Balihotnews.com | DENPASAR – Sebuah eksperimen seni rupa dan pertunjukan kontemporer bertajuk Avidya digelar di TAT Space, Denpasar, Sabtu (12/7/2025). Diselenggarakan oleh Komunitas Room 8, acara ini bukan sekadar peristiwa artistik, melainkan usaha kolektif untuk membongkar batasan antara seni rupa dan seni pertunjukan, sekaligus mempertanyakan ulang makna mengetahui dan tidak mengetahui dalam konteks penciptaan seni.
Mengambil inspirasi dari konsep filosofis “Avidya”, ketidaktahuan dalam bahasa Sansekerta, acara ini membingkai seni bukan sebagai penyampai kebenaran tunggal, melainkan ruang pertanyaan yang terus bergerak.
Avidya, dalam pandangan Komunitas Room 8, justru menjadi pemantik pencarian makna dan pengetahuan, mendorong setiap seniman untuk keluar dari zona nyamannya.
“Kalau kita menyadari bahwa banyak hal yang tidak kita tahu, maka kita sudah masuk pada sebuah konsep avidya. Itu membuka ruang bagi kita untuk belajar dan mencipta secara otentik,” ujar I Gede Jaya Putra, M.Sn, dosen Fakultas Seni Rupa ISI Bali yang turut menjadi inisiator.
Melampaui Batas: Ketika Seni Rupa Tak Lagi Hanya Dipamerkan
Berbeda dari pameran konvensional, Avidya tidak menampilkan karya rupa di dinding galeri. Sebaliknya, karya seni disajikan sebagai pertunjukan hidup yang mengalir, improvisatif, dan penuh kemungkinan.
“Sebenarnya kita sendiri tidak tahu apakah ini pameran atau pertunjukan. Justru dari ketidaktahuan itu kita ingin merumuskan posisi baru dalam medan seni rupa Bali,” ujar Jaya.
Lima kelompok dengan latar belakang lintas disiplin menampilkan kolaborasi lukisan, puisi, musik, tari, desain, hingga seni instalasi. Dari sinilah, konsep mempertunjukkan seni rupa dicoba dipertaruhkan.

Ragam Eksplorasi dari Lima Kelompok
Kelompok satu, yang terdiri dari I Wayan Gede Budayana, M.Sn yang juga dosen Fakultas Seni Rupa IDB Bali, bersama Tuki Grey (Musisi dan performer), dan Edy Wei (Desainer Komunikasi Visual) menampilkan karya instalasi dalam bentuk “Jamming”. Diiringi live bass dan sound efek, bunyi-bunyian disajikan, kemudian direspon kembali melalui visual dan elemen rupa yang ditambahkan secara langsung saat pertunjukan dengan sebutan “Jamming”.
Kelompok dua diwakili oleh Ni Kadek Novi Sumariani, S.Ds., M.Ds, dosen Fakultas Desain Institut Desain dan Bisnis (IDB) Bali. Bersama lima seniman lainnya, mereka menolak memainkan peran masing-masing. Seorang perupa membaca puisi, desainer fashion melukis, dan penyanyi bermain gitar. Mereka menyajikan karya dalam tiga fase yaitu anak-anak, remaja, dan dewasa, menggunakan media kain sebagai simbol kehidupan yang terus berkembang.
Kelompok tiga diketuai oleh Ayu Bindhu Dita Agustini dari Program Studi Seni Murni ISI Bali. Kelompok ini menampilkan karya bertema “Kelahiran Manusia” dengan simbol pohon dan topeng sebagai elemen utama. Tiga penari, termasuk dirinya berasal dari seni rupa, seni pertunjukan, dan koreografi, menyatukan elemen rupa dan gerak dalam satu koreografi yang merespon perjalanan manusia.
Kelompok empat diwakili oleh I Gede Jaya Putra, M.Sn, bersama Agung Wijaya (Fotografi), Jyoti (Teater), dan Yedija (Musik). Mereka mempersembahkan karya “Plastik Sunyi Bernyanyi” yang menggabungkan puisi, nyanyian, fotografi, dan objek instalasi dari sampah plastik sebagai simbol perayaan kehidupan dan eksistensi manusia yang ditinggalkan dalam bentuk sampah.
Sementara itu, kelompok lima yang hanya terdiri dari satu seniman, I Gede Adi Surya, M.Sn, justru memanfaatkan ketidakberkaitan sebagai ide. Instalasi dari kain-kain bekas karyanya sebelumnya, yang awalnya tidak relevan satu sama lain, dikolaborasikan dalam ruang yang absurd. “Saya ingin tahu, apakah dari ketidakterkaitan ini bisa muncul benang merah?” ujarnya.
Menolak Stagnasi: Ruang untuk Lahirnya Wacana Baru
Selain menjadi ruang eksplorasi, Avidya juga menjadi bentuk perlawanan terhadap pola-pola berkesenian yang berulang. “Saya pribadi menolak stagnasi. Ingin sensasi baru, wacana baru, bentuk pertemuan baru,” ujar Budayana.
Dari acara ini, lahir pula gagasan bahwa Avidya bukan sekadar panggung satu malam. Dalam tiga minggu mendatang, mereka akan menyelenggarakan sarasehan bertema seni rupa pertunjukan, menghadirkan para seniman dan pemikir seni untuk merumuskan hasil eksperimen ini dalam bentuk post-catalog, sebuah dokumen reflektif untuk memperkaya wacana seni di Bali.
Komunitas atau Gerakan Baru?
Meski masih belum memiliki bentuk resmi, Komunitas Room 8 telah memperlihatkan potensi menjadi sebuah gerakan seni yang solid. Terbentuk secara organik, dari mulut ke mulut, mereka percaya bahwa pertemuan yang tidak dipaksakan lebih otentik dan produktif.
“Kita enggak tahu ini akan jadi komunitas atau tidak. Tapi kami ingin terus berjalan bersama. Menjelajahi ketidaktahuan. Karena dari sanalah mungkin justru lahir pengetahuan yang paling jujur,” tutup Novi. (dir)





