Balihotnews.com | DENPASAR – Harga properti residensial di Bali pada triwulan I 2026 tercatat masih mengalami pertumbuhan terbatas. Kondisi ini terungkap dalam hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia Provinsi Bali yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan harga dibandingkan periode sebelumnya.
Berdasarkan survei tersebut, Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) Bali pada triwulan I 2026 tumbuh sebesar 0,87 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Angka ini melambat dibandingkan triwulan IV 2025 yang tercatat tumbuh sebesar 1,06 persen (yoy).
Kenaikan harga properti residensial di Bali masih ditopang oleh tiga kategori rumah, yakni rumah kecil, menengah, dan besar. Rumah kecil dengan luas bangunan di bawah atau sama dengan 36 meter persegi mengalami kenaikan sebesar 1,16 persen (yoy). Sementara rumah menengah dengan luas bangunan 36 hingga 70 meter persegi naik 0,97 persen (yoy), dan rumah besar di atas 70 meter persegi meningkat 0,71 persen (yoy).
Pertumbuhan IHPR pada awal 2026 terutama dipengaruhi oleh kenaikan biaya pembangunan. Mayoritas pengembang menilai lonjakan harga bahan bangunan serta peningkatan upah tenaga kerja menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga rumah di Bali.
Selain faktor domestik, kondisi geopolitik global juga turut memberikan dampak terhadap sektor properti. Efek perang di Timur Tengah dinilai memicu kenaikan harga minyak dunia yang kemudian berdampak pada meningkatnya biaya distribusi bahan bangunan.
Tidak hanya itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing turut memengaruhi harga material impor yang digunakan dalam pembangunan properti residensial.
Ditengah tren kenaikan harga properti tersebut, pengembang di Bali masih menghadapi sejumlah tantangan dalam penjualan rumah primer. Tingginya suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR), keterbatasan lahan, beban pajak, hingga besarnya uang muka menjadi hambatan utama di pasar properti residensial.
Dari sisi pembiayaan pembangunan, dana sendiri milik pengembang masih menjadi sumber utama dengan porsi mencapai 56,6 persen. Sementara pembiayaan melalui pinjaman bank mencapai 35,3 persen, dana konsumen sebesar 5,9 persen, dan pinjaman dari lembaga keuangan non-bank sebesar 2,2 persen.
Sementara itu, dari sisi konsumen, skema KPR masih mendominasi pembelian rumah di Bali. Porsi pembelian rumah melalui KPR tercatat mencapai 84,2 persen dari total pembiayaan properti residensial. (red).





