Mendiktisaintek Minta Kampus se-Indonesia Tak Ciptakan Banyak Prodi Baru 

Foto: Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliartosaat membuka Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) XII Tahun 2026 di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Jumat (2/10/2026). (Balihotnews/ist).

Balihotnews.com | BADUNG – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto meminta para rektor di Indonesia tidak terus menambah program studi (prodi), tetapi menggabungkan prodi yang memiliki rumpun keilmuan serupa agar pengelolaan perguruan tinggi lebih sederhana.

“Mumpung para rektor berkumpul, tolong jangan kebanyakan prodi. Pegel ngurus akreditasi. Prodi-prodi itu digabung-gabungin saja, di-merge,” kata Brian saat membuka Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) XII Tahun 2026 di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Jumat (2/10/2026).

Menurut dia, penggabungan prodi dapat mengurangi beban administrasi dan proses akreditasi perguruan tinggi tanpa harus mengurangi jumlah mahasiswa.

Brian memberikan contoh lima prodi yang masing-masing memiliki 100 mahasiswa dapat digabung menjadi satu prodi dengan jumlah mahasiswa yang sama.

Berita Terkait:  Bentengi Generasi Muda dari Narkoba, BNNP Bali Gelar Bimtek Penggiat P4GN Bersama Gerakan Pramuka Kwarda Bali

Dengan demikian, proses administrasi dan akreditasi yang sebelumnya dilakukan untuk masing-masing prodi dapat disederhanakan.

“Administrasi mudah, akreditasi yang tadinya lima kali setiap lima tahun tinggal satu kali, manajemennya juga gampang. Sehingga lebih simpel,” ujarnya.

Ia menilai pengembangan ilmu pengetahuan tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk pembukaan prodi baru. Menurut Brian, perguruan tinggi perlu memberikan ruang bagi pengembangan keilmuan yang lebih luas tanpa terlalu dibatasi sekat administratif.

Brian mencontohkan perkembangan bidang teknik elektro yang kini berkembang menjadi berbagai bidang yang lebih spesifik, seperti teknik telekomunikasi, teknik biomedis, teknik informatika, hingga teknik kecerdasan buatan.

Menurut dia, bidang keilmuan pada jenjang sarjana sebaiknya tidak terlalu sempit sehingga lulusan memiliki ruang lebih luas untuk mengembangkan kompetensi dan memasuki berbagai sektor pekerjaan.

Berita Terkait:  Wakil Bupati Klungkung Pimpin Rapat PGRI, Minta Momentum HUT ke-81 Perkuat Solidaritas Guru

“Yang perlu dikembangkan itu bukan prodinya, tapi keilmuannya. Prodi itu hanya administrasi. Jangan mempersempit keilmuan dengan sekat administrasi,” ujar Brian.

Ia juga meminta para rektor tidak berlomba-lomba membuka prodi baru hanya karena ada bidang keahlian tertentu yang ingin dikembangkan menjadi program studi tersendiri.

“Jadi saya titip pesan, Bapak/Ibu tolong di-merge saja prodi. Supaya lebih gampang, administrasi lebih mudah, akreditasi juga murah,” katanya.

Brian mengatakan penyederhanaan prodi tersebut sejalan dengan perubahan paradigma pendidikan tinggi dari orientasi keluaran (output) menuju hasil dan dampak (outcome).

Menurut dia, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan, paper, skripsi, tesis, atau disertasi, tetapi harus mampu menunjukkan dampak dari pendidikan dan penelitian yang dilakukan terhadap masyarakat.

Berita Terkait:  Pesona Lemukih Eco Village Jadi Ruang Belajar Alam Sispala Wira Satya Mandala

“Outcome kita jelas, apa lulusan kita, bagaimana dampak pada masyarakat, apa persoalan daerah yang bisa diselesaikan,” kata Brian.

Dalam paparannya, Brian mengungkapkan Indonesia memiliki 34.711 prodi pada 2025 atau meningkat 29 persen. Jumlah mahasiswa mencapai 11,5 juta orang, dosen 328 ribu orang, dan lulusan pada tahun tersebut mencapai sekitar 2,78 juta orang. (alan).

 

 

Berita Terkini