InJourney Targetkan Tekan Emisi 4.000 Ton CO₂e pada 2026 Perkuat Pariwisata Berkelanjutan

Foto: Holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney memasuki tahun keempat kiprahnya di Indonesia memperkuat transformasi berkelanjutan di sektor aviasi dan pariwisata nasional. (Balihotnews/ist).

Balihotnews.com | BADUNG – Holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney memasuki tahun keempat kiprahnya di Indonesia dengan memperkuat transformasi berkelanjutan di sektor aviasi dan pariwisata nasional.

Sejumlah inisiatif strategis lintas portofolio terus dijalankan, mulai dari transformasi bandara, peningkatan konektivitas udara hingga pengembangan destinasi unggulan berbasis budaya, edukasi, dan kesehatan.

Berbagai proyek strategis tersebut meliputi pengembangan kawasan Borobudur, Taman Mini Indonesia Indah, International Medical Tourism di KEK Sanur serta destinasi pariwisata The Mandalika dan The Golo Mori. Melalui Sarinah, InJourney juga konsisten membawa produk dan karya terbaik Indonesia ke pasar global.

Rangkaian transformasi ini mengantarkan InJourney menjadi perusahaan ke-43 terbesar di Indonesia.
Capaian tersebut memperkuat peran InJourney sebagai katalis pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus agen pembangunan.

Perusahaan menjalankan peran ganda secara seimbang sebagai pencipta nilai dan penggerak pembangunan melalui transformasi yang tidak hanya berorientasi pada kinerja korporasi, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi sektor aviasi, pariwisata, dan kesejahteraan masyarakat.
Memasuki tahun keempat perjalanan, InJourney menempatkan keberlanjutan sebagai arah utama transformasi.

Berita Terkait:  Pemkab Klungkung Rancang Proyek KPBU APJ dan Preservasi Jalan, Targetkan Beroperasi 2028

Mengusung tema “InJourney 4 Tahun Bersama Berkarya, Lestarikan Indonesia”, keberlanjutan dijadikan kerangka berpikir dan bertindak dalam setiap inisiatif jangka panjang, guna mewujudkan pariwisata sebagai investasi lintas generasi yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan sosial.

Komitmen tersebut diperkuat melalui visi “Sustainable Tourism Economy and Creating Impact for Communities”, yang menempatkan penguatan komunitas lokal dan pelestarian lingkungan sebagai bagian integral dari strategi bisnis jangka panjang.

Direktur SDM dan Digital InJourney, Herdy Harman, menegaskan bahwa keberlanjutan dan tanggung jawab berbisnis merupakan fondasi utama transformasi pariwisata nasional.

“Komitmen kami wujudkan melalui green initiative program di lingkungan InJourney Group, yang merupakan sebuah inisiatif untuk menciptakan ekosistem pariwisata yang berkelanjutan. Inisiatif ini kami rancang untuk menghasilkan dampak yang dapat diukur, konsisten, dan berkelanjutan, sejalan dengan agenda transformasi InJourney dalam membangun ekosistem aviasi dan pariwisata yang ramah lingkungan,” kata Herdy.

Dari aspek lingkungan sebagai bagian dari penerapan ESG, InJourney menargetkan penurunan emisi karbon sebesar 4.000 ton CO₂e pada 2026. Target ini menjadi langkah awal transformasi menuju operasional yang lebih hijau dan bertanggung jawab, sekaligus mendukung pencapaian target Net Zero Emission Pemerintah Indonesia.

Berita Terkait:  Jelang Tumpek Wayang, Pemprov Bali Gelar Aksi Bersih Sampah Serentak, Kumpulkan 3,56 Ton Sampah di Mangrove Pesanggaran

Komitmen keberlanjutan tersebut juga diterapkan di kawasan The Nusa Dua, Bali, yang dikelola oleh anak usaha InJourney, InJourney Tourism Development Corporation (ITDC). Direktur Operasi ITDC, Troy Warokka, menjelaskan bahwa penerapan inisiatif hijau menjadi fondasi operasional kawasan.

“Penerapan utilitas hijau seperti Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), Instalasii Pengelolaan Air Limbah (IPAL), Waste Management terintegrasi, dan Reclaim Water telah memastikan bahwa aktivitas pariwisata berjalan efisien, aman, dan tetap menjaga daya dukung lingkungan. Bagi ITDC, keberlanjutan bukan hanya agenda, tetapi fondasi operasional kawasan untuk memastikan The Nusa Dua tetap menjadi destinasi premium yang resilien dan berkelanjutan bagi generasi mendatang,” tambahnya.

Selama tiga bulan terakhir, The Nusa Dua telah mengoperasikan fasilitas Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) yang mampu menghasilkan 331.382 meter kubik air bersih. Saat beroperasi penuh, fasilitas ini memiliki kapasitas produksi hingga 1.314.000 meter kubik air bersih per tahun. Teknologi ini memanfaatkan air laut sebagai sumber air alternatif, sehingga mengurangi ketergantungan pada air tanah dan meningkatkan ketahanan air kawasan di tengah tantangan perubahan iklim.

Berita Terkait:  Bupati Satria Sambut Menteri LH di TOSS Center, Klungkung Siap Jadi Percontohan Pengelolaan Sampah Nasional

Penerapan SWRO juga mencatatkan pencapaian penting bagi ITDC Nusantara Utilitas, sebagai entitas usaha di bawah ITDC, yang menjadi perusahaan pertama di Indonesia memperoleh izin resmi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mengolah air laut menjadi air layak konsumsi.

Direktur Utama ITDC Nusantara Utilitas, Anak Agung Istri Ratna Dewi, menyampaikan bahwa penerapan teknologi SWRO merupakan langkah konkret dalam menjaga keberlanjutan kawasan.

“Dengan teknologi yang aman dan terukur ini, kami memastikan pasokan air bersih yang stabil bagi seluruh tenant dan wisatawan tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan. Pengakuan KKP sebagai perusahaan pertama di Indonesia yang memperoleh izin resmi pengolahan air laut menjadi air layak konsumsi menjadi bukti bahwa inovasi hijau dapat berjalan sejalan dengan efisiensi dan standar layanan yang tinggi,” pungkasnya. (red).

 

Berita Terkini