Balihotnews.com | DENPASAR – Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Provinsi Bali mendorong perguruan tinggi mengambil peran lebih besar dalam memperkuat mitigasi bencana dan adaptasi perubahan iklim.
Untuk itu, FPRB Provinsi Bali menggelar dialog multipihak bertajuk “Pertukaran Pengetahuan dan Penguatan Implementasi Kampus Siaga Bencana Berbasis PRB-API” di Sanur Resort Watu Jimbar, Denpasar, Rabu, 15 Juli 2026.
Kegiatan yang dibuka Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Bali, Ida Bagus Gede Widnyana Putra, S.Kom., M.T., mewakili Kepala Pelaksana BPBD Bali, dihadiri Ketua FPRB Bali I Putu Suta Wijaya, perwakilan LLDIKTI Wilayah VIII, akademisi, dunia usaha, serta media.
Dalam sambutannya, Widnyana Putra menegaskan perubahan iklim telah meningkatkan ancaman bencana hidrometeorologi di Bali. Ia mengingatkan kembali banjir besar yang melanda sejumlah wilayah pada periode September hingga November 2025 yang mengakibatkan 18 orang meninggal dunia, sementara empat korban hingga kini belum ditemukan.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa penanggulangan bencana tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh unsur masyarakat melalui pendekatan multihelix.
BPBD Bali juga menyoroti masih minimnya penelitian kebencanaan yang dilakukan perguruan tinggi di Bali. Padahal, Pulau Dewata kerap menjadi lokasi berbagai fenomena bencana alam yang dapat dijadikan laboratorium penelitian.
Selain memperkuat riset lokal, perguruan tinggi juga didorong mengoptimalkan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik dengan fokus pada analisis risiko bencana di desa, mitigasi vegetasi, hingga peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.
“Kami berharap perguruan tinggi melalui kapasitas dosen dan mahasiswanya menjadi ruang wadah utama penguatan kajian risiko bencana. Kami sangat mengapresiasi beberapa kampus yang sudah bergerak cepat mengundang kami memberikan pembekalan KKN bertema mitigasi kebencanaan,” ujar Widnyana Putra.
Dalam forum tersebut juga disepakati percepatan implementasi Gerakan Bali Menanam 1 Juta Pohon sebagai tindak lanjut lokakarya Forum Multihelix yang digelar pada Mei 2026. Program ini akan disinergikan dengan pelaksanaan KKN Tematik mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di bawah naungan LLDIKTI Wilayah VIII.
Melalui program tersebut, mahasiswa akan terlibat langsung melakukan mitigasi vegetasi di desa-desa binaan sebagai upaya menekan dampak pemanasan global sekaligus mengurangi risiko longsor dan banjir bandang di berbagai wilayah rawan di Bali.
Ketua FPRB Bali, I Putu Suta Wijaya, mengatakan dialog ini menjadi wadah untuk menyatukan berbagai pemangku kepentingan dalam merumuskan solusi menghadapi tantangan kebencanaan di Bali.
Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat dapat melahirkan inovasi sekaligus memperkuat kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi berbagai ancaman bencana yang dipicu perubahan iklim. (red).





