Balihotnews.com | DENPASAR – Komunitas seni Jongsarad sukses menutup rangkaian kegiatan seni bulan Mei 2026 lewat pameran memukau bertajuk Arka Umbara: Journey Through The New Dawn. Bertempat di TAT Art Space, Denpasar, pameran ini menjadi ajang refleksi perjalanan dan transformasi para seniman muda Bali.
Digelar sejak 9 hingga 29 Mei 2026, pameran ini bukan sekadar unjuk karya. Selama hampir tiga pekan, Arka Umbara disulap menjadi ruang bertemunya ragam kisah hidup, kegagalan, dan pertumbuhan yang apik diterjemahkan ke dalam bahasa visual.
Para perupa muda ini mengajak publik memaknai perubahan. Pesan utamanya jelas, yakni, perubahan bukanlah sekadar garis akhir, melainkan bagian penting dari perjalanan hidup itu sendiri.
Dobrakan Baru Lewat Kolaborasi
Ketua Panitia sekaligus seniman peserta, Tridana Putra, menyebut Arka Umbara sebagai tonggak sejarah baru bagi Jongsarad. Sebab, ada proses kreatif berbeda yang tak pernah dilakukan di pameran-pameran sebelumnya.
Untuk perdana kalinya, Jongsarad menggandeng Luar Kotak Studio. Kolaborasi ini melahirkan program Danu Umbara, sebuah rangkaian kegiatan komprehensif mulai dari eco print workshop, menggambar dengan arang (charcoal), digital painting, hingga pemutaran film.
Menariknya, sesi kreatif tersebut digelar di Buyan’s Corner, sebuah area glamping syahdu di tepi Danau Buyan.
”Kegiatan ini kami sebut Danu Umbara, yang melibatkan delapan seniman peserta pameran dan sekitar 25 orang secara keseluruhan,” ungkap Tridana, Rabu (3/6/2026).
Energi Kuda Api dalam Keberagaman Karya
Tahun Kuda Api menjadi inspirasi utama sekaligus benang merah pameran ini. Simbol tersebut dimaknai sebagai energi, keberanian, pergerakan, serta transformasi yang mendorong seseorang melangkah menuju fase baru.
Meski punya tema besar, Tridana menegaskan kekuatan utama Arka Umbara justru ada pada keberagaman pengalaman personal para perupa. Karya yang dipamerkan pun bervariasi, meliputi lukisan, patung, instalasi, hingga film.
”Ada yang melakukan perjalanan ke Yogyakarta, ada yang baru menikah, ada pula yang menjelajahi tempat-tempat lain. Jadi, karya di Arka Umbara benar-benar refleksi dari beragam titik hidup, bukan satu pengalaman seragam,” jelasnya.
Semangat Kuda Api ini tervisualisasi dengan berbagai gaya. Beberapa seniman menampilkan kuda secara gamblang sebagai lambang kebebasan, sementara yang lain memilih jalur metaforis.
”Secara keseluruhan, narasi yang dibawa setiap karya bergerak ke arah yang sama, yaitu eskalasi, optimisme, nostalgia, dan semangat membara. Ada nada yang ascending (naik),” imbuh Tridana. “Ada pula yang menghadirkan matahari dan api. Keduanya sama-sama memancarkan energi, cahaya, dan transformasi yang menjadi jiwa tema pameran ini.”
Pemantik Ekosistem Seni Rupa Bali
Melalui Arka Umbara, Jongsarad tak sekadar menyajikan estetika visual, tapi juga menaruh harapan besar bagi ekosistem seni rupa di Pulau Dewata.
Tridana berharap manuver ini bisa memantik semangat anak muda lain untuk berani membentuk komunitas seni mereka sendiri dan menghadirkan warna baru.
”Ekosistem seni rupa muda di Bali akan tumbuh dari munculnya banyak grup seni baru dengan warna dan sudut pandang berbeda. Kami juga berharap kolaborasi lintas komunitas makin lumrah, karena justru di pertemuan itulah ide-ide segar lahir,” pungkasnya.
Sebagai informasi, pameran Arka Umbara memamerkan karya dari belasan seniman berbakat. Mereka di antaranya adalah Anik Argianti, Arsaiga, Aristya Purnama, Candra Astuti, Deta Artista, Giri Arnaga, I Wayan Ady Surya Pratama, Karin Puspitasari, Ni Kadek Novi Sumariyani, Rini Widariyanti, Sakde Oka, Teratai Api, Tridanapvtera, dan Ugi Gayali.*** (dre)





