Gandeng Ajik Krisna hingga The Keranjang, Lewat Program Ini BTN Sasar Wisata Bali

Kepala Kantor Wilayah BTN Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara, Bagus Hendri Setiawan, saat acara media gathering bersama jurnalis di Denpasar, Senin (8/6/2026). (Balihotnews/dre)
Kepala Kantor Wilayah BTN Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara, Bagus Hendri Setiawan, saat acara media gathering bersama jurnalis di Denpasar, Senin (8/6/2026). (Balihotnews/dre)

Balihotnews.com | DENPASAR – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) tidak lagi sekadar berkutat pada urusan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Bank pelat merah ini mulai tancap gas merambah denyut nadi ekonomi Pulau Dewata dengan menggandeng sejumlah raksasa industri lokal, mulai dari pusat oleh-oleh Ajik Krisna hingga kawasan belanja ikonik The Keranjang.

​Langkah strategis ini merupakan bagian dari program 3S (Santap, Santai, Sehat) yang diusung BTN untuk menggarap potensi besar sektor pariwisata Bali melalui transformasi transaksi digital.

​Kepala Kantor Wilayah BTN Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara, Bagus Hendri Setiawan, mengungkapkan bahwa inisiatif digitalisasi ini sengaja dirancang untuk merangkul berbagai ekosistem lokal yang dekat dengan keseharian masyarakat dan wisatawan.

​”Untuk ranah santap dan santai yang otentik di Bali, kami sudah bermitra dan melakukan akuisisi beberapa merchant lokal, seperti pusat oleh-oleh Ajik Krisna dan The Keranjang,” ujar Bagus dalam acara media gathering di Denpasar, Senin (8/6/2026).

Berita Terkait:  5 Ide Usaha Kecil dengan Modal Awal Satu Juta Cocok untuk Pelaku UMKM, Ada Apa Saja?

​Sementara untuk melengkapi pilar ‘Sehat’, BTN turut menjalin kemitraan strategis dengan jaringan rumah sakit terkemuka.

​Incar Anak Muda Lewat Aplikasi ‘balé’

​Agresivitas BTN di sektor pariwisata ini berjalan beriringan dengan perluasan layanan digital mereka melalui aplikasi balé by BTN. Bagi bank BUMN ini, digitalisasi bukan lagi sekadar wacana masa depan, melainkan kebutuhan mendesak yang sudah menjadi gaya hidup harian.

​Meski ceruk transaksi digital nasional sudah dipenuhi banyak pemain besar, BTN optimistis memiliki modal kuat untuk bersaing di Bali. Target utamanya adalah kelompok first jobber (pekerja pemula) dan mahasiswa yang menjadi basis nasabah loyal mereka.

​”Orang yang pertama kali menerima gaji, punya penghasilan, hingga mahasiswa yang kuliah, itu relatif adalah nasabah BTN. Ini modal yang cukup untuk melakukan penetrasi transaksi digital,” tegas Bagus.

Berita Terkait:  Gubernur Koster Minta Pertamina Bergerak Cepat Perkuat Pasokan dan Distribusi BBM di Bali

​Untuk menjamin kenyamanan pengguna, BTN juga menyiagakan divisi khusus yang mengawal ketat aspek manajemen risiko dan keamanan siber (cyber security) dari hulu ke hilir.

​Suntik Rp 53,6 Miliar untuk Ekosistem Perumahan

​Di sisi lain, ekspansi digital ke sektor pariwisata ini tidak membuat BTN melupakan mandat utamanya. Di wilayah Bali, penguatan ekosistem digital tersebut justru berjalan berdampingan dengan penguatan sektor riil perumahan.

​BTN tercatat sangat aktif memperkuat sisi penyediaan hunian melalui Kredit Program Perumahan (KPP). Program ini tidak hanya menyasar pembeli rumah, melainkan juga menyuntikkan modal untuk ekosistem pendukungnya, mulai dari pengembang, penyedia jasa konstruksi, pedagang bahan bangunan, hingga UMKM.

​Langkah ini terbukti ampuh menggerakkan rantai ekonomi di daerah. “Ekosistem perumahan memiliki dampak ekonomi yang luas. Hingga Maret 2026, BTN telah menyalurkan KPP di Bali sebesar Rp 53,6 miliar,” jelas Bagus.

​Meski kini gencar memperluas jangkauan bisnis ke sektor pariwisata dan transaksi digital, Bagus memastikan bahwa bisnis inti BTN di bidang KPR tidak akan kendor. Strategi yang disebut Beyond Mortgage ini justru hadir untuk memperkuat layanan bagi nasabah.

Berita Terkait:  Perkuat Sinergi, BRI BO Denpasar Renon dan Kanwil Imigrasi Bali Gelar Audiensi Strategis

​”Masyarakat tidak perlu khawatir. KPR kita tetap tumbuh dan kami masih memegang predikat market share leading untuk KPR Subsidi. Kami tidak mengganti core business KPR,” imbuhnya.

​Bagus bahkan optimistis sektor properti di daerah akan tetap stabil di tengah gejolak geopolitik global saat ini. Menurutnya, isu kenaikan harga material bangunan impor tidak akan berdampak signifikan pada harga rumah rakyat.

​”Hampir 80 persen material pembangunan rumah itu bersifat lokal, seperti semen dan bata, sehingga porsi bahan impor sangat minim. Kalaupun ada fluktuasi, harga perumahan kita, khususnya KPR Subsidi, tetap terkendali dan terjangkau karena dipatok langsung oleh pemerintah,” pungkasnya.*** (dre)

Berita Terkini