Balihotnews.com | DENPASAR – Dunia kedokteran di Bali mencatat sejarah baru. Sebuah riset doktoral berhasil membuktikan bahwa kearifan lokal ‘Meditasi Siddhā Karya’ bukan sekadar ritual spiritual, melainkan intervensi medis yang terukur secara ilmiah untuk meningkatkan kualitas hidup pasien gagal ginjal.
Temuan inovatif ini diungkapkan oleh dr. I Gusti Ngurah Putra Eka Santosa, M.Fis., dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Udayana, Denpasar, Kamis (18/12/2025).
Dalam disertasinya, dr. Ngurah Putra membuktikan secara klinis bahwa Meditasi Siddhā Karya (MS) mampu menurunkan kadar malondialdehyde (MDA)—penanda stres oksidatif—dan memodulasi CD34 stem cell hematopoetik pada pasien yang menjalani hemodialisa (cuci darah) reguler.
”Penelitian ini menegaskan bahwa Meditasi Siddhā Karya bekerja menyeimbangkan kondisi internal tubuh. Hasilnya signifikan memperbaiki parameter biologis dan kesejahteraan pasien yang kerap mengalami tekanan fisik maupun psikologis akibat cuci darah,” ujar dr. Ngurah Putra di hadapan para penguji.
Berkat ketajaman analisis dan penguasaan materi yang mumpuni, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Mahasaraswati (Unmas) ini dinyatakan lulus dengan predikat pujian atau Cum Laude.
Pria kelahiran Tabanan, 26 Agustus 1984 ini dinilai berhasil melakukan “saintifikasi” intervensi mind-body berbasis budaya lokal menjadi pendekatan medis komplementer yang valid.
dr. Ngurah Putra sendiri diketahui telah mendedikasikan lebih dari satu dekade untuk meneliti dan mengajarkan metode meditasi ini sebelum akhirnya merumuskannya dalam kerangka akademis.
Apresiasi Gubernur Koster: Murni Bali, Bukan Impor
Hadir dalam sidang tersebut, Gubernur Bali Wayan Koster memberikan apresiasi tinggi. Menurut Koster, riset ini adalah terobosan berani yang mengangkat derajat warisan leluhur Bali ke panggung sains modern.
“Selama ini, metodologi wellness seperti herbal, yoga, dan ayurveda lebih banyak didominasi pengaruh luar negeri. Meditasi Siddhā Karya adalah murni dari Bali. Ini upaya putra daerah mensaintifikasi intervensi tubuh-pikiran agar diakui dunia,” tegasnya.
Koster pun mendorong agar hasil penelitian ini tidak berhenti di perpustakaan kampus. Ia berharap metode ini dikembangkan menjadi protokol medis standar yang bisa diperkenalkan ke tingkat nasional hingga global sebagai kontribusi kesehatan dari Indonesia.
Selain itu, dalam sidang terbuka ini menjadi momentum kolaborasi lintas sektor yang kuat. Terlihat dari hadirnya tokoh-tokoh penting, mulai dari Rektor Universitas Udayana, Rektor Undiksha, Rektor Universitas Bali Internasional (UNBI), hingga jajaran Dekan FK dari berbagai universitas di Bali.
Turut hadir para direktur rumah sakit, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Direktur Pelaksana Varash Group Dewa Putu Ripa Wahyudi, Ketua Pengelola Desa Carangsari Ida Bagus Namarupa, serta pakar teknologi kesadaran Adi W. Gunawan.
Kehadiran mereka menandai dukungan penuh terhadap integrasi pengobatan modern dengan kekayaan budaya Nusantara.*** (dre)






