Balihotnews.com | DENPASAR – Penyebaran HIV di Bali memicu alarm kewaspadaan. Bayangkan saja, hanya dalam kurun waktu empat bulan (Januari-April 2026), tercatat ada 678 kasus baru HIV yang ditemukan di Pulau Dewata dengan penyebaran yang didominasi oleh aktivitas transmisi seksual.
Merespons lonjakan kasus yang bak ‘fenomena gunung es’ ini, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali langsung mengambil langkah cepat. Ratusan konselor dari seluruh kabupaten dan kota di Bali dikumpulkan.
Pertemuan Koordinasi Konselor HIV/AIDS Tahun 2026 ini digelar di UPTD Bapelkesmas Provinsi Bali, Kesiman Kertalangu, Denpasar, Selasa (2/6/2026).
Bicara soal data, Dinas Kesehatan Provinsi Bali mencatat penyebaran infeksi baru ini masih didominasi kawasan perkotaan dan sentra pariwisata. Kota Denpasar nangkring di posisi teratas dengan 274 kasus (40 persen). Menyusul di belakangnya Kabupaten Badung dengan 157 kasus (23 persen), dan Buleleng 97 kasus (14 persen).
”Sebelum tahun 2000, epidemi HIV di Bali bergerak cukup lambat. Namun, sejak 2003 hingga kini, terjadi peningkatan tajam akibat transmisi seksual pada kelompok populasi kunci,” beber Kepala Sekretariat KPA Bali, A.A. Ngr. Patria Nugraha.
Kondisi ini membuat Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Dr. dr. I Nyoman Gede Anom, M.Kes., angkat bicara. Ia menegaskan, komitmen Pemprov Bali untuk mengeliminasi AIDS pada 2030 lewat prinsip Three Zero (nol infeksi baru, nol kematian, nol diskriminasi) tetap menjadi target utama.
”Baru empat bulan kita sudah menemukan 678 kasus. Ini nyata seperti fenomena gunung es, di mana masih sangat banyak kasus di luar sana yang belum terdeteksi secara medis,” ungkap Dr. Anom mewanti-wanti.
Jika dibiarkan, lanjut Anom, bukan tak mungkin epidemi yang saat ini masih terkonsentrasi di populasi kunci bisa meledak ke masyarakat umum. Apalagi dampaknya tak main-main, bisa merembet dan merusak tatanan sosial, ekonomi, hingga pendidikan di Bali.
Urgensi Hapus Stigma Negatif
Lantas, apa tantangan terberat saat ini? Jawabannya adalah stigma. Pandangan miring masyarakat kerap membuat kelompok berisiko ciut nyali untuk berinisiatif melakukan tes HIV secara sukarela.
”Stigma membuat upaya penemuan kasus baru menjadi sangat sulit. Padahal, ODHIV yang viral load-nya sudah tersupresi tidak akan menularkan virus. Mereka tetap bisa hidup normal selayaknya penderita hipertensi atau diabetes,” tegas Dr. Anom.
Untuk mendobrak rintangan itu, KPA Bali membekali para konselor dengan strategi mumpuni. Pertemuan ini menghadirkan dua pakar berpengalaman, yakni aktivis kesehatan reproduksi dr. Oka Negara serta Puji Astuti dari Klinik VCT Merpati RSUD Wangaya Denpasar.
Patria Nugraha menambahkan, ajang konsolidasi ini berfokus pada empat hal. Mulai dari penyegaran materi, penguatan rujukan antar-layanan kesehatan, bedah kendala di lapangan, hingga berbagi praktik terbaik guna mengerek mutu layanan tes VCT dan PITC.
Lewat sinergi ini, para konselor dari wilayah ‘merah’ penyumbang kasus terbesar seperti Denpasar, Badung, dan Buleleng diharapkan bisa menularkan jurus ampuh penemuan kasus ke daerah lain. Semuanya demi satu tujuan, yakni target Bali bebas AIDS di 2030 tak sekadar jadi angan-angan.*** (dre)








