Balihotnews.com | MANGUPURA – Transformasi sistem pemasyarakatan masa kini kian bergeser pada upaya pemberdayaan. Tembok penjara tak lagi sekadar tempat penahanan, melainkan ruang inkubasi bagi warga binaan agar siap kembali dan berkontribusi di tengah masyarakat.
Sebagai langkah konkret, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kerobokan, Bali, mendatangkan 50 ekor bebek petelur pada Selasa (7/4/2026). Puluhan bebek ini dijadikan sarana praktik utama pelatihan peternakan bagi para narapidana sekaligus instrumen untuk memperkuat sektor ketahanan pangan.
Inovasi pembinaan ini selaras dengan 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) Tahun 2026. Melalui program tersebut, Lapas Kerobokan berupaya membekali narapidana dengan keterampilan produktif dan pembinaan kemandirian yang berkelanjutan.
Kepala Lapas (Kalapas) Kelas IIA Kerobokan, Hudi Ismono, menegaskan bahwa program ini dirancang agar selaras dengan kebutuhan dunia nyata. Warga binaan tidak hanya diajarkan cara memberi makan hewan, tetapi juga praktik bisnis secara komprehensif.
”Kami ingin warga binaan memiliki keahlian nyata. Bebek-bebek ini bukan sekadar hewan ternak, melainkan media pembelajaran tata kelola ekonomi yang mandiri,” ujar Hudi.
Lebih lanjut, Hudi menaruh harapan besar agar ketekunan dalam merawat bebek petelur dan mengelola hasil panennya dapat menjadi bekal penghidupan bagi warga binaan setelah menyelesaikan masa pidana kelak.
Dihubungi secara terpisah, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Bali, Decky Nurmansyah, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif Lapas Kerobokan. Ia menilai, program peternakan tersebut merupakan wujud nyata dari implementasi fungsi pemasyarakatan yang humanis sekaligus berdaya guna.
”Melalui ketekunan dalam merawat kehidupan (hewan ternak), warga binaan diajak untuk merajut kembali harapan dan martabat. Memastikan bahwa tembok jeruji bukan penghalang bagi tumbuhnya semangat baru yang penuh optimisme,” tandas Decky.*** (BHN/RLS)





