Balihotnews.com | DENPASAR – Sebelum membahas solusi teknis soal sampah, ada satu hal yang sebenarnya jauh lebih mendasar, yaitu cara pandang kita. Banyak orang masih menempatkan sampah sebagai sesuatu yang harus ‘dibuang’. Cara pikir ini terlihat jelas setiap kali muncul pertanyaan,
“Kalau TPA Suwung ditutup, sampah mau dibuang ke mana?”
Pertanyaan seperti itu menandakan bahwa kita masih memakai pola lama, bahwa sampah cukup diangkut, dipindahkan, dan dijauhkan dari mata publik. Seolah-olah begitu sampah keluar dari halaman rumah, masalah selesai. Padahal, itulah awal dari masalah yang lebih besar.
Faktanya, pola buang dan lupakan tidak lagi cocok dengan kondisi Bali saat ini. Volume sampah terus naik, lahan untuk menampung makin terbatas, dan dampaknya langsung terasa. Bau, pencemaran, konflik sosial, hingga tekanan pariwisata yang tak bisa ditolak. Bali yang hidup dari alam dan citra kebersihan tidak bisa terus menerus mengandalkan TPA sebagai penampung akhir.
Karena itu, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan lagi “dibuang ke mana?” melainkan “bagaimana diolah?”
Diolah di rumah sebelum menjadi masalah. Diolah di sumbernya agar tidak menumpuk di truk. Diolah dengan teknologi agar bernilai, bukan menjadi beban. Dan yang paling penting, diolah dengan kesadaran bahwa setiap orang punya tanggung jawab.
Kesadaran yang Belum Menjadi Budaya
Kesadaran ini sebenarnya bukan konsep baru, hanya saja belum menjadi budaya. Banyak desa sudah menunjukkan contohnya, bank sampah yang berjalan konsisten, pemilahan organik dan anorganik di rumah tangga, hingga pengurangan penggunaan plastik sekali pakai. Ketika perilaku berubah, tekanan ke TPA otomatis berkurang.
Perubahan cara pikir membawa perubahan perilaku. Begitu kita berhenti memandang sampah sebagai ‘musibah harian’ dan mulai melihatnya sebagai material yang punya nilai, entah jadi kompos, kerajinan, atau energi, maka muncul budaya baru. Budaya yang lebih maju karena tidak hanya menuntut pemerintah, tapi bergerak dari rumah masing-masing.
Masa depan pengelolaan sampah di Bali tidak ditentukan oleh teknologi saja, tetapi oleh cara kita memandang sampah hari ini. Selama kita masih sibuk mencari tempat untuk membuang, kita akan terus tertinggal. Namun ketika kita mulai fokus pada cara mengolah, pintu solusi akan selalu terbuka.
Pada akhirnya, pilihan ada di tangan kita. Tetap memakai cara lama yang terbukti tidak menyelesaikan apa-apa, atau naik kelas dengan cara pandang yang lebih maju dan bertanggung jawab. Bali butuh yang kedua. Dan kita semua punya peran di dalamnya. (red)





