Balihotnews.com | TABANAN – Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya mengajak generasi muda kembali melirik sektor pertanian sebagai profesi modern, relevan, dan menjanjikan.
Langkah ini diambil menyusul kekhawatiran meningkatnya usia petani di Tabanan yang kini didominasi kelompok lanjut usia, sehingga mengancam keberlanjutan pangan dan sistem Subak.
“Petani adalah pilar kedaulatan pangan kita. Generasi muda harus melihat pertanian sebagai sektor modern, menjanjikan, dan bermartabat,” tegas Sanjaya saat membuka Bimbingan Teknis dan Sarasehan Petani Muda Milenial di Gedung Kesenian I Ketut Maria Tabanan, Kamis (27/11/2025).
Lebih lanjut, Sanjaya menilai tantangan terbesar saat ini adalah mengubah persepsi lama bahwa bertani tidak menarik. Oleh sebab itu dia mendorong anak muda tampil kreatif, adaptif teknologi, dan menjadikan pertanian sebagai gaya hidup yang membanggakan.
“Petani muda Tabanan harus berdaya saing. Manfaatkan teknologi, gunakan marketplace, dan lakukan inovasi,” ucap pejabat asal Dauh Pala Tabanan tersebut.
Sanjaya juga menyoroti pentingnya menjaga keberlanjutan sistem Subak yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia. Ia menegaskan, keberlangsungan Subak bergantung pada lahirnya generasi baru yang memilih bertani.
Apalagi ditambah hadirnya petani muda di Tabanan, kata Sanjaya, harusnya menjadi sebuah kebanggan, mengingat daerah ini dikenal sebagai lumbung pangan Bali dan memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keberlanjutannya di tengah derasnya arus pariwisata.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pertanian Tabanan I Made Subagia mengungkapkan bahwa rata-rata petani kini berusia lanjut sehingga diperlukan strategi untuk regenerasi.
Melalui hadirnya Bimtek ini, kata Subagia, merupakan inisiasi Bupati Sanjaya untuk mengembalikan minat generasi muda terhadap sektor pangan.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Bupati Sanjaya menyerahkan Sertifikat Registrasi Lahan Kebun Tahun 2025 kepada tiga kelompok tani yang dinilai memenuhi standar Good Agriculture Practices (GAP) dan Good Handling Practices (GHP). Mereka adalah:
Kelompok Salak Madu Farm dari Desa Mundeh Kauh; Kelompok Subak Batur Sari (Manggis) dari Desa Tiing Gading dan Kelompok Subak Abian Lumbung Wangkal Amerta dari Desa Lumbung.
Subagia menjelaskan bahwa para pelaku pertanian yang hadir merupakan inovator, mulai dari duta pertanian daerah dan nasional, pelaku budidaya lele, peternakan sapi perah, peternakan babi, hingga pemuda yang mengikuti program magang pertanian di Jepang.*** (dre)





