Balihotnews.com | KARANGASEM – Bambu kini mulai dipandang lebih luas, tidak lagi sekadar tanaman yang identik dengan kebutuhan adat atau bahan kerajinan masyarakat Bali. Di tengah meningkatnya persoalan lingkungan dan perubahan pola pembangunan, bambu dinilai memiliki potensi besar sebagai solusi yang menyentuh berbagai sektor, mulai dari pelestarian budaya, ketahanan lingkungan hingga penguatan ekonomi masyarakat.
Gagasan tersebut diangkat dalam Samsara Bamboo Festival 2026 yang diselenggarakan oleh Samsara Living Museum bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia di Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Sabtu (23/5/2026).
Festival bertema Jagar Karana itu mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, serta masyarakat dalam satu ruang dialog guna memperkuat pemahaman terkait potensi bambu dari berbagai perspektif.
Co-Founder Samsara Living Museum, Ida Bagus Agung Gunarthawa mengatakan kegiatan tersebut lahir dari kebutuhan untuk kembali membangun hubungan yang seimbang antara pembangunan dan alam.
Menurutnya, bambu memiliki nilai yang dapat dilihat dari sedikitnya lima dimensi, yakni spiritual, budaya, sosial, lingkungan dan ekonomi.
“Kalau dilihat secara komprehensif dari berbagai perspektif, bambu ini memang luar biasa,” kata Gunarthawa.
Ia menjelaskan, Samsara Living Museum dikembangkan sebagai inisiatif berbasis budaya yang mencoba menghadirkan model pembangunan pada wilayah dengan berbagai tantangan.
Desa Jungutan dipilih karena memiliki karakteristik khusus, termasuk lokasinya yang berada sekitar 10 kilometer dari Gunung Agung yang masuk dalam kawasan rawan bencana.
“Kami mencoba melahirkan semacam prototipe atau permodelan bagaimana pengembangan potensi berbasis budaya ini bisa dilakukan dengan sangat baik, khususnya di daerah yang penuh tantangan,” ujarnya.
Bambu Dinilai Penting untuk Ketahanan Lingkungan Bali
Head of Program Yayasan Bambu Lingkungan Lestari, Nurul Firmansyah mengatakan bambu memiliki fungsi penting dalam restorasi lahan dan konservasi lingkungan.
Menurutnya, kemampuan bambu dalam menjaga ketersediaan air sangat relevan dengan kondisi Bali yang saat ini menghadapi sejumlah tantangan lingkungan.
“Bambu dalam satu rumpunnya bisa menyimpan 3.500 liter air. Ini sangat penting untuk memperkuat daya dukung lingkungan, terutama kalau konteks Bali, air menjadi sangat penting,” jelas Nurul.
Ia menyebut bambu bekerja seperti spons yang mampu menyerap, menyimpan, kemudian melepaskan air secara bertahap. Karena itu, memperluas kawasan bambu dinilai dapat membantu meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus menjadi bagian dari mitigasi bencana.
Selain itu, bambu juga disebut memiliki kontribusi terhadap upaya pengurangan dampak perubahan iklim. Berdasarkan studi Yayasan Bambu Lingkungan Lestari, satu hektare hutan bambu diperkirakan mampu menyimpan sekitar 110 ton CO2 ekuivalen.
“Memperkaya dan mengkonservasi bambu juga menjadi bagian untuk mengatasi persoalan perubahan iklim,” imbuhnya.
Nurul juga menyoroti kondisi Bali yang saat ini dinilai mengalami defisit bambu sehingga sebagian kebutuhan masih harus dipenuhi dari luar daerah.
Menurutnya, persoalan tersebut perlu dilihat secara menyeluruh dari hulu hingga hilir, termasuk memperkuat budidaya bambu agar tidak hanya dimanfaatkan, tetapi juga dibibitkan dan dipelihara.
“Harapannya ini menjadi ruang perjumpaan antar stakeholder. Ada masyarakat sipil, pemangku kebudayaan, pemangku ekonomi, akademisi hingga pengambil kebijakan, sehingga dapat menyusun langkah-langkah ke depan,” katanya.
Bambu Disebut Sudah Menjadi Bagian dari Identitas Budaya
Sementara itu, Direktur Warisan Budaya Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dr Agus Widyatmoko menilai bambu telah hadir dalam berbagai fase kehidupan masyarakat Indonesia sejak lama.
Menurutnya, pemanfaatan bambu tidak hanya sebatas kebutuhan sehari-hari, tetapi juga melekat pada tradisi serta perjalanan sosial masyarakat.
“Dari lahir sampai dewasa ini mengalami. Ketika lahir memotong ari-ari, kemudian ada tradisi tertentu, sampai kentongan untuk ronda, semuanya menggunakan bambu,” ungkap Agus.
Ia menambahkan, bambu juga menjadi bagian penting dari berbagai ekspresi budaya Indonesia. Salah satunya kesenian Jegog dari Jembrana yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia serta Angklung yang telah diakui sebagai Intangible Cultural Heritage UNESCO.
“Budaya bambu ini sungguh luar biasa dan mudah-mudahan festival bambu ini mendorong komunitas bambu tidak saja menjadi identitas budaya kita,” katanya.
Selain menghadirkan diskusi dan pertunjukan seni, festival tersebut juga menggelar Bambu Talk, Bambu Stage, Bambu Showcase, Bambu Market dan Bambu Movement.
Sejumlah kesenian berbasis bambu turut ditampilkan, mulai dari tek-tekan, gong suling, rindik hingga pertunjukan Jegog dari Kabupaten Jembrana.
Pada kesempatan yang sama, panitia juga menyerahkan hadiah Lomba Instalasi Bambu Samsara Festival 2026.
Juara ketiga diraih Derma Kreatif dengan hadiah Rp1,5 juta, juara kedua diraih Juana Kersy dengan hadiah Rp2,5 juta, sedangkan juara pertama diraih Yan Solo dengan hadiah Rp3,5 juta melalui karya instalasi bambu yang mendapat apresiasi dewan juri serta pengunjung festival.
Ke depan, penyelenggara berharap Samsara Bamboo Festival dapat digelar secara berkelanjutan dengan konsep boutique event yang menitikberatkan pada kualitas pengalaman serta dampak partisipasi.
“Jadi bukan event yang mengedepankan crowd atau seberapa banyak transaksi, tetapi seberapa dalam kita mengawal partisipan,” pungkas Gunarthawa. (drh)





