Flobamora Muda Bercakap, Bongkar Akar Stigma terhadap Orang NTT di Bali

Seminar “Flobamora Muda Bercakap” digelar Paguyuban Mahasiswa Nusa Tenggara Timur Universitas Udayana (PMNTT UNUD) di Kampus Unud Denpasar, Sabtu (9/11/2025). (Balihotnews/Ist)
Seminar “Flobamora Muda Bercakap” digelar Paguyuban Mahasiswa Nusa Tenggara Timur Universitas Udayana (PMNTT UNUD) di Kampus Unud Denpasar, Sabtu (9/11/2025). (Balihotnews/Ist)

Balihotnews.com | DENPASAR – Stigma negatif yang kerap dialamatkan kepada masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) di Bali disebut tidak lepas dari isu politik identitas dan konstruksi sosial yang terbentuk selama ini. Semangat akulturasi dan pemahaman lintas budaya dinilai menjadi kunci utama untuk menciptakan harmoni antarwarga.

Pandangan ini disampaikan Akademisi Ilmu Politik Universitas Udayana (Unud), Efatha Filomeno Borromeu Duarte, dalam seminar “Flobamora Muda Bercakap” yang digelar Paguyuban Mahasiswa Nusa Tenggara Timur Universitas Udayana (PMNTT UNUD) di Kampus Unud Denpasar, Sabtu (9/11/2025).

“Stigma sosial terhadap orang NTT tidak terlepas dari adanya politik identitas yang semakin memisahkan beberapa kepentingan,” ujar Efatha yang juga pendiri Malleum Institute.

Berita Terkait:  Dinilai Teraktif Dukung SPI Pendidikan, KPK Beri Penghargaan Gubernur Koster 

Menurutnya, masyarakat NTT perlu aktif memahami nilai, etika, dan estetika yang berlaku dalam kehidupan masyarakat Bali.

Apalagi secara kultural, orang NTT dikenal memiliki solidaritas tinggi, sementara masyarakat Bali menjunjung nilai spiritual dalam konsep Tri Hita Karana.

“Akulturasi dua budaya ini penting agar tumbuh saling pengertian. Orang NTT juga perlu memahami nilai dan etika yang dijalankan masyarakat Bali,” tuturnya.

Di sisi lain, masyarakat Bali juga didorong untuk mengenal lintas kebudayaan NTT melalui kegiatan akademis berdaya guna.

Pandangan senada datang dari pengamat media sosial Adrian Mahaputra, pemilik akun @Balinggih. Ia menilai sebagian oknum yang bersikap rasis terhadap warga NTT biasanya tidak memiliki interaksi langsung dengan mereka.

Berita Terkait:  Menkum Targetkan Karya Jurnalistik Masuk Hak Cipta untuk Dapat Royalti 

Adrian menyoroti kontribusi besar masyarakat NTT di Bali yang sering luput dari perhatian publik. Menurutnya, tenaga kerja asal NTT berperan penting di sektor informal, terutama ketika SDM lokal terserap di dunia pariwisata.

“Banyak warga NTT mengharumkan nama Bali lewat olahraga seperti combat sport, Muay Thai, dan tinju,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Flobamora Bali, Herman Umbu Billy, yang membuka acara tersebut, mengapresiasi inisiatif mahasiswa PMNTT Unud. Ia berharap isu sensitif seperti ini dibahas secara bermartabat di ruang akademik.

Umbu Billy mengakui motivasi utama warga NTT datang ke Bali adalah untuk belajar dan bekerja. Namun, ia juga tidak menampik masih ada segelintir oknum yang merusak citra mayoritas.

Berita Terkait:  Buka GALAKSI III 2026, Wabup Tjok Surya Tegaskan Jiwa Kepramukaan dan Kebersamaan Anggota

“Kita harus akui, ada satu dua orang yang nakal. Tapi perilaku segelintir orang jangan sampai menutupi puluhan ribu pekerja jujur asal NTT,” tegasnya.

Ia mengingatkan pentingnya melihat kontribusi positif masyarakat NTT yang bekerja di sektor ritel, perhotelan, pendidikan, hingga bidang keagamaan.

Seminar yang digelar di Fakultas Ilmu Budaya Unud ini menjadi wadah diskusi bagi generasi muda untuk membahas isu stigma sosial dan mencari solusi membangun kebersamaan antarbudaya di Bali.*** (dre)

 

Berita Terkini