustrasi)
Ket foto: Umat Hindu di Bali merayakan Hari Raya Galungan dengan deretan penjor menjulang tinggi menghiasi sepanjang jalan desa, menyambut kedatangan hari kemenangan Dharma melawan Adharma. (Balihotnews/ilustrasi)

Balihotnews.com | DENPASAR – Umat Hindu di seluruh Indonesia, khususnya di Bali, merayakan Hari Raya Galungan tepat pada hari ini, Rabu (17/6/2026). Perayaan sakral yang jatuh setiap 210 hari sekali ini menjadi momentum penting untuk merayakan kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan).

​Merujuk pada Surat Edaran Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI Nomor B-253/DJ.VI/Dt.VI.I.3/BA.03/09/2025, perayaan Galungan akan disusul oleh Hari Raya Kuningan pada pekan depan.

​Berikut adalah rincian jadwal puncak pelaksanaannya di tahun 2026:

​Rabu, 17 Juni 2026: Hari Raya Galungan

​Sabtu, 27 Juni 2026: Hari Raya Kuningan

​Lantas, seperti apa makna spiritual dan sejarah panjang di balik perayaan Galungan? Simak penjelasannya berikut ini.

Berita Terkait:  Perkokoh Ketahanan Budaya, Bupati Satria Bersama Wakil Bupati Tjok Surya Hadiri Rangkaian Karya di Tiga Pura

​Makna Galungan: Turunnya Leluhur ke Bumi

​Secara etimologi, kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti “bertemu,” “bersatu,” atau “berperang.” Makna ini melambangkan bersatunya kekuatan rohani dalam diri manusia untuk menundukkan hawa nafsu dan mencapai kemenangan kebaikan.

​Melansir catatan Ditjen Bimas Hindu Kemenag, umat Hindu meyakini bahwa pada hari Galungan, para leluhur akan turun kembali ke bumi. Mereka hadir untuk memberikan berkat, perlindungan, serta kedamaian bagi keluarga yang ditinggalkan.

​Sehari sebelum puncak perayaan, umat Hindu melaksanakan tradisi Penampahan Galungan. Pada momen ini, dilakukan penyembelihan hewan sebagai persembahan, yang secara filosofis menjadi simbol pengendalian diri dari sifat-sifat buruk manusia.

Berita Terkait:  Mendiktisaintek Minta Kampus se-Indonesia Tak Ciptakan Banyak Prodi Baru 

​Sejarah dan Mitos Hancurnya Mayadenawa

Akar tradisi Galungan terentang sangat jauh ke masa lampau. Berdasarkan catatan sejarah dalam teks Lontar Purana Bali Dwipa, perayaan Galungan pertama kali dilangsungkan secara luas pada tahun 882 Masehi (804 Saka). Eksistensi tradisi luhur ini kemudian dihidupkan dan diperkuat secara institusional oleh Raja Sri Jayakasunu.

​Sementara itu, dalam balutan mitologi Hindu Nusantara yang terekam di teks Usana Bali, Galungan berkaitan erat dengan epik pertempuran antara Dewa Indra dan Raja Mayadenawa.

​Mayadenawa digambarkan sebagai sosok raksasa sakti yang lalim. Ia melarang rakyatnya memuja Tuhan dan para dewa, sebuah kesombongan yang akhirnya memicu peperangan besar. Peperangan dahsyat itu berakhir dengan kekalahan Mayadenawa di tangan Dewa Indra.

Berita Terkait:  Mendengar Suara Rakyat, Membenahi Bayangkara Negara

​Tak heran jika secara linguistik, kata “Galungan” yang diserap dari bahasa Jawa Kuno juga memiliki arti “berperang” atau “menang”. Kemenangan esensial inilah yang terus dikumandangkan dan dirayakan setiap hari Budha Kliwon Dungulan, sebagai pengingat abadi bahwa kebenaran pada akhirnya akan selalu mengalahkan kejahatan.

​Oleh sebab itu, perayaan Galungan bukanlah sekadar ritual rutin tahunan, melainkan pengingat abadi bagi umat manusia untuk selalu menapaki jalan dharma, menjaga etika, dan terus merawat harmoni alam semesta. Rahajeng nyanggra rahina Galungan lan Kuningan!

Berita Terkini