Balihotnews.com | DENPASAR – Bali, sejak dijajakan tahun 1920-an oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda sebagai The Last Paradise, kini bergumul di tepian jurang yang jika meleset sedikit bisa saja menjadi The Lost Paradise.
Salah satu indikatornya dimulai dari video berformat vertikal berdurasi 15 detik yang “menelanjangi” Bali dalam tumpukan sampah. Konten video kiriman wisatawan asing yang merekam tumpukan sampah itu, beradu cepat dengan algoritma, memicu jempol-jempol warganet untuk trengginas dan ganas.
Perang narasi pun merebak dan meledak. Pertanyaannya: di tengah riuh rendah dunia maya tersebut, apakah kita sedang menggelar paruman (diskusi publik) virtual untuk mencari solusi, atau sekadar menimbun caci maki yang sama nilainya dengan sampah itu sendiri?
Caci Maki vs Diskusi: Siapa Pemenang Viralitas?
Dari bedah lini masa, temuannya terasa getir. Ruang publik digital kita lebih ramah pada caci maki ketimbang sumbang saran. Temuan konten yang beredar dapat dibagi menjadi dua kubu yang sedihnya, njomplang dari segi viralitas:
1. Kubu Cercaan dan Saling Tuding (Viralitas Tinggi):
Umumnya berisi narasi seragam dan berulang. Konten-konten penuh amarah dan sarkasme seperti ini memiliki daya tular (viralitas) yang luar biasa tinggi.
Mengapa?. Saling hujat memicu kolom komentar yang penuh, memanjangkan dwelling time pengguna, dan akhirnya melambungkan konten tersebut ke puncak FYP (for you page) atau trending topic. Situasi inilah yang menjadi “asupan empuk” mesin algoritma!
2. Kubu Diskusi Publik dan Literasi Solutif (Viralitas Rendah):
Apa boleh buat, ini kubu minoritas yang lumayan gigih mengunggah konsep pengolahan sampah berbasis sumber, tata kelola TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah – Reduce, Reuse, Recycle), atau edukasi pemilahan sampah organik dan non-organik dari dapur rumah tangga.
Sayangnya, diskusi yang substansial ini ibarat riak kecil di tengah badai. Konten edukasi solutif ini kerap kali sepi penonton, minim dibagikan, dan tenggelam, karena dianggap “membosankan” oleh massa digital yang haus akan drama.
Kontras perbandingan keduanya bak bumi dan langit. Narasi cercaan menang mutlak secara kuantitas dan viralitas, sementara diskusi publik yang jernih terisolasi di ruang-ruang sunyi minoritas Netizen-berpikir.
Suastini Koster Ditengah “Perang Sampah”
Di episentrum kegaduhan ini, ada satu figur yang posisinya berada tepat ditengah badai narasi: Putri Suastini Koster. Istri sekaligus pendamping Gubernur Bali, Wayan Koster. Ini menarik karena bagaimana ia mengorkestrasi status strukturalnya sebagai pejabat negara yang melekat pada statusnya sebagai istri Kepala Daerah, dengan statusnya sebagai “warga biasa” yang berada di kilometer nol Bali 1 menjadi pendamping hari lepas hari sang pemimpin mengelola Bali.
Ketika media sosial riuh rendah menyoal tumpukan sampah di hilir pantai dan sungai, sebuah gerakan sunyi ia lakukan untuk memotong mata rantai masalah itu dari tempat asalnya, yakni dapur rumah tangga! Di sinilah posisi Ibu Putri Suastini Koster, sebagai Duta Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS) Palemahan Kedas (PADAS) Provinsi Bali, mencoba menancapkan jangkar edukasinya.
Baginya, menyelesaikan urusan sampah di Bali bukanlah soal memindahkan tumpukan masalah dari halaman depan rumah menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) seperti Suwung, yang sarat mafia itu. Menyelesaikan sampah adalah soal memutus kebiasaan “ngentungang” (membuang), menuju kesadaran prilaku “mengelola.”
Edukasi di Hulu: Mengubah Pola Pikir dari Dapur
Ditingkat hulu, yakni ruang domestik di mana setiap hari sisa makanan dan kemasan plastik diproduksi, Ibu Putri Koster gencar meluncurkan kampanye perubahan pola pikir (mindset). Baginya, gerakan hulu ini menuntut masyarakat Bali untuk keluar dari zona nyaman mental ngentungang leluwu yang dianut berpuluh-puluh tahun selama ini.
• Rumus “Jangan Memindahkan Masalah”: Poin utama dari edukasi hulu yang dibawanya adalah prinsip bahwa sebuah desa atau rumah tangga harus bertanggung jawab penuh atas apa yang mereka hasilkan. Slogan “Desaku Bersih Tanpa Mengotori Desa Lain” menjadi fondasi kultural agar sampah organik yang mendominasi sebagian besar timbulan domestik tidak berakhir di truk pengangkut, melainkan selesai di pekarangan sendiri melalui pengomposan atau metode praktis penanganan sisa dapur.
• Memanfaatkan Struktur Komunitas: Edukasi ini tidak dibiarkan mengawang sebagai teori di atas kertas regulasi (seperti Pergub No. 47 Tahun 2019). Beliau turun langsung melintasi puluhan kecamatan di Bali, merangkul ibu-ibu PKK, kader desa, hingga generasi muda dalam gerakan kepramukaan demi menanamkan pembiasaan memilah dari sumbernya. Targetnya jelas: jika hulu terselesaikan, hilir tidak akan pernah menuai musibah.
Ketika Edukasi Pola Pikir Kalah Cepat dari Nyinyiran
Sayang sekali dinding keras realitas media sosial seperti menghadang jalan sunyi edukasi hulu tersebut. Di ruang digital yang serba instan, komitmen jangka panjang untuk mengubah perilaku masyarakat jadi tenggelam oleh pragmatisme warganet.
Mereka kerap menuntut hasil instan berskala makro dan abai bahwa mengedukasi pola pikir dan kebiasaan memilah sampah memerlukan waktu yang tidak sebentar. Ketika kampanye “kelola sampah dari rumah” digaungkan, sebagian besar Netizen menterjemahkan secara tergesa-gesa sebagai lempar tanggung jawab.
Sungguh, media sosial memang begitu gercep menampung apa yang instant apa yang nyinyir dibandingkan hal yang edukatif, apalagi edukasi pola pikir. Barangkali memang bukan wahana yang cocok. Jika begitu, apakah ini berarti medsoslah yang sebenar-benarnya tempat pembuangan sampah itu?? (red).





