Air Lindi TPA Suwung Cemari Tahura, Mangrove Serangan Terancam Mati

Potret kawasan konservasi mangrove di Serangan, Denpasar, yang terancam mati, Jumat (18/9/2026). Hutan pesisir ini mengering imbas paparan air lindi beracun yang mengalir deras dari TPA Sarbagita Suwung. (Balihotnews/Istimewa)
Potret kawasan konservasi mangrove di Serangan, Denpasar, yang terancam mati, Jumat (18/9/2026). Hutan pesisir ini mengering imbas paparan air lindi beracun yang mengalir deras dari TPA Sarbagita Suwung. (Balihotnews/Istimewa)

Balihotnews.com | DENPASAR – Kawasan konservasi mangrove di pesisir Serangan, Denpasar Selatan, kini menghadapi ancaman ekologis serius. Hutan yang menjadi benteng pesisir itu dilaporkan mengering dan terancam mati, diduga akibat paparan air lindi (leachate) yang mengalir deras dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarbagita Suwung.

​Lindi merupakan cairan beracun hasil rembesan air, seperti hujan, yang melewati tumpukan sampah lalu melarutkan zat kimia, materi organik, dan anorganik.

​Pantauan di lapangan pada Jumat (18/9/2026) memperlihatkan cairan pekat ini keluar bebas melalui saluran besar yang terhubung langsung dari TPA Suwung dan bermuara ke area konservasi mangrove di sekitarnya. Temuan ini memantik alarm bahaya bagi kelestarian 1.373,5 hektare lahan Hutan Mangrove Tahura Ngurah Rai.

Berita Terkait:  Tembus Rp1 Triliun, Serapan Kredit Perumahan di Bali Bikin Menteri PKP Kagum

Aktivis lingkungan sekaligus warga Desa Serangan, Wayan Jecky, mengungkap bahwa kerusakan terparah sudah terlihat secara kasatmata.

​”Setelah kami survei lebih mendalam, aliran air lindi dari TPA ini mengarah langsung ke area mangrove. Mengingat TPA Suwung menghasilkan sampah campur, kemungkinan besar lindi tersebut mengandung zat besi dan racun lainnya,” ujar Jecky, Selasa (22/9/2026).

​Kematian tanaman pelindung pantai ini diyakini bukan sekadar karena faktor cuaca atau embusan angin kencang. Jecky membeberkan, sedimen sampah yang terbawa arus telah menciptakan endapan lumpur berbau menyengat, yang pada akhirnya menutupi dan mematikan akar mangrove.

​Tragedi lingkungan ini terjadi di tengah ironi kebijakan TPA Suwung. Saat ini, gerbang TPA raksasa tersebut kembali dibuka untuk menerima pasokan sampah organik setiap Selasa dan Kamis. Langkah darurat ini diambil sembari menanti realisasi proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang tak kunjung rampung.

Berita Terkait:  Bupati Sedana Arta Dampingi Gubernur Koster Hadiri Puncak Karya Panca Wali Krama di Pura Ulun Danu Batur

​Kondisi ini mendesak Jecky untuk meminta pemerintah segera turun tangan. Ia menuntut aliran lindi segera diputus agar tidak terus meracuni ekologi Tahura dan membunuh biota laut.

​”Kami meminta tolong kepada pemerintah terkait agar cepat turun ke lapangan. Harus dicarikan solusi, dan perlu ada riset mendalam agar aliran air lindi ini tidak terus dialirkan ke mangrove Tahura karena dampak negatif ekologisnya sangat besar,” tegasnya.

​Nestapa kawasan hilir Serangan rupanya tak berhenti pada cairan beracun lindi. Jecky kerap menemukan tumpukan sampah padat yang berserakan menyumbat sekitar kawasan konservasi. Fakta ini menegaskan bahwa penanganan timbulan sampah di Denpasar tak bisa lagi ditangani setengah hati, apalagi hanya mengandalkan narasi pemilahan dari hulu.

Berita Terkait:  Disela Kegiatan Keagamaan di Nusa Penida, Bupati Satria Salurkan Bantuan Sembako untuk Warga Kurang Mampu

​Ia menyadari, beban seberat ini tak bisa hanya dipikul di pundak pemerintah. Dibutuhkan urun tangan dan kolaborasi nyata dari para pemangku kepentingan skala besar yang beroperasi di wilayah sekitar TPA Suwung dan kawasan Serangan.

​”Perlu kolaborasi dan effort tinggi dari semua pihak. Pihak swasta seperti BTID maupun BUMN yang ada di sekitar TPA, seperti Pelindo dan Pertamina, seharusnya bisa ikut turun tangan membantu penanganan sampah di Pulau Bali ini,” pungkas Jecky.*** (dre)

Berita Terkini