Bali Diterpa Banjir saat Pagerwesi Perlu Dibenahi Kearifan Tata Kelola Air

Foto: Tim Gabungan Basarnas, BPBD, Kepolisian dan TNI berjibaku mengevakuasi ratusan warga sejak dini hari, Rabu, 10 September 2025. (Balihotnews/ist).

Balihotnews.com |  DENPASAR – Bali diguyur hujan deras yang menimbulkan banjir di sejumlah titik, bertepatan dengan Hari Raya Pagewersi, Buda Kliwon Sinta, Rabu, 10 September 2025.

Akibatnya, sejumlah bangunan ambruk di tepi sungai, pasar tergenang, kendaraan hanyut hingga jembatan jebol diterjang banjir. Para akademisi dan budayawan memberikan perhatian serius atas fenomena banjir.

Guru Besar UHN I Gusti Bagus Sugriwa Bidang Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata Spiritual dan Religious, Prof I Gede Sutarya menilai bencana banjir sejatinya tidak seharusnya terjadi di Bali yang sejak lama dikenal dengan sistem tata kelola airnya.

Ia menyinggung warisan leluhur yang sudah tercatat dalam lontar, yang menekankan keseimbangan dalam menjaga aliran sungai dan sempadannya.

“Jika merujuk kebijaksanaan ini maka Bali tak seharusnya banjir. Sempadan sungai misalnya, dalam lontar jelas dilarang dipakai membangun, apalagi bermukim. Bahkan kayu pinggir sungai pun tidak boleh diambil untuk bangunan,” terangnya.

Menurutnya, Raja Airlangga di Jawa pernah belajar ke Bali untuk membangun sistem irigasi. Kebijakan dalam teks lontar diwariskan melalui tatwa, susila, dan acara, yang semestinya dijalankan untuk menjaga keseimbangan. Karena itu, jika kini banjir masih melanda, berarti ada masalah dalam tatwa, susila, dan acara masyarakat Bali sendiri.

“Keadaan bencana ini merupakan pertanyaan moral kita sebagai orang Bali. Apakah benar sudah berbudaya Bali,” ujarnya.

Ia menekankan, jawaban bukanlah sekadar berupa Perda atau Surat Edaran (SE), melainkan aksi nyata menertibkan bangunan di sempadan sungai dan memperbesar saluran air.

Sementara itu, Budayawan dan Pembaca Manuskrip Lontar Bali dan Jawa Kuno, Sugi Lanus, menyebutkan banjir yang terjadi merupakan bukti bahwa “Perarem Telajakan-Teba” aturan adat yang melarang membangun di tepi sungai maupun telajakan depan rumah sudah diabaikan.

Berita Terkait:  Rumah Tempat Pemotongan Ayam di Denpasar Terbakar, Kerugian Capai Rp300 Juta

Dalam lontar disebutkan terdapat larangan keras membangun di kawasan Karang Tenget, Karang Suwung, Telajakan, Hulun Pangkung hingga Rejeng Tukad. Aturan tersebut lahir dari pengalaman traumatis leluhur dan ditulis dalam bahasa mitos maupun mistis. Karena bahasanya mitos dan mistis, narasi dalam lontar seakan tidak sains atau historis, dianggap sebatas tahayul.

Meski begitu, sesungguhnya lontar memuat data historis tentang tata ruang dan mitigasi bencana.

Salah satunya adalah larangan membangun di teba tukad atau sempadan belakang rumah berbatasan dengan tukad/sungai atau pangkung atau jurang. Bahkan telajakan atau sempadan depan rumah yang menjadi batas jalan dan rumah dilarang dibangun dan harus kosong karena berfungsi sebagai paritan jalan dan rumah, menjadi jelinjing dan telabah yang secara tradisional sebagai kanal air.

“Jadi, jalan depan rumah dengan telajakan berfungsi sebagai sungai dadakan jika terjadi hujan dengan volume dan waktu tidak terduga,” terangnya, seraya menerangkan telajakan dan teba dilarang dibangun karena bertujuan untuk menjaga fungsi alami sebagai sungai, mencegah bencana seperti banjir dan longsor serta melindungi ekosistem dan kesehatan masyarakat.

Disebutkan, bahwa Teba dan Sempadan Sungai adalah zona penyangga penting yang harus bebas dari bangunan untuk menjamin aliran air yang lancar mencegah kerusakan lingkungan serta berpotensi kerugian harta dan jiwa.

Maka dari itu, banjir pada malam masuk Hari Pagewersi adalah ajakan kembali mempertimbangkan mengarus-utamakan pembacaan lontar sebagai pertimbangan dalam membuat regulasi modern. Jika sudah kesesuaian dengan regulasi modern yang telah dibuat, maka penegakanan hukumnya harus serius.

Terlebih lagi, banjir yang menimpa Bali bukan sekadar soal alam, melainkan juga soal budaya dan moral. Bahwa ketika aturan leluhur diabaikan dan hanya berhenti pada wacana, maka bencana menjadi jawaban nyata dari kelalaian itu.

Berita Terkait:  Hari ke Tujuh Nihil, Tim SAR Gabungan Hentikan Pencarian Gede Adimas

Patut diketahui, bahwa hujan deras yang mengguyur Bali membuat sebagian besar wilayah Denpasar lumpuh terendam banjir. Ketinggian air yang di sejumlah titik mencapai setinggi truk membuat tim SAR kesulitan bergerak.

Bahkan, sejak Rabu dini hari, 10 September 2025, Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Denpasar terus menerima laporan permintaan bantuan evakuasi.

Sejak dini hari permintaan pertolongan sudah datang. Pukul 05.20 WITA, Tim Basarnas Denpasar memberangkatkan 14 personel untuk melaksanakan operasi evakuasi. Delapan orang diarahkan ke Kampung Jawa, Jalan Ahmad Yani, sementara enam lainnya menuju Pulau Biak, Taman Pancing. Namun, perjalanan tidak mudah karena jalan-jalan utama terendam dalam.

Kepala Basarnas Denpasar, I Nyoman Sidakarya mengatakan pergerakan tim sempat terhambat karena banjir menutup jalur.

“Banyak akses tidak bisa dilintasi rescue truck. Tapi personel akhirnya tiba di lokasi dan langsung melakukan evakuasi,” urainya.

Hingga pukul 11.59 WITA, lanjutnya data yang dihimpun menunjukkan ratusan warga telah diselamatkan dari genangan. Di Jalan Pura Demak saja, tim mengevakuasi 53 orang dewasa, 17 anak-anak, dan 11 bayi. Di Pulau Misol, tujuh orang berhasil dibawa ke tempat aman, termasuk dua balita. Sementara di Kampung Jawa, tiga orang dievakuasi. Informasi dari Kelian Banjar Pulau Biak I menyebutkan seluruh warganya sudah diamankan di balai banjar setempat.

Sementara itu, Kepala Kasi Operasi dan Kesiapsiagaan SAR Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, Juni Antara bersama tim melaksanakan upaya evakuasi di Tengku Umar.

“Sampai dengan saat ini, kami masih terus mengupdate data dengan BPBD, terkait permintaan evakuasi atau pun data korban yang sudah terevakuasi, sehingga keseluruhannya bisa tersisir dan data pun tidak simpang siur,” kata Juni Antara.

Berita Terkait:  Panel Listrik Pusat Kebugaran di Denpasar Terbakar, 10 Treadmill Rusak

Disisi lain, informasi hingga 14.08 WITA, Tim SAR melaporkan tragedi juga terjadi di kawasan Kumbasari. Banjir menyebabkan runtuhnya bangunan toko kain, menimbun sembilan orang.

Dari jumlah itu, enam korban ditemukan, empat diantaranya meninggal dunia. Mereka adalah Nadira dan anaknya Maimunah dari Toko Kain Centrum, serta Tasnim dan Parwa Husein dari Toko Kain Tasnim. Dua lainnya, Muis dan anaknya Ousay, berhasil selamat. Tiga pedagang lain ikut menjadi korban, satu diantaranya, Ni Wayan Lenyot, sudah ditemukan meninggal, sementara dua masih dalam pencarian.

Tak hanya di Denpasar, operasi penyelamatan Tim SAR juga dilakukan di Kabupaten Jembrana. Tepatnya di Desa Samblong, Kelurahan Sangkar Agung, sebanyak 31 warga berhasil dievakuasi terdiri atas 21 dewasa dan 10 anak-anak.

Operasi besar ini melibatkan unsur SAR Gabungan, antara lain Yonif 741/23 dengan 40 personel dan empat rubber boat, Polair Polda Bali dengan 18 personel, satu rubber boat, dan satu kano, Sabhara Polda Bali dengan 15 personel dan tiga kano, Damkar Denpasar, BPBD Kota Denpasar, serta Kodim 1611/Badung.

Meski kekuatan gabungan sudah dikerahkan, Sidakarya mengakui jumlah personel dan peralatan masih terbatas.

“Kami kekurangan rubber boat untuk bisa meng-cover seluruh daerah banjir. Koordinasi dengan unsur SAR lain terus dilakukan,” paparnya.

Hujan deras masih mengguyur hingga siang hari, membuat situasi semakin riskan. Sidakarya menghimbau warga di wilayah rawan.

“Tetaplah di tempat aman. Jika ada tanda bahaya, segera lakukan evakuasi mandiri sebelum kondisinya semakin parah,” tutupnya. (red).

 

Berita Terkini