Menemukan Bebas dalam Diam, Kisah Syahdu ‘Bali Menyepi’ dari Lapas Kerobokan

Suasana konferensi pers perilisan single "Bali Menyepi" oleh grup band Antrabez di Lapas Kelas IIA Kerobokan, Senin (16/3/2026). Lagu ini menjadi persembahan reflektif dari balik jeruji jelang Hari Raya Nyepi. (Balihotnews/dre)
Suasana konferensi pers perilisan single "Bali Menyepi" oleh grup band Antrabez di Lapas Kelas IIA Kerobokan, Senin (16/3/2026). Lagu ini menjadi persembahan reflektif dari balik jeruji jelang Hari Raya Nyepi. (Balihotnews/dre)

Balihotnews.com | DENPASAR – Jeruji besi mungkin membatasi ruang gerak, tetapi tidak dengan kebebasan jiwa dan kreativitas. Menyambut heningnya Hari Raya Nyepi, warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kerobokan, menemukan cara tersendiri untuk merengkuh kedamaian.

​Melalui grup band Antrabez, mereka melahirkan sebuah karya musik syahdu bertajuk ‘Bali Menyepi’ yang diluncurkan di Lapas Kerobokan, Denpasar, Senin (16/3/2026).

Penulis lagu ‘Bali Menyepi’, Octav Sicilia, mengatakan lagu ini bukan sekadar alunan nada, melainkan cerminan kerinduan mendalam akan ruang spiritual yang sejenak terlepas dari lelahnya hiruk-pikuk duniawi.

​Ia pun menyebut bahwa karya ini lahir dari sebuah perenungan panjang di balik tembok penjara. Baginya, Nyepi adalah momen kembalinya manusia pada kesunyian dan keselarasan dengan semesta.

Berita Terkait:  Komdigi Tekankan Perlindungan Karya Jurnalistik di Era AI

“Melalui lagu ini, Antrabez mencoba menangkap momen langka ketika alam kembali bernapas tanpa beban ego manusia,” ungkap Octav.

Lirik ‘Bali Menyepi’ disajikan bak sebuah kontemplasi. Lagu ini memotret kontras yang tajam antara dunia yang kerap tersiksa oleh ego, dengan wajah Bali yang perlahan menemukan kembali kesunyian sucinya.

Potongan lirik, “Hari ini Baliku bernafas bebas tanpa polusimu,” mengalun sebagai simbol pelepasan dari kebisingan fisik maupun batin.

Sementara itu, repetisi kalimat “Baliku menyepi, Baliku sendiri” tak lantas dimaknai sebagai kesepian. Kalimat itu justru bermakna kemandirian spiritual, di mana alam dan manusia saling mengamati dalam diam.

Menariknya, Antrabez mampu meresapi nilai-nilai suci Catur Brata Penyepian, yakni Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang), dan Amati Lelungan (tidak bepergian), ke dalam bait-bait liriknya. Sebuah ajakan halus untuk berhenti sejenak dan menyelaraskan detak jantung dengan ritme alam semesta.

Berita Terkait:  KMHDI: Keadilan tak boleh Menunggu Viral, Selamat Datang Kapolri Suyudi Ario Seto

​Ruang Pulih di Balik Jeruji

Kelahiran karya ini tak lepas dari dukungan penuh pihak lembaga pemasyarakatan. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) Bali, Decky Nurmansyah, memberikan apresiasi yang mendalam.

Ia meyakini, benih kreativitas justru bisa tumbuh subur ketika warga binaan diberi ruang ekspresi dan pembinaan yang memanusiakan.

​”Harmonisasi lagu, notasi, dan ekspresi dari ‘Bali Menyepi’ adalah hasil dari sebuah kontemplasi. Karya ini menunjukkan bahwa dari proses pembinaan bisa lahir kreativitas yang sarat nilai spiritual dan kemanusiaan,” tutur Decky.

​Ia menegaskan, hadirnya ruang-ruang kreatif di dalam lapas adalah bukti nyata kehadiran negara. Bukan sekadar menghukum, tetapi mendampingi dan memulihkan jalan hidup warga binaan agar siap menatap masa depan.

Berita Terkait:  Cegah Krisis Air Bali, Wamenpar Ni Luh Puspa Tanam 12.500 Bambu di Lempuyang

Lagu ‘Bali Menyepi’ sendiri telah mengudara di berbagai platform musik digital sejak 13 Maret 2026.

Sebagai informasi, karya ini dihidupkan oleh formasi I Wayan Kariasa (vokal), Rian Paulus Situmorang (gitar), Renon Ferdian (piano), Shofan Kusuma Firdaus (bass & synth), Fendi Eko Prasetyo (perkusi & drum), serta Putu Eka Wira (vokal & suling).*** (dre)

 

​

Berita Terkini