Balihotnews.com | BADUNG – Seperempat abad bukan waktu yang singkat bagi sebuah ajang penghargaan untuk bertahan. Memasuki usia perak ke-25 tahun, Tri Hita Karana (THK) Awards membuktikan diri lebih dari sekadar seremoni tahunan.
Ajang ini kian kokoh menjadi “kompas spiritual”, menuntun pariwisata Bali agar tak tersesat dan kehilangan arah di tengah derasnya arus modernisasi.
Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Yayasan Tri Hita Karana (THK) Bali, I Gusti Ngurah Wisnu Wardana, dalam malam puncak penganugerahan Tri Hita Karana Awards ke-25 di Discovery Kartika Plaza Hotel, Kuta, Badung, Jumat (9/1/2026).
”Hati saya bergetar. Ini membuktikan bahwa di tengah arus modernisasi yang menderu, Tri Hita Karana tetap menjadi ‘Kompas Spiritual’ bagi para pelaku industri di Bali,” ujar Wisnu.
Sebagai sosok senior di dunia jurnalistik pariwisata, Wisnu menekankan bahwa lebih dari 500 akreditasi yang dikeluarkan pihaknya selama 25 tahun terakhir bukanlah sekadar statistik. Angka itu adalah bukti cinta kolektif masyarakat dan pengusaha terhadap tanah Bali.
Pada puncak perayaan tahun ini, antusiasme peserta tetap tinggi. Wisnu mencatat sekitar 70 entitas, mulai dari hotel berbintang hingga Daerah Tujuan Wisata (DTW), terdaftar sebagai peserta.”Bagi saya, antusiasme ini sangat menyentuh hati,” tuturnya.
Penghargaan bergengsi THK Awards diberikan kepada mereka yang konsisten menerapkan filosofi Tri Hita Karana, yakni menjaga keharmonisan dengan Tuhan (Parahyangan), sesama manusia (Pawongan), dan alam (Palemahan).
Adapun kategori penghargaannya meliputi: THK-Innovation Awards, THK-PR Awards, THK Awards and Accreditation (Termasuk Lifetime Achievement Awards) dan THK-CSR Awards.
Melampaui SDGs dan Diakui PBB
Wisnu menegaskan, THK bukanlah kearifan lokal yang kaku. Filosofi ini terbukti adaptif menjawab tantangan zaman, mulai dari isu demografi, perubahan iklim, hingga kini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs).
Hebatnya, jauh sebelum dunia menggaungkan SDGs, Bali sudah memiliki piramida harmoni THK. Pengakuan internasional pun telah dikantongi lewat legitimasi UN-Tourism (PBB Pariwisata) pada 2015 melalui Global Code of Ethics for Tourism.
“Pengakuan itu bukan sekadar kebanggaan administratif. Itu adalah legitimasi dunia bahwa pariwisata Bali memiliki ‘jiwa’. Sebuah gerakan moral yang memastikan setiap rupiah yang dihasilkan tidak boleh merusak hubungan kita dengan Tuhan, sesama, dan alam lingkungan,” tegas Wisnu.
“Tanpa harmoni, Bali hanyalah sebuah nama; namun dengan Tri Hita Karana, Bali adalah sebuah doa yang hidup,” sambungnya di hadapan para pemangku kepentingan pariwisata.
Menyongsong Era Wellness Tourism
Menatap masa depan, Yayasan THK kini memperluas cakupan implementasi filosofi tersebut lewat kerja sama strategis dengan Bapelkesmas Bali.
Langkah ini diambil untuk menyambut era pariwisata kesehatan (Wellness Tourism) yang kian diminati pasar global.
Wisnu berharap sektor ini tidak terjebak menjadi tren bisnis semata. “Kita ingin Wellness Tourism di Bali menjadi layanan kesehatan yang holistik, profesional, namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai budaya kita,” tuturnya.
Sebagai penutup, Wisnu juga membocorkan rencana besar tahun depan. Pihaknya tengah menyiapkan kembalinya THK-Melapa-Melapi Awards.
“Melapa-Melapi adalah wujud penghormatan bagi para Chef atau ahli masak yang menjaga cita rasa kuliner warisan leluhur agar tetap bertahta di meja perjamuan dunia,” tandas Wisnu.*** (dre)








