Balihotnews.com | BADUNG – Di tengah bayang-bayang darurat sampah yang kian nyata di Kabupaten Badung, sebuah desa di Kecamatan Abiansemal memilih untuk tidak diam.
Pada Selasa malam, 28 Oktober 2025, suasana di TPS 3R Pudak Mesari, Desa Darmasaba, berubah menjadi ruang dialog yang hangat. Di bawah sorot lampu sederhana dan aroma tanah lembap, warga berdiskusi dalam acara “Bicara Darmasaba – Darmasaba Bicara” dengan tema yang menohok: “Sampah Kita, Tanggung Jawab Siapa?”
Pertanyaan itu bukanlah sekadar slogan, tapi tamparan halus bagi semua yang hadir. Sebab, di Badung kini menghadapi kenyataan pahit, yakni sebagai daerah tanpa Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Gede Suantara dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Badung mengungkap, TPA Suwung yang selama ini menjadi tumpuan, sudah tak lagi menampung sampah organik dan bahkan akan ditutup permanen pada akhir tahun ini.
“Secara umum, Badung kini darurat sampah,” ujarnya tegas.
Data DLHK mencatat, sepanjang 2024, Badung menghasilkan 547 hingga 600 ton sampah setiap hari. Angka itu mencerminkan betapa beratnya beban lingkungan yang harus ditanggung jika persoalan sampah terus diabaikan.
“Kalau tidak ditangani dari sumbernya, selamanya sampah akan jadi musibah. Tapi bila diolah, ia bisa menjadi berkah,” kata Suantara.
Berkah itu pelan-pelan mulai terasa di Desa Darmasaba. Sejak berdiri tiga tahun lalu, TPS 3R Pudak Mesari berhasil mengubah tumpukan sampah menjadi kompos bernilai ekonomi tinggi.
Sedikitnya 45 ton kompos telah disalurkan ke berbagai daerah, bahkan sampai ke kebun durian di Kabupaten Buleleng. Dari pengelolaan itu, Darmasaba mampu menambah kas desa hingga Rp760 juta.
Namun, bagi Perbekel Darmasaba Ida Bagus Surya Prabhawa Manuaba, capaian itu bukan alasan untuk berpuas diri.
“Jujur saja, kami belum efektif,” ujarnya.
Apalagi lahan seluas 10 are yang menjadi tempat TPS 3R kini sudah melampaui kapasitas. Fasilitas itu menampung sampah dari 615 kepala keluarga, padahal idealnya hanya untuk 500 KK.
“Penduduk kami lebih dari 10 ribu jiwa. Artinya, pengelolaan ini sudah di ambang batas,” katanya.
Meski begitu, Darmasaba tak menyerah. Mereka percaya, solusi tak melulu datang dari kebijakan besar, tapi dari kesadaran kecil yang dimulai di rumah sendiri.
Camat Abiansemal Ida Bagus Putu Arimbawa yang turut hadir malam itu menegaskan pentingnya perubahan paradigma.
“Kita sering menyalahkan masyarakat yang dianggap kurang sadar. Padahal kesadaran itu harus ditanam sejak dini,” ujarnya.
Ia mengajak setiap warga menjadi contoh hidup, bukan sekadar pengamat.
“Kita semua harus jadi duta lingkungan di lingkungan kita masing-masing,” tambahnya.
Diskusi yang berlangsung hingga pukul 21.00 Wita itu disiarkan langsung melalui kanal YouTube Desa Darmasaba. Hadir pula Anggota DPRD Badung Putu Sekarini, perwakilan DLHK Badung, aktivis lingkungan, serta kalangan media.
Malam itu, Darmasaba tidak hanya bicara soal sampah, tapi soal tanggung jawab bersama, tentang bagaimana mengubah kebiasaan membuang menjadi kebiasaan mengolah.
Menutup forum, Perbekel Surya Prabhawa menegaskan satu prinsip penting, yaitu setiap kebijakan harus berbasis data.
“Setiap solusi harus bisa diukur dan dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Ia berharap, diskusi seperti ini menjadi titik awal lahirnya gerakan sadar sampah di tingkat rumah tangga.
“Sebab, di Darmasaba, sampah bukan lagi urusan pemerintah, namun hal itu merupakan tanggung jawab kita semua,” tandasnya.*** (dre)





