Jurnalis Diingatkan Tak Jadi Budak Mesin di Era Al

Pembicara Emanuel Dewata Oja (5 dari kiri), IbnuYunianto (2 dari kanan) dan peserta berfoto bersama di akhir acara. (balhotnews/istimewa)
Pembicara Emanuel Dewata Oja (5 dari kiri), IbnuYunianto (2 dari kanan) dan peserta berfoto bersama di akhir acara. (balhotnews/istimewa)

Balihotnews.com | DENPASAR — Kemajuan kecerdasan buatan (AI) membawa perubahan besar dalam dunia jurnalistik. Di tengah derasnya arus informasi dari media sosial, kemampuan jurnalis dalam memeriksa dan memastikan kebenaran informasi menjadi semakin penting.

Menyikapi kondisi tersebut, Radar Bali menggelar pelatihan peningkatan kapasitas jurnalistik bertajuk “Pemanfaatan Akal Imitasi (AI) untuk Cek Fakta Menjaga Kepercayaan Publik” di Quest Hotel, Denpasar, Sabtu (5/9/2026).

Pelatihan ini ditujukan untuk memperkuat kemampuan jurnalis dalam memanfaatkan teknologi AI sekaligus tetap menempatkan prinsip jurnalistik dan verifikasi sebagai landasan utama dalam menghasilkan berita.

Jurnalis Dituntut Beradaptasi dengan Perkembangan Teknologi

Ketua Panitia sekaligus Pemimpin Redaksi radarbali.id, Muhammad Ridwan, mengatakan perkembangan teknologi menuntut insan pers untuk terus beradaptasi.

“Seperti di Tiongkok yang sudah menggunakan AI, tapi tidak sepenuhnya menggantungkan diri pada teknologi tersebut. Kalau bicara ilmu jurnalistik, baik tingkat dasar maupun lanjutan, intinya adalah bagaimana kita beradaptasi dengan perubahan zaman dari era konvensional, digital, hingga AI saat ini,” jelas Ridwan, usai acara pelatihan.

Pelatihan tingkat lanjut atau high level tersebut diikuti jurnalis dari berbagai platform media, mulai dari media cetak, online, televisi hingga radio.

Berita Terkait:  Kunjungi Ditjen Infrastruktur Digital, Pj. Sekda Agung Mahajaya Perjuangkan Penguatan Jaringan Telekomunikasi di Nusa Penida

Ridwan yang juga bertindak sebagai moderator menghadirkan dua praktisi media sebagai narasumber, yakni Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Bali, Emanuel Dewata Oja, serta Wakil Direktur Jawa Pos Radar Bali, Ibnu Yulianto.

Ke depan, Ridwan berharap kegiatan serupa dapat diperluas dengan melibatkan lebih banyak unsur di ruang redaksi, termasuk para editor.

AI dalam Jurnalistik Tetap Harus Berpedoman pada Etika

Dalam pemaparannya, Emanuel Dewata Oja atau yang akrab disapa Edo mengingatkan bahwa penggunaan AI dalam karya jurnalistik telah memiliki pedoman.

Ia merujuk pada Peraturan Dewan Pers Nomor 1/Peraturan-DP/I/2025 tentang Pedoman Penggunaan Kecerdasan Buatan dalam Karya Jurnalistik.

“Di sana diatur secara lengkap bagaimana AI masuk ke ruang redaksi. Aturan inilah yang ingin saya segarkan kembali kepada rekan-rekan jurnalis sebagai pedoman dalam bekerja,” jelasnya.

Edo menegaskan penggunaan AI bukan sesuatu yang dilarang. Namun, pemanfaatannya tetap harus mengikuti rambu-rambu, khususnya dengan mengedepankan Kode Etik Jurnalistik (KEJ).

Menurutnya, pemahaman terhadap aturan tersebut penting agar jurnalis dapat meminimalkan risiko kesalahan, misinformasi, disinformasi hingga persoalan hukum.

Berita Terkait:  Dewan Pers Dorong Jurnalis Dapat Bagian Adil dari Nilai Ekonomi Konten Digital

“Jurnalis tidak boleh menjadi budak mesin. Karena satu karya jurnalistik bersinggungan dengan banyak rezim hukum, maka kita harus berhati-hati. Jika tanpa pengetahuan yang cukup, pasti kita tidak siap menghadapinya,” terang Edo.

Ia juga memaparkan berbagai tantangan yang dapat dihadapi jurnalis, termasuk tekanan hukum yang sengaja dilakukan pihak tertentu untuk menimbulkan efek kejut atau chilling effect.

Karena itu, Edo mengapresiasi langkah Radar Bali menggelar pelatihan tersebut. Menurutnya, peningkatan kapasitas diperlukan untuk membangun mental sekaligus memperkuat pengetahuan wartawan ketika menghadapi berbagai dinamika di lapangan.

Media Sosial Jadi Tantangan Verifikasi

Sementara itu, praktisi sekaligus akademisi media digital Ibnu Yunianto menjelaskan bahwa berbagai tools AI yang tersedia saat ini dapat dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan jurnalistik.

Menurutnya, jurnalis tidak perlu khawatir teknologi AI akan langsung mengambil alih peran manusia. Justru, teknologi tersebut dapat digunakan sebagai instrumen pendukung, terutama ketika wartawan berhadapan dengan derasnya informasi yang belum teruji di media sosial.

Ibnu menyebut data menunjukkan media sosial kini menjadi salah satu rujukan utama jurnalis dalam mencari bahan berita. Sementara itu, sebagian lainnya masih mengandalkan siaran pers maupun media cetak.

Berita Terkait:  Pemkab Klungkung Gandeng Korea Selatan Wujudkan Transisi Energi dan Nusa Penida Green Island 2030

Sejumlah riset yang dipaparkan dalam pelatihan tersebut menunjukkan persentase jurnalis yang menggunakan media sosial sebagai sumber awal informasi cukup tinggi. Angkanya bahkan mencapai 62 persen, 72 persen hingga 94 persen di sejumlah kawasan.

Sebaliknya, sekitar 15 persen jurnalis disebut merujuk artikel media cetak sebagai bahan awal berita.

Tingginya ketergantungan terhadap media sosial menjadi tantangan tersendiri bagi jurnalis. Sebab, informasi yang beredar tidak selalu melalui proses verifikasi sebelum dikonsumsi publik.

Ibnu pun mengingatkan wartawan untuk memiliki kemampuan analisis yang tajam agar tidak justru ikut menyebarkan informasi palsu atau hoaks.

Menurutnya, kepercayaan publik merupakan taruhan terbesar bagi media.

“Penggunaan AI dalam verifikasi fakta ini menjadi benteng agar karya jurnalistik kita tetap presisi, akurat, dan terus menjaga trust masyarakat,” tandas Ibnu.

Pelatihan berlangsung interaktif. Para peserta terlihat antusias mengikuti pemaparan dan turut berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang mereka hadapi dalam penggunaan AI, mulai dari aspek etika, batasan pemanfaatan teknologi hingga penerapannya dalam pekerjaan jurnalistik sehari-hari. (drh)

Berita Terkini