Balihotnews.com | BULELENG – Kepanikan melanda warga Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali. Mereka kini hidup dalam bayang-bayang kekhawatiran, setelah puluhan ular piton tiba-tiba muncul dari hutan dan menyebar ke pemukiman, ladang hingga sekitar Danau Buyan. Warga Desa Pancasari.
Warga menduga kuat ular-ular tersebut dilepasliarkan oleh petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) tanpa adanya sosialisasi dan kajian yang memadai.
Mereka berharap kasus ini menjadi pelajaran penting agar program konservasi tidak asal jalan, apalagi mengorbankan keselamatan masyarakat.
Ketut Sumerta dan Kadek Edi Setiawan yang kerap memancing di Danau Buyan, menuturkan bahwa kemunculan ular piton ini bukan fenomena biasa. Ia bersama sejumlah warga telah menemukan lebih dari 20 ekor piton dalam sebulan terakhir, bahkan hampir 15 ekor ditemukan dalam kondisi mati di pinggiran danau.
“Ini jelas bukan habitat ular piton. Mereka biasa hidup di daerah panas dan lembap, bukan dataran tinggi dan dingin seperti Pancasari. Yang kami sesalkan, pelepasan ular ini dilakukan diam-diam, tanpa sosialisasi ke warga. Sekarang kami yang kena getahnya,” kata Ketut Budiastika yang tinggal di kawasan Danau Buyan, Sabtu, 5 Juli 2025.
Warga menyebut pelepasan ular piton itu seolah-olah dilakukan sembunyi-sembunyi, tanpa memperhitungkan risiko terhadap keselamatan manusia, ternak dan keseimbangan ekosistem. Mereka juga mempertanyakan motif dan dasar ilmiah pelepasan tersebut.
“Kami bukan menolak konservasi. Tapi ini sembrono. Ular piton itu predator, bukan hewan kecil. Kalau sampai anak-anak diserang atau ternak hilang, siapa yang tanggung jawab,” ungkap Ketut Budiastika yang tinggal tak jauh dari lokasi temuan ular.
Selain keresahan soal keselamatan, warga juga mengkritik lemahnya pengawasan pasca pelepasan. Fakta bahwa belasan ekor ular mati karena cuaca dingin dianggap sebagai bukti nyata bahwa kawasan Danau Buyan bukan lokasi ideal untuk reptil jenis ini.
“Sudah jelas salah tempat. Bahkan ular-ular itu tidak bertahan hidup. Kalau tujuannya konservasi, kenapa malah mati sia-sia? Ini bukan pelestarian, ini pembiaran,” kata Ketut Budiastika, warga lainnya dengan nada kecewa.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak BKSDA Bali. Warga mendesak agar BKSDA segera turun tangan, mengevakuasi ular yang tersisa, dan menjelaskan ke publik soal dasar pelepasan ular tersebut.
“Kami minta tindakan segera. Jangan tunggu korban manusia. Dan jangan ulangi hal seperti ini lagi tanpa koordinasi dan kajian yang jelas,” pungkasnya. (red)







