Balihotnews.com | DENPASAR — Buku berjudul Harry Potter Vs Leak karya wartawan senior I Gusti Ngurah Wisnu Wardana berhasil meraih penghargaan bergengsi sebagai “Hindu Book of the Year 2025″.
Penghargaan tahunan tersebut dianugerahkan oleh komunitas literasi Hindu Books & Readers dalam sebuah seremoni di Ballroom UC Silver, Denpasar, Jumat (26/12/2025).
Karya ini dinilai berhasil menawarkan perspektif segar dengan menyandingkan fenomena sihir populer Barat dan spiritualitas kuno Nusantara.
Prestasi ini mengulang kesuksesan Wisnu dua tahun silam. Pada 2023, kumpulan tulisan jurnalistiknya, Mencari Kitab Suci, juga menyabet gelar serupa.
”Saya tidak menyangka karya ini kembali mendapat apresiasi tertinggi. Meski sama-sama berangkat dari catatan jurnalistik, kedua buku ini memiliki fokus yang sangat berbeda,” ujar Wisnu saat ditemui di Denpasar, Sabtu (27/12/2025).
Buku Harry Potter Vs Leak lahir dari hasil reportase Wisnu saat melakukan kunjungan pers (press-tour) ke Universitas Oxford, Inggris. Kampus tertua di Inggris tersebut kini bertransformasi menjadi destinasi wisata global karena menjadi lokasi syuting film Harry Potter.
Dalam bukunya, Wisnu tidak sekadar mengulas lokasi wisata, melainkan menarik garis perbandingan filosofis antara “sihir” fiksi JK Rowling dengan realitas ilmu spiritual di Bali. Jika di Barat Lord Voldemort berambisi mencapai keabadian (immortality) sebagai fantasi, di Nusantara, konsep hidup kekal dikenal melalui ajian seperti Rawa Rontek atau ilmu Leak.
”Menjadi makhluk abadi adalah bagian dari capaian spiritual tingkat tinggi. Di Bali, ilmu Leak sejatinya adalah proses mengubah identitas diri (ahamkara). Namun, jika disalahgunakan menjadi Wegig, itulah yang dikenal sebagai ilmu hitam,” jelas Wisnu.
Salah satu poin menarik dalam buku ini adalah perbandingan metode pembelajaran spiritual. Wisnu menyoroti bagaimana Universitas Exeter di Inggris kini secara rasional membuka program Magister Ilmu Sihir (Master Degree in Magic).
Sebaliknya, di Bali, pembelajaran ilmu kebatinan masih bersifat sangat tertutup, rahasia, dan tanpa institusi formal.
Analisis Wisnu menukik lebih dalam pada aspek arsitektur tempat menuntut ilmu yang dibangun pada era yang hampir bersamaan, yakni abad ke-11.
Ia membandingkan Kampus Oxford dengan situs Goa Gajah di Bedulu, Gianyar. Mahasiswa Oxford di era lampau mengasah spiritualitas di gedung bergaya Gotik dengan jendela kaca besar untuk menyerap energi matahari sebanyak mungkin ke dalam tubuh.
“Sementara di ‘Kampus’ Goa Gajah, para penekun spiritual justru menutup energi matahari. Mereka bermeditasi di ceruk-ceruk gelap dalam gua untuk menemukan cahaya dari dalam diri,” tulis Wisnu dalam bukunya.
Buku ini juga mengangkat tokoh Kebo Iwa, alumni “kampus gua” di Bali yang menguasai ilmu kanuragan di Goa Garba, sebagai antitesis nyata dari tokoh fiksi Lord Voldemort. Kini, baik Oxford maupun Goa Gajah sama-sama berdiri sebagai saksi bisu sejarah peradaban yang menjadi daya tarik wisata dunia.*** (dre)





