Balihotnews.com | DENPASAR – Kepemimpinan partai politik di Bali perlahan mulai bergeser ke tangan generasi muda. Gede Narayana Putra Mahardika, pemuda yang baru berusia 25 tahun, resmi didapuk sebagai Ketua DPC Partai Hanura Kabupaten Klungkung.
Pelantikan Gede Narayana ini dilakukan serentak bersama pengurus DPD dan DPC Partai Hanura se-Bali di Harris Hotel & Conventions, Denpasar, Minggu (2/8/2026).
Sebagai representasi Generasi Z, sarjana hukum lulusan Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung ini siap membawa angin segar. Keputusannya terjun langsung ke gelanggang politik ternyata sudah dipupuk sejak lama.
”Saya bergabung dengan Hanura murni dari niat sendiri. Saat di kampus saya sudah suka berpolitik, ditambah latar belakang ilmu hukum. Saya pikir, ini saatnya terjun langsung ke dunia politik yang lebih besar,” ujar Gede Narayana usai pelantikan.
Bidik 4 Kursi, Perkuat Akar Rumput
Tugas berat menanti pemuda asal Desa Kamasan, Klungkung ini. Saat ini, Partai Hanura baru memiliki tiga kursi di DPRD Klungkung yang tersebar di Kecamatan Klungkung, Banjarangkan, dan Nusa Penida.
Target terdekat Narayana tak main-main, yakni menambah amunisi menjadi total empat kursi untuk parlemen ‘Bumi Serombotan’.
”Minimal kita punya satu kursi perwakilan di setiap kecamatan. Saat ini di Kecamatan Dawan belum ada. Jadi target total ke depan adalah empat kursi,” tegas mantan aktivis Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) ini.
Lantas, bagaimana strategi sang ketua muda ini mendobrak dominasi ‘Partai Merah’ (PDIP) yang mengakar kuat di Klungkung?
Narayana memilih langkah taktis alih-alih konfrontatif. Ia sadar, sebagai partai yang sedang berkembang, Hanura butuh strategi membumi untuk merebut hati rakyat.
”Kami tidak mendobrak secara agresif. Kami gunakan pendekatan personal, perlahan dari akar rumput. Kami cari tahu kendala masyarakat di bawah, lalu masalah itu kami bawa keluar sebagai bentuk advokasi,” jelas Narayana.
Memimpin di usia 25 tahun membuat Narayana dihadapkan pada tantangan mengelola ritme kerja dengan para kader senior. Perbedaan pola pikir antargenerasi di internal partai tak bisa dihindari.
”Perdebatan internal itu biasa. Saya dari Gen Z, kader lain ada Milenial dan generasi sebelumnya. Tapi dari beda sudut pandang itu kita rangkum ide-idenya untuk menentukan prioritas bersama,” ungkapnya bijak.
Fokus utamanya saat ini adalah menumbuhkan bibit kader muda di Klungkung dan memperkuat konsolidasi partai.
Menariknya, meski memegang tampuk kepemimpinan tertinggi di tingkat kabupaten, Narayana justru mengesampingkan ego pribadinya. Ia mengaku belum memikirkan rencana untuk maju sebagai Calon Legislatif (Nyaleg) dalam waktu dekat.
”Untuk sementara ini belum. Saya ingin fokus belajar dan memahami sistematika politik di Klungkung dulu. Bicara nyaleg rasanya masih terlalu jauh,” pungkas putra dari politisi senior Ni Putu Sri Handayani tersebut.*** (dre)





