Pemimpin yang Tak Pernah Tinggalkan Rakyat

Foto: Prof. Dr. Ida Bagus Raka Suardana, SE.,MM., Guru Besar FEB Undiknas Denpasar. (Balihotnews/ist).

Balihotnews.com | DENPASAR – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang melanda Bali pada pertengahan Oktober 2026 menjadi ujian nyata bagi kepemimpinan daerah.

Antrean panjang di sejumlah SPBU mengganggu mobilitas masyarakat, aktivitas ekonomi, dan pelayanan pariwisata. Persoalan ini bukan semata-mata berkaitan dengan ketersediaan stok, tetapi juga dipengaruhi kendala distribusi, keterlambatan pengangkutan, dan meningkatnya permintaan dalam waktu bersamaan.

Ketika masyarakat khawatir kehabisan BBM, sebagian memilih mengisi bahan bakar lebih cepat atau membeli dalam jumlah lebih banyak sehingga tekanan terhadap pelayanan SPBU semakin besar.

Situasi tersebut menunjukkan pentingnya sistem distribusi yang tangguh, koordinasi yang efektif, dan komunikasi publik yang transparan.

Dalam situasi tersebut, Gubernur Bali, I Wayan Koster memperlihatkan gaya kepemimpinan yang layak disebut sebagai kepemimpinan pembela rakyat. Ia tidak sekadar menunggu laporan dari balik meja, tetapi turun langsung menemui pihak yang bertanggung jawab terhadap distribusi BBM, yakni pimpinan PT Pertamina.

Gubernur Koster mendorong percepatan penanganan pasokan, meminta kejelasan mengenai persoalan distribusi, dan memastikan langkah penyelesaian benar-benar dilakukan.

Tidak berhenti disana, Gubernur Koster berkeliling dari satu SPBU ke SPBU lainnya untuk melihat langsung kondisi di lapangan.

Berita Terkait:  Temui Massa Aksi, Koster Pastikan UMP Bali Naik: Besarannya Dibahas Bersama Pekerja dan Pengusaha

Kesediaannya bekerja hingga larut malam memperlihatkan bahwa tanggung jawab pemimpin tidak cukup diwujudkan melalui instruksi, tetapi harus disertai pengawasan dan tindakan nyata.

Keberanian Gubernur Koster menghadapi masyarakat yang sedang emosional juga menjadi gambaran penting dari kepemimpinannya. Warga yang mengantre berjam-jam tentu mengalami kelelahan, kehilangan waktu produktif, dan ketidakpastian.

Dalam keadaan demikian, pemimpin berpotensi menerima kritik keras, hujatan, bahkan perundungan.

Namun, Gubernur Koster tetap hadir di tengah masyarakat dan berupaya memastikan keluhan mereka mendapat perhatian. Ketika menemukan persoalan pelayanan di SPBU, ia secara tegas meminta penjelasan dan mendorong petugas agar mengutamakan pelayanan yang baik kepada masyarakat.

Sikap tersebut mencerminkan keberanian seorang pemimpin untuk mengingatkan pihak terkait sekaligus memperjuangkan hak masyarakat memperoleh BBM secara tertib dan adil.

Ketegasan yang disertai kepedulian ini menunjukkan bahwa bagi Koster, kepentingan rakyat harus menjadi prioritas, terutama ketika masyarakat sedang menghadapi kesulitan.

Gaya kepemimpinan tersebut dapat dianalisis melalui tiga teori. Pertama, servant leadership yang dikemukakan Greenleaf (1977), yaitu kepemimpinan yang menempatkan pelayanan kepada orang lain sebagai inti tanggung jawab pemimpin. Jabatan bukan sekadar simbol kekuasaan, melainkan sarana untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Berita Terkait:  Stok BBM Bali Ditambah, Antrean Kendaraan di SPBU Denpasar dan Badung Masih Mengular

Ketika Gubernur Koster mendatangi SPBU dan menyaksikan langsung kesulitan warga, ia memperlihatkan orientasi pelayanan yang menjadi dasar teori ini.

Kedua, transformational leadership dari Bass (1985), yang menekankan keteladanan, motivasi, dan kemampuan menggerakkan pihak lain menuju tujuan bersama. Kesediaan gubernur bekerja hingga larut malam memberikan pesan bahwa persoalan publik harus ditangani dengan kesungguhan. Ketegasan kepada pihak terkait juga menjadi dorongan agar koordinasi dan tanggung jawab dalam distribusi BBM semakin baik.

Ketiga, situational leadership dari Hersey dan Blanchard (1969), yang menjelaskan pentingnya menyesuaikan pendekatan kepemimpinan dengan kebutuhan situasi. Dalam keadaan darurat, pemimpin harus mampu mengambil keputusan cepat, memberikan arahan yang jelas, sekaligus membangun komunikasi dengan pihak-pihak yang terdampak.

Perpaduan koordinasi dengan Pertamina, pengawasan lapangan, dan interaksi dengan masyarakat mencerminkan pentingnya pendekatan adaptif dalam menghadapi krisis.

Berita Terkait:  Gubernur Koster Dorong Pengembangan Potensi Kelautan Berbasis Riset untuk Perkuat Ekonomi Kerthi Bali

Berbagai langkah penanganan kemudian diarahkan untuk mempercepat pasokan, memperlancar distribusi, dan mengurai antrean di SPBU.

Menjelang akhir pekan, kondisi berangsur membaik dan pelayanan di sejumlah wilayah mulai kembali normal. Perkembangan ini menunjukkan pentingnya kerja bersama antara pemerintah daerah, Pertamina, pengelola SPBU, dan masyarakat.

Meski demikian, perbaikan jangka pendek harus diikuti evaluasi sistem distribusi, kesiapan menghadapi gangguan pengangkutan, serta penyampaian informasi yang akurat agar kepanikan tidak memperbesar persoalan serupa pada masa mendatang.

Pada akhirnya, kepemimpinan tidak cukup diukur dari popularitas, pidato, atau kewenangan formal. Ukurannya terletak pada keberanian mengambil tanggung jawab, kesediaan menghadapi kritik, dan kemampuan mengupayakan solusi nyata.

Pemimpin pembela rakyat bukanlah pemimpin yang selalu terbebas dari kritik, melainkan pemimpin yang tetap bekerja ketika rakyat sedang menghadapi kesulitan.

Itulah pelajaran penting dari langkah Koster dalam menangani kelangkaan BBM di Bali: hadir di tengah persoalan, tegas dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat, dan memastikan penyelesaian menjadi prioritas utama. (red).

 

Berita Terkini