SekolahRakyat:Jembatan Emas MenujuBali Bebas Kemiskinan

I Made Dirgayusa

Oleh:IMade Dirgayusa Ketua EW-LMND Bali

Balihotnews.com l DENPASAR- 

Kemiskinan masih sering menjadi masalah utama bagi berbagai daerah, Bali sebagai daerah destinasi wisata Internasional dan sebagai daerah penyumbang devisa Pariwisata terbesardiIndonesiapuntakluputdarikemiskinan.PadaSeptember2019,KemiskinandiBali telah turun hingga mencapai angka 3,61% atau 156,91 ribu penduk. Namun, pada tahun 2020 COVID 19 telah mendarat di Bali,menghancurkan pariwisata yang merupakan tulang punggungperekonomianBali,PHKterjadidimana-mana,angkakemiskinannaikhinggapada puncaknya pada september 2021 mencapai 4,72% atau 2011,46 Jiwa. Pasca Covid 19, Perekonomian Bali perlahan pulih kembali sampai pada angka 3,42% atau 160,09 ribu Jiwa pada 2026 (Berita Resmi Statistik 2026, BPS Provinsi Bali), pemulihan ini tidak lepas dari Kerjasama dan kolaborasi yang baik antara pemerintah dan penduduk Provinsi Bali. Namun, di Tengah tren penurunan angka kemiskinan ini masih terdapat ketimpangan yang tidak bisa diabaikanantarasikayadansimiskin,daerahperkotaandandaerahpedesaan,daerahdestinasi dan yang bukan destinasi pariwisata, yang menjadi urgensi kita untuk mendukung dan mendorong mereka agar dapat keluar dari belenggu rantai kemiskinan.

Berita Terkait:  Titik Nol 66: Setelah 66 Tahun, Sejarah Carut Marut Tata Kelola Agraria

Kemiskinan bukan hanya tentang kekayaan yang dimiliki, namun juga akses yang terbatas terhadap fasilitas yang ada seperti Pendidikan, makanan bergizi, dan Kesehatan. Keterbatasan tersebut menyebabkan terhambatnya perkembangan potensi anak, sehingga menimbulkansuatu“loop”ataupolaberulang,anakdarikeluargamiskinseringkalimengikuti jejak kemiskinan orang tuanya karena terbatasnya kesempatan tersebut.

Sukarno menyatakan bahwa “untuk membangun suatu bangsa, harus dimulai dari membangun manusianya” yang mengingatkan kita bahwa manusia atau pendudukanya lah yang menjadi aktor utama dalam pembangunan bangsa, manusia Indonesia sendiri lah yang berperan untuk mengolah dan mengelola berbagai sumberdaya yang ada untuk membangun bangsaIndonesia,sehinggasangatdiperlukansuatuinstrumentuntukmeningkatkankapasitas manusiaIndonesiaitusendiri.UUno.20tahun2003menyatakanbahwa“Pendidikanbertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar beriman, berilmu, cakap, kreatif dan bertanggung jawab” yang menyiratkan bahwa pendidikan merupakan instrument penting dan utama untuk meningkatkan kapasitas manusia yang selanjutnya akan meningkatkan kualitas hidupnya dan pada akhirnya meningkat pula kualitas bangsanya.

Peranan Pendidikan yang sedimikian besar tak luput dari berbagai kendala yang menyertainya, sinar pengetahuan dari Pendidikan nasional belum dapat mencapai seluruh rakyat Indonesia walupun itu adalah hak yang telah dijamin oleh konstitusi. masih terdapat 4 juta anak Indonesia dan 28.000 anak Bali yang tidak dapat mempertahankan bangku sekolahnyaatausamasekalibelumpernahtersentuhPendidikanformal.Kemiskinansendirilah yangseringkalimenjadifaktorutamayangmemaksaanak usiasekolahuntuktidakatauputus sekolah, ini adalah sebuah paradoks-suatu instrument untuk membebaskan rakyat dari kemiskinan namun tidak dapat dijangkau oleh rakyat miskin itu sendiri. Biaya sekolah tidak tidakterbataspadauanggedungyangbahkanpadasekolahnegerisudahdigratiskan,tapimasih banyakbiayalainyayangberperanbesardalammenunjangPendidikananakIndonesia,seperti

Berita Terkait:  Harapan kepada Kapolri Baru: Teladani Hoegeng, Lindungi Rakyat

Buku,Seragam,transportasi,bekalsekolah,dll.biaya-biayatersebutseringkalitidak terjangkau oleh ekonomi masyarakat miskin.

SekolahRakyatadalahprogramvisionermunculuntukmenyelesaikanparadokstersebut, program ini dapat menjadi tali untuk menyelamatkan masyarakat dari pusaran badai kemiskinan, program yang tidak hanya menyelesaikan faktor ekonomi sebagai hambatan Pendidikan tetapi juga faktor lingkunganya. Sekolah rakyat dikhususkan untuk anak dari keluargamiskinhinggamiskinekstrem,yangtidakdapatmenlanjutkansekolahmaupunyang tidak pernah sekolah samasekali. Untuk dapat memaksimalkan perkembangan anak yang nantinya akan menjadi agen perubahan untuk keluarga dan lingkunganya, Sekolah Rakyat menyediakanfasilitaslengkapsepertiasrama,buku,seragam,fasilitasKesehatan,danlain-lain secara gratis dan dijamin oleh negara.

Di Provinsi Bali saat ini baru terdapat satu Sekolah Rakyat permanen, yaitu Sekolah Rakyat Provinsi Bali yang berlokasi di Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem.Sekolahinimenyelenggarakanpendidikanpadatigajenjang,yaituSekolahDasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Sekolah tersebut memiliki kapasitas 276 peserta didik, dengan alokasi 90 peserta didik pada setiap jenjang pendidikan (SD, SMP, dan SMA). Menurut dashboard ATS, di Bali sendiri masih terdapat sekitar 27,791yang tidak bersekolah dengan rincian 44,22% nya atau 12.293 adalah anakyangbelumpernahsekolah(BPB),30,82%LulusTidakMelanjutkan(LTM),dan24,96% ny adalah Drop Out (DO). Jikamengacu pada rentang usia sekolah dasar-menengah atas (6-18Tahun) terdapat 11,946 atau bila kita hitung rata-rata perAngkatan usia terdapat 995 anak yang tidak sekolah (11,946/12), jumlah ini jauh melampaui daya tampung SR Provinsi Bali yang hanya sekitar 90 anak perAngkatan. Dari penjabaran tersebut dapat disimpulkan bahwa satusekolahrakyatsajatidakcukupdiBali,masihperludibangunlebihbanyaksekolahrakyat dikabupaten/kotalainyauntukmendukungupayapemerintahprovinsiBalikarenaPendidikan merupakansaranautamapembebasandarikemiskinandansekolahrakyatmerupakanjembatan emas bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin eksrem untuk dapat menikmati Pendidikan dalam upaya mereka merubah kualitas hidup keluarga dan lingkungannya. (Bhn)

Berita Terkait:  Gubernur Koster Tegaskan Komitmen Bali Hadapi Perubahan Iklim melalui Pengembangan Kawasan Rendah Emisi

Berita Terkini