Biasakan Sarapan Pagi! Ini Bahayanya Jika Ditinggalkan Menurut Para Ahli

Biasakan sarapan pagi! Ini bahayanya jika ditinggalkan menurut para ahli. (balihotnews/dok.©Tempo.co)

Balihotnews.com | DENPASAR – Sarapan sebelum memulai aktivitas sudah menjadi kebiasaan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.

Namun, seiring perkembangan zaman dan gaya hidup di perkotaan sarapan seringkali diabaikan.

Padahal, sarapan penting untuk memberi energi dan menjaga fokus sepanjang pagi.

Terutama sarapan dengan tinggi protein, karbohidrat dan lemak sehat dapat membantu menjaga kadar gula darah, sebagai sumber energi, dan kenyang lebih lama.

Sebaliknya, sereal manis bisa menyebabkan lonjakan kadar gula darah, yang justru tidak membantu tetap waspada dalam aktivitas pagi.

Alasan melewatkan sarapan

Nutritional Therapist Natalie Burrows mengatakan bahwa seseorang perlu bertanya pada diri sendiri mengapa mereka tidak merasa lapar di pagi hari.

Menurutnya, kebanyakan orang menjawab karena mereka minum kopi sebagai pengganti sarapan.

Padahal ini bisa menjadi masalah.

“Jika alasannya adalah kamu menutupi rasa lapar dengan minum kopi, ini bukan cara yang baik untuk memulai hari. Kafein tidak memberikan energi bagi sel-sel dalam tubuh kita,” kata Burrows, kepada Style Magazine, seperti dikutip dari Daily Mail.

Burrows menambahkan, kafein dapat merangsang saraf di otak dan memicu kelenjar adrenal melepaskan adrenalin, sehingga memberikan dorongan energi palsu bagi tubuh.

Berita Terkait:  Bentengi Generasi Muda dari Narkoba, BNNP Bali Gelar Bimtek Penggiat P4GN Bersama Gerakan Pramuka Kwarda Bali

Ia menyarankan untuk menunda konsumsi kafein hingga setelah sarapan agar adrenalin dan kortisol tetap seimbang.

Selain itu alasan lainnya melewatkan sarapan karena ingin menurunkan berat badan.

Padahal menurut ilmuwan Spanyol yang mengidentifikasi jumlah kalori saat sarapan untuk yang ingin menurunkan berat badan pada awal tahun lalu, menyimpulkan asupan kalori orang diet sarapan sebanyak 500-750 kalori untuk pria, dan 400-600 untuk wanita.

Dampak negatif melewatkan sarapan

Dengan nutrisi yang cukup di pagi hari dapat bermanfaat bagi kesehatan fisik dan mental.

Sebuah studi Februari lalu menunjukkan bahwa sarapan sebelum pukul 9 pagi bisa menurunkan risiko depresi secara signifikan.

Para ilmuwan menemukan bahwa orang yang makan setelah pukul 9 pagi 28 persen lebih mungkin mengalami suasana hati buruk dan masalah kesehatan mental dibanding mereka yang sarapan sebelum pukul 8 pagi.

Berita Terkait:  Bawa 23 IKM ke Kriyanusa 2026, Ny. Putri Koster Dorong Kerajinan Bali Tembus Pasar Internasional

Penelitian itu juga menyoroti bahwa melewatkan sarapan berdampak negatif pada kesejahteraan psikologis.

Jika alasannya karena terlalu lelah atau sibuk, hal ini bisa terkait dengan ritme sirkadian, jam biologis tubuh yang mengatur kapan kita tidur, bangun, dan makan.

Nutritional Therapist Cara Rose mengungkapkan bahwa tubuh menjaga keseimbangan antara kortisol dan melatonin, hormon yang mengatur energi dan rasa mengantuk.

Tubuh jika tertidur, menggunakan cadangan glukosa di hati untuk menjaga gula darah, yang hanya bertahan sekitar delapan jam sebelum kelenjar adrenal melepaskan kortisol untuk tetap berenergi.

Rose menambahkan, melatonin bekerja berbeda dari kortisol, dan butuh satu hingga dua jam setelah bangun agar kadar melatonin cukup rendah sehingga makan terasa nyaman.

Berita Terkait:  Mendiktisaintek Wanti-Wanti Bahaya Superinteligence

Jika tidak merasa lapar di pagi hari, hal ini bisa menjadi tanda stres kronis, karena tubuh masih berada di bawah pengaruh kortisol, hormon yang terkait dengan stres.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa stres meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan masalah kesehatan mental seperti depresi.

Jika kurang nafsu makan di pagi hari disebabkan stres, Rose menyarankan minum air hangat dengan jahe dan lemon untuk membantu fungsi hati.

Setelah bangun di pagi hari, cobalah latihan pernapasan dalam juga bisa membantu menenangkan tubuh.

Rose menyarankan teknik “pernapasan kotak”, yaitu menghirup empat detik, menahan napas empat detik, menghembuskan empat detik, dan menahan lagi empat detik, untuk mengatur kortisol dan keluar dari mode stres. (ani)

Berita Terkini