Balihotnews.com | DENPASAR – Pie Susu Dewata Agung menempatkan diri sebagai toko oleh-oleh yang berupaya memenuhi kebutuhan wisatawan muslim yang sering kesulitan menemukan pilihan makanan halal di Bali.
Sejak memperoleh sertifikasi halal pada 2018 dan rutin memperbaruinya setiap dua tahun, usaha ini ingin memastikan pengunjung memiliki opsi yang aman dan jelas ketika membawa pulang oleh-oleh dari Pulau Dewata.
Ratusan Jenis Oleh-Oleh
Usaha yang sudah berjalan sembilan tahun ini menjual lebih dari seratus jenis makanan ringan. Namun pie susu tetap menjadi produk utamanya.
Pemiliknya, Muchram Ibrahim atau Baim, menyebut varian original menjadi favorit, disusul rasa premium seperti cokelat, durian, brownies, dan keju.

“Yang paling best seller itu original. Kalau premium ada coklat, durian, brownies, sama keju. Sisanya pelengkap seperti coco chip, kacang, red velvet, dan kelapa,” kata Baim.
Packaging Travel yang Aman
Bagi wisatawan, urusan kepraktisan juga menjadi pertimbangan. Karena itu, setiap produk dikemas dengan packaging yang aman dibawa bepergian.
Harapan mereka sederhana, ketika orang datang ke Bali, mereka punya pilihan oleh-oleh halal yang jelas, rapi, dan layak dibawa pulang. Reputasi toko ini ikut terbentuk dari ulasan pengunjung di Google Maps. Dimana lebih dari 1.500 pengguna memberi rating 4,9.
Menariknya, Dewata Agung tak hanya menjadi toko oleh-oleh. Tempat ini pelan-pelan berkembang menjadi lokasi kunjungan industri dan edukasi. Mulai dari rombongan wisata, ziarah Wali Pitu, sekolah, study tour dari luar Bali, hingga perusahaan besar seperti Pertamina, semuanya pernah duduk mendengar Baim bercerita tentang bagaimana usaha ini tumbuh.

Dalam kunjungan industri, peserta belajar perjalanan awal, proses produksi, hingga teknik membuat pie susu sebelum diajak melihat dapur produksinya.
Menurut Baim, posisi sebagai UMKM muslim memberi ruang berbeda dalam persaingan. Selama ini, industri oleh-oleh Bali memang didominasi pelaku non-muslim. Karena itu ia ingin toko ini menjadi rujukan ketika wisatawan muslim mencari tempat yang memberikan edukasi sekaligus menjamin kehalalan produk.
“Selama ini belum ada yang muslim. Jadi biar ada pionirnya. Tagline halal itu untuk dukung wisata halal dan untuk bikin orang yakin, terutama yang memang sangat hati-hati soal makanan,” jelasnya.
Ramai Pengunjung Ziarah Wali Pitu
Rombongan ziarah Wali Pitu yang sering melintasi Bali menjadi salah satu pengunjung tetap. Perjalanan yang panjang membuat mereka lebih memilih varian kering. Varian kering bisa bertahan hingga dua bulan, dibanding varian basah yang maksimal hanya dua belas hari. Di akhir tahun, jumlah kunjungan meningkat drastis hingga membuat parkiran toko penuh sesak oleh bus wisata.
Dari sisi manajemen, Baim menyebut toko ini mulai dilirik untuk peluang kerja sama dan franchise. Ide itu justru datang dari peserta kunjungan Pertamina yang menilai sistem dan operasional Dewata Agung cukup tertata. Namun rencana tersebut masih dipertimbangkan, mengingat keterbatasan lahan dan kebutuhan ekspansi yang lebih besar.
Perjalanan pribadi Baim juga menjadi bagian dari cerita usaha ini. Ia tumbuh dalam kondisi ekonomi sulit, sempat bersekolah di panti asuhan, lalu memulai usaha dari nol sebelum akhirnya memutuskan membuat merek sendiri pada 2022 setelah bertahun-tahun menjadi pemasok untuk toko oleh-oleh besar.
Pengalaman gagal, kehilangan rekan bisnis, hingga memulai produksi dari ruang kecil bekas bengkel menjadi fondasi yang membentuk cara ia mengelola usaha saat ini. “Kalau kita bersandar ke manusia pasti kecewa. Yang penting perbaiki diri, perbaiki usaha,” ujarnya.
Kini, selain pie susu, Dewata Agung mulai mengembangkan minuman rempah, kopi, soft-serve es krim, hingga coin cheese yang segera diluncurkan. Ulasan positif di Google, media sosial, dan transaksi berulang di marketplace menunjukkan respons konsumen terus menguat.

Bagi wisatawan yang membutuhkan referensi oleh-oleh halal tanpa kebingungan memilih, Pie Susu Dewata Agung menjadi salah satu opsi yang layak dipertimbangkan saat melintas di Denpasar. (rhm)






