Visi Emas NTT, 25 Ribu Pelajar Disiapkan Jadi Ahli IT Bersertifikat Gratis

Gubernur Nusa Tenggara Timur Melky Lakalena (berdiri) memberikan sambutan saat membuka Uji Kompetensi dan Sertifikasi bidang komputer dan programmer di Kupang, Kamis (20/11/2025). Kegiatan ini diharapkan memperkuat kualitas SDM digital di NTT. (Balihotnews/red).
Gubernur Nusa Tenggara Timur Melky Lakalena (berdiri) memberikan sambutan saat membuka Uji Kompetensi dan Sertifikasi bidang komputer dan programmer di Kupang, Kamis (20/11/2025). Kegiatan ini diharapkan memperkuat kualitas SDM digital di NTT. (Balihotnews/red).

Balihotnews.com | ​KUPANG – Sebanyak 25.000 pelajar dan mahasiswa di Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapatkan kesempatan emas untuk meningkatkan daya tawar di dunia kerja.

Melalui Asosiasi Komputer Siber Indonesia (Aksibindo) bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Teknologi Informatika menggelar uji kompetensi dan sertifikasi profesi gratis guna mencetak talenta digital yang kompetitif dari Indonesia Timur.

Program strategis ini resmi bergulir sejak Kamis (20/11/2025) di Kupang, ditandai dengan pembukaan Uji Kompetensi Gratis yang dihadiri langsung oleh Gubernur NTT Melky Lakalena. Hadir pula jajaran pimpinan daerah, antara lain Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga NTT Ambros Kodo, perwakilan Dinas Kominfo, Disnakertrans, Direktur Utama Bank NTT, serta tokoh akademisi dan rohaniwan setempat.

​Ketua Umum Aksibindo, Komang Purnama, saat dihubungi dari Denpasar, Selasa (25/11/2025), menegaskan bahwa program ini mengusung misi besar “Visi Emas untuk NTT”.

Berita Terkait:  Kriyanusa 2026, Dekranasda Klungkung Kenalkan Produk Kerajinan Lokal

Melalui kolaborasi dengan LSP Teknologi Informatika, TUK Ayo Bangun NTT, dan LSP P1 SMKN 1 Kupang, pihaknya menargetkan ribuan anak muda NTT memiliki “paspor” resmi untuk masuk ke dunia industri.

​”Kami menyediakan 25.000 slot uji kompetensi gratis. Prioritas utama kami adalah siswa SMK dan SMA yang kurang mampu dan tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, serta mahasiswa yang membutuhkan validasi keahlian,” ujar Komang.

​Menurut Komang, di era digital saat ini, ijazah saja tidak cukup. Sertifikat kompetensi merupakan bukti otentik yang mengakui keahlian teknis seseorang di mata Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI).

“Sertifikat ini memvalidasi bahwa mereka bukan hanya ‘tahu’, tetapi ‘mampu’ melakukan pekerjaan. Ini langkah konkret menjembatani kesenjangan antara kurikulum pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja,” tambahnya.

Berita Terkait:  100 Persen PHDI Provinsi Terdaftar, Mahasabha XIII PHDI Siap Digelar

​Langkah agresif Aksibindo ini didasari oleh riset lapangan yang dilakukan bersama Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA). Penelitian tersebut menyoroti nasib tenaga kerja asal NTT di Bali yang kerap dihargai murah.

“Kesimpulan kami, banyak pencari kerja asal NTT memiliki semangat tinggi namun tidak memiliki bukti kompetensi formal. Akibatnya, skill mereka tidak dihargai semestinya secara finansial,” jelas Komang.

Sebagai solusi, Aksibindo mengusulkan konsep Upskilling Extreme atau percepatan keahlian kepada Pemerintah Provinsi NTT. Pola ini dirancang sistematis: siswa kelas 1 SMK mengikuti Uji Kompetensi (UK) Muda, kelas 2 mengikuti UK Madya, dan kelas 3 menuntaskan UK Senior/Utama.

“Melalui skema ini, saat lulus sekolah, anak-anak NTT sudah siap tempur dengan standar gaji yang layak,” tegasnya.

Berita Terkait:  KPK Apresiasi Pemprop Bali, Gubernur Koster Terima Penghargaan Kontribusi Teraktif Pelaksanaan SPI Pendidikan

​Program sertifikasi ini mencakup berbagai bidang keahlian vital, mulai dari operator komputer, desain grafis dan multimedia, jaringan komputer (networking), keamanan siber (cyber security), hingga administrasi sistem informasi. Seluruh skema pelatihan dan pengujian terintegrasi dengan standar Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Komang optimistis, dengan sertifikasi profesi, generasi muda NTT tidak hanya mampu bersaing di tingkat lokal, tetapi juga siap memasuki bursa kerja global dan kewirausahaan digital.

​”Ini bukan sekadar jargon. Ini adalah persiapan nyata menyongsong Indonesia Emas 2045, di mana SDM NTT harus tampil produktif dan tangguh,” pungkasnya.*** (nol)

Berita Terkini