Balihotnews.com | DENPASAR – Gubernur Bali, Wayan Koster, angkat bicara terkait fenomena penurunan jumlah wisatawan domestik (wisdom) yang berkunjung ke Pulau Dewata pada penghujung tahun 2025.
Koster mengungkapkan bahwa masalah utama bukan pada minat wisata, melainkan keterbatasan armada pesawat.
Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah maskapai lokal yang melayani rute ke Bali menyusut dari 13 maskapai pada 2024 menjadi hanya 11 maskapai di tahun 2025. Penurunan ini berdampak langsung pada jumlah rute penerbangan domestik yang turun dari 25 rute menjadi 23 rute.
“Salah satu penyebab utamanya adalah maskapai Garuda dan Citilink. Sebagian pesawat mereka sedang menjalani masa perawatan karena sudah jatuh tempo. Akibatnya, frekuensi penerbangan ke Bali berkurang dan sisa pesawat yang ada selalu penuh,” ujar Koster saat memantau kondisi kedatangan wisatawan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Minggu (28/12/2025).
Akibat berkurangnya maskapai penerbangan ke Pulau Dewata ini, jelas Koster, menyebabkan terjadi penurunan wisdom dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Dimana pada tahun 2024 jumlah wisdom yang datang ke Bali mencapai 10,1 juta orang, namun hingga 26 Desember 2025, jumlah ‘para pelancong lokal’ yang datang ke Bali baru mencapai 9,2 juta orang.
“Ada penurunan kira-kira sampai 31 Desember 2024 mungkin akan menjadi 9,4 juta jadi kira-kira menurun sekitar 600 sampai 700 ribu,” jelas Koster.
Fenomena ‘Vila Gelap’ dan Hunian Hotel
Di sisi lain, Koster menyebut meskipun okupansi hotel menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 stabil di angka 75-85 persen, namun secara tahunan (year on year) tingkat hunian hotel di Bali mengalami kontraksi sebesar 4 persen sepanjang Januari hingga Desember 2025.
Koster menyebut adanya pergeseran perilaku wisatawan dalam memilih tempat menginap sebagai salah satu faktor penyebabnya.
”Banyak wisatawan sekarang beralih ke fasilitas penginapan non-hotel, seperti vila pribadi atau akomodasi yang tidak terdaftar sebagai pelaku usaha pariwisata resmi. Mereka tidak membayar pajak hotel, sehingga data hunian hotel resmi terlihat menurun meski jumlah wisman sebenarnya meningkat,” tegas pria yang juga menjabat Ketua DPD PDIP Bali tersebut.
Selain masalah teknis penerbangan dan akomodasi, faktor alam turut mempengaruhi atmosfer pariwisata di Bali. Curah hujan yang tinggi dan banjir di beberapa titik membuat destinasi wisata luar ruangan tampak lengang.
“Sejak Desember sampai awal Januari, curah hujan masuk kategori sedang hingga lebat. Kondisi ini membuat situasi kurang nyaman bagi wisatawan untuk beraktivitas di luar hotel. Itulah sebabnya jalanan atau destinasi terlihat lebih sepi dibanding tahun lalu, padahal hunian hotel tetap tinggi,” pungkas Koster.*** (dre)








