*Menjaga Aura Pulau Dewata Melalui Haluan 100 Tahun Bali Era Bali Berbasis Visi Bangun Sat Kerthi Loka Bali
Balihotnews com l DENPASAR- Transisi menuju energi bersih di Provinsi Bali bukan sekadar formalitas untuk memenuhi regulasi pemerintah pusat, melainkan sebuah tanggung jawab moral yang bersumber dari kearifan lokal leluhur.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Bali, Wayan Koster saat memberikan welcome speech, sekaligus menjadi panelis dalam acara Indonesia Solar Summit (ISS) 2026 yang digelar di Bali Beach Convention Center, Sanur, Bali, pada Selasa (14/7/2026).
Menurut Koster, blueprint “Haluan Bali 100 Tahun” (2025–2125) yang berbasis filosofi Nangun Sat Kerthi Loka Bali menolak ketergantungan energi dari luar. Visi ini memosisikan manusia dan alam sebagai satu kesatuan ideologis yang tidak terpisahkan, di mana menjaga alam dipandang sebagai perintah leluhur, bukan sekadar aturan top-down.
Filosofi Nangun Sat Kerthi Loka Bali mencakup enam sumber utama kesejahteraan (Sat Kerthi), yaitu Atma Kerthi (jiwa), Segara Kerthi (laut), Danu Kerthi (air), Wana Kerthi (tumbuh-tumbuhan), Jana Kerthi (manusia), dan Jagat Kerthi (alam semesta).
Dari dasar inilah lahir 14 arah strategis perlindungan alam Bali, mulai dari menjaga kesucian gunung-gunung sakral seperti Gunung Agung dan Gunung Batur, mewujudkan kedaulatan pangan organik, hingga mencapai kemandirian energi bersih.
“Manusia adalah alam itu sendiri, kita harus seirama dengan alam. Kebijakan Bali Mandiri Energi ini adalah kearifan lokal warisan leluhur, natural original, bukan sekadar menuruti aturan di atas. Pemimpin harus bertindak nyata memproteksi udara dan air tanpa harus menunggu digugah aturan pusat,” ujar Koster.
Koster menegaskan, dengan luas wilayah Bali yang relatif kecil (5.590 kilometer persegi) dan terus menyusut akibat abrasi pantai selatan, pengelolaan lingkungan harus dilakukan secara presisi. “Udara dan air bersih adalah hak dasar kehidupan yang wajib diproteksi oleh seorang pemimpin, ” tegas Koster. (Bhn)







