Balihotnews.com | DENPASAR – Kanker prostat menempati posisi kedua sebagai kanker paling mematikan bagi pria setelah kanker paru-paru. Ironisnya, penyakit ini sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, sehingga banyak pasien baru mengetahui kondisinya ketika sudah memasuki stadium lanjut.
Dokter spesialis bedah urologi RSUP Prof. Ngoerah, dr. I Wayan Yudiana, menyebutkan bahwa sebagian besar pasien datang dalam kondisi parah.
“Ternyata 50 persen atau bahkan lebih (pasien), kami jumpai pada saat pertama kali datang itu sudah pada stadium empat atau sudah menyebar,” jelasnya dalam acara Customer and Press Gathering 2025 di RSUP Prof. Ngoerah, Jumat (10/10/2025).
Untuk menekan angka keterlambatan diagnosis, RSUP Prof. Ngoerah kini menghadirkan biopsi prostat robotik, teknologi berbasis MRI-targeted fusion biopsy yang mampu mendeteksi kanker prostat lebih dini dengan akurasi hingga 95 persen.
Direktur Utama RSUP Prof. Ngoerah, dr. I Dewa Made Sukma, Sp.An(K), menjelaskan bahwa inovasi ini merupakan langkah penting rumah sakit dalam meningkatkan layanan kesehatan, khususnya bidang onkourologi.
“Melalui teknologi biopsi robotik, pengambilan sampel jaringan prostat dapat dilakukan dengan tingkat presisi yang lebih tinggi dan risiko komplikasi yang lebih rendah. Ini menjadi upaya kami untuk memberikan layanan terbaik bagi masyarakat Bali,” ujarnya.
Teknologi ini bekerja dengan menggabungkan citra MRI beresolusi tinggi dengan USG real-time yang dibantu oleh artificial intelligence (AI). AI membantu dokter menentukan titik pengambilan jaringan secara tepat, tanpa perlu pengambilan sampel berulang seperti metode konvensional.
dr. Yudiana menambahkan, pendekatan ini memberikan hasil yang jauh lebih akurat.
“Gambaran USG prostatnya kami gabung dengan gambaran MRI yang sebelumnya sudah dikerjakan. Nah kemudian, dari gambaran MRI, gambaran USG itu, kemudian ada tampak benjolan-benjolan atau lesi-lesi kecil. Nah itu kemudian digabungkan, diconfirm, jadi pakai artificial intelligence itu sehingga nanti terconfirm dia (kanker atau bukan),” paparnya.
Selain lebih presisi, teknologi ini juga mengurangi risiko infeksi pada rektum yang sering terjadi pada metode lama, seperti transrectal ultrasound (TRUS).
“Dengan alat baru ini bisa mengurangi risiko infeksi pada rektum dibanding penggunaan USG transrectal ultrasound (TRUS),” tambahnya.
Alat dengan nilai investasi sekitar Rp8 miliar ini didatangkan dari Singapura, dengan komponen utama dari Amerika Serikat dan Jerman. RSUP Prof. Ngoerah menjadi rumah sakit pemerintah kedua di Indonesia yang menggunakan sistem biopsi berbasis robot ini, setelah RSCM Jakarta.
Kepala Kelompok Staf Medis (KSM) Urologi RSUP Prof. Ngoerah, dr. Gede Wirya Kusuma Duarsa, menuturkan bahwa sistem biopsi robotik ini sudah digunakan pada lima pasien di Bali.
“Sudah mengerjakan beberapa kali, tapi dalam frame sebagai suatu workshop, sebagai suatu introducing alat baru yang di sini,” jelasnya.
Terkait pembiayaan, dr. Wirya menyebutkan bahwa prosedur biopsi robotik berpotensi ditanggung BPJS Kesehatan ke depannya.
“Nomor satu, kalau pemakaian makin banyak tentu biaya yang habis pakai makin rendah. Kemungkinan besar akan dipakai oleh BPJS. Yang kedua, subsidi silang. Bisa saja dari sisi lain kita dapat lebih, dari sini kita subsidi silang. Itu nanti manajemen yang memutuskan,” pungkasnya.
Dengan hadirnya teknologi biopsi robotik di RSUP Prof. Ngoerah, diharapkan masyarakat Bali bisa mendapatkan deteksi dini kanker prostat dengan tingkat akurasi yang tinggi, sekaligus membuka peluang hidup lebih panjang bagi para pasien. (rhm)





