Kajian Sastra dan Kosmologi Tegaskan Tawur Kasanga saat Tilem, Nyepi Masuk Tahun Baru Saka

Foto: Focus Group Discussion (FGD) Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat bersama para akademisi dan pengkaji lontar di Kampus Universitas Hindu Indonesia, Minggu, 11 Januari 2026. (Balihotnews/ist).

Balihotnews.com | DENPASAR – Kajian sastra, wariga dan kosmologi kembali menegaskan bahwa pelaksanaan Tawur Kasanga dilakukan saat Tilem Sasih Kesanga, sementara Hari Suci Nyepi dilaksanakan sehari setelahnya.

Penegasan ini mengemuka, dalam Focus Group Discussion (FGD)  Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat bersama para akademisi dan pengkaji lontar di Kampus Universitas Hindu Indonesia, Minggu, 11 Januari 2026.

FGD tersebut menghadirkan para pakar wariga, filologi, dan kosmologi Hindu yang tidak hanya membaca teks lontar secara tekstual, tetapi juga memahami konteks kosmis dan nalar tattwa yang melatarinya. Kajian ini dinilai penting untuk memperkuat pemahaman umat terhadap dasar ilmiah dan spiritual pelaksanaan Hari Suci Nyepi.

Akademisi IAHN Mpu Kuturan, Dr. I Made Gami Sandi Untara, memaparkan bahwa Nyepi merupakan peristiwa kosmologis yang tidak dapat dilepaskan dari rangkaian ritual sebelumnya.

“Nyepi adalah peristiwa kosmologis. Tilem merupakan puncak pengembalian keseimbangan semesta melalui Tawur, lalu pada tahun baru umat memulai siklus baru dengan hening,” terangnya.

Berita Terkait:  Raih 186 Suara, Letjen I Nyoman Cantiasa Ungguli Ari Dwipayana dalam Pemilihan Ketua Umum PHDI Pusat

Menurut Gami, Tilem menjadi fase puncak pengembalian keseimbangan alam semesta melalui Tawur Kesanga, di mana unsur-unsur bhūta dikembalikan ke asalnya.

Setelah proses kerja kosmik tersebut rampung, barulah umat Hindu memasuki Tahun Baru Saka dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian sebagai bentuk awal siklus baru kehidupan yang lebih tertata dan sadar.
Ia juga menyoroti cara pembacaan lontar yang kerap dilakukan secara sepotong-sepotong.

Lontar Sundarigama, kata Gami, tidak dapat dijadikan rujukan tunggal tanpa kajian filologis yang komprehensif. Tradisi keilmuan Hindu mengajarkan pembacaan komparatif dengan menelusuri varian teks, konteks penulisan serta babon rujukannya.

Dalam konteks ini, Negara Kertagama disebut sebagai salah satu rujukan penting yang menegaskan pemisahan antara fase pralina dan wiwitan.

Berdasarkan keseluruhan rujukan sastra tersebut, Gami menegaskan bahwa praktik Nyepi yang berjalan saat ini telah sesuai dengan kosmologi dan wariga leluhur.

Berita Terkait:  Pertamina Janji Sehari Tak Kelar, Koster Datangi Direktur Pertamina di Sanggaran

“Tidaklah mungkin sebuah tradisi besar dan kuat seperti Nyepi dapat berdiri di atas kutipan sepotong dari sebuah versi lontar saja,” tegasnya.

Gami juga menyampaikan bahwa perubahan waktu pelaksanaan Nyepi yang pernah terjadi pada tahun 1960 merupakan kekeliruan dalam memahami teks lontar, dan kesalahan tersebut telah dikoreksi oleh para wikan sehingga umat Hindu Bali saat ini mewarisi pelaksanaan Nyepi yang tepat sesuai sastra.

Sementara itu, pengkaji lontar dari Unit Lontar Universitas Udayana, Ida Bagus Anom Wisnu, menjelaskan bahwa pelaksanaan Tawur dan Nyepi telah jelas dinarasikan dalam berbagai pustaka lontar. Lontar Sundarigama, misalnya, menyebutkan Tawur dilaksanakan pada paruh gelap ke-15 (caturdaśi kṛṣņa pakṣa) dan Nyepi pada paruh terang pertama bulan Waiśaka.

Namun, Anom Wisnu menegaskan bahwa Sundarigama bukanlah naskah tunggal. Terdapat banyak versi dan varian yang tersebar di berbagai lembaga maupun koleksi pribadi.

Berita Terkait:  Melihat Berakhirnya PHDI Menuju MAHASABHA XIII, KMHDI Buleleng Soroti Ruang Anak Muda dan Persoalan Umat

Oleh karena itu, pembacaan heuristik semata dapat menimbulkan kekeliruan jika tidak dilanjutkan dengan pembacaan hermeneutik dan kajian filologis yang mendalam.

Selain Sundarigama, sejumlah naskah lain seperti Gama Tiga, Aji Swamandala, dan Siwa Tatwa Purana juga mengonfirmasi bahwa Tawur dilaksanakan saat Tilem dan Nyepi sehari setelahnya.

Hal ini menunjukkan bahwa satu naskah tidak dapat dianggap memiliki otoritas lebih tinggi dibandingkan naskah lainnya.

Berdasarkan keseluruhan kajian yang mengemuka dalam FGD, Sabha Pandita PHDI Pusat secara bulat menegaskan bahwa tradisi yang berjalan saat ini telah sesuai dengan sastra, kosmologi, dan tradisi kuno umat Hindu Bali.

“Kita dapat secara bulat menetapkan bahwa Tawur jatuh pada Tilem Sasih Kesanga, dan Hari Suci Nyepi dilaksanakan keesokan harinya,” demikian pernyataan Dharma Adhyaksa PHDI Pusat Ida Pedanda Gde Bang Buruan Manuaba sekaligus menutup FGD. (red).

 

Berita Terkini