Bali Siapkan Trem Listrik Bandara-Canggu Groundbreaking Ditargetkan Maret 2027

Foto: Gubernur Bali Wayan Koster berfoto bersama Bupati Badung, Direktur Utama PT KAI, CEO Angkasa Pura, Sekda Kabupaten Badung serta sejumlah pihak terkait, usai menandatangani kerja sama pengembangan perkeretaapian di Gedung Kertasabha, Denpasar, Selasa (1/9/2026).(Balihotnews/ist).

Balihotnews.com | DENPASAR – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali bersama Pemerintah Kabupaten Badung dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI resmi menindaklanjuti rencana pengembangan transportasi perkeretaapian di Bali melalui pembangunan trem listrik berbasis baterai.

Moda transportasi baru tersebut dirancang menghubungkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dengan kawasan Canggu, Kabupaten Badung. Pengembangannya diarahkan menjadi salah satu solusi transportasi massal untuk mengatasi kepadatan lalu lintas di kawasan Badung.

Kerja sama pengembangan perkeretaapian tersebut ditandatangani di Gedung Kertasabha, Denpasar, Selasa (1/9/2026). Kegiatan dihadiri Gubernur Bali Wayan Koster, Bupati Badung, Direktur Utama PT KAI, CEO Angkasa Pura, Sekda Kabupaten Badung serta sejumlah pihak terkait.

Rencana ini merupakan tindak lanjut atas usulan Pemerintah Provinsi Bali dan Kementerian Bappenas untuk memperbaiki fasilitas serta sistem transportasi di Bali, khususnya di wilayah Kabupaten Badung yang menghadapi persoalan kepadatan lalu lintas.

PT KAI memilih konsep trem, bukan Mass Rapid Transit (MRT) maupun Light Rail Transit (LRT). Konsep tersebut dinilai lebih sesuai dengan karakteristik dan kondisi Bali.

Trem dirancang ramah lingkungan dengan teknologi baterai, tingkat kebisingan rendah, berukuran relatif kecil, serta terintegrasi dengan sistem transportasi lainnya. Penggunaan baterai membuat trem tidak membutuhkan kabel listrik di sepanjang jalur.

Untuk tahap awal, rute yang dirancang menghubungkan kawasan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dengan kawasan Canggu sepanjang sekitar 12 kilometer.

Berita Terkait:  Dinilai Teraktif Dukung SPI Pendidikan, KPK Beri Penghargaan Gubernur Koster 

Jalur trem akan menggunakan dua jalur dengan area persilangan yang disiapkan untuk mendukung kelancaran operasional. Lebar trase sekitar tiga meter, sedangkan dimensi trem sekitar dua meter lebih sehingga relatif kecil dan bahkan lebih kecil dibandingkan bus.

Angkut hingga 60 Ribu Penumpang per Hari

Koridor Bandara-Canggu menjadi salah satu wilayah dengan tingkat mobilitas yang sangat tinggi. Setiap hari diperkirakan terdapat sekitar 150 ribu orang yang bergerak di kawasan tersebut dengan sekitar 80 ribu kendaraan.

Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan utama perlunya moda transportasi massal baru. Kehadiran trem diharapkan dapat mengurangi kepadatan kendaraan, meningkatkan mobilitas masyarakat, mendukung konektivitas kawasan pariwisata, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.

Trem diproyeksikan mampu mengangkut sekitar 15 ribu hingga 20 ribu penumpang dalam kondisi maksimal. Waktu tempuh diperkirakan sekitar 30 menit dengan jeda keberangkatan antartrem sekitar 10 menit.

Dalam operasional maksimal, kapasitas angkut diproyeksikan mencapai sekitar 60 ribu penumpang per hari. Kapasitas tersebut diharapkan mampu mengakomodasi sekitar 40 persen kepadatan mobilitas pada koridor Bandara-Canggu.

Groundbreaking Maret 2027

Pembangunan trem listrik Bandara-Canggu ditargetkan mulai memasuki tahap groundbreaking pada Maret 2027.

Trase pertama ditargetkan mulai beroperasi pada 2028. Sementara seluruh jalur hingga Canggu ditargetkan selesai dan beroperasi pada 2029.

Berita Terkait:  Stok BBM Bali Ditambah, Antrean Kendaraan di SPBU Denpasar dan Badung Masih Mengular

Setelah penandatanganan kerja sama, sejumlah tahapan akan dilakukan, mulai dari studi teknis, penyusunan kajian lanjutan, sosialisasi kepada masyarakat, pelibatan desa adat, koordinasi dengan pelaku pariwisata, hotel dan akomodasi wisata, hingga melibatkan pemangku kepentingan lainnya.

Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan kerja sama tersebut merupakan tindak lanjut atas usulan Kementerian Bappenas dan Pemprov Bali untuk memperbaiki fasilitas dan sistem transportasi.

Menurutnya, fokus utama berada di Kabupaten Badung karena wilayah tersebut menghadapi persoalan kepadatan lalu lintas yang semakin tinggi.

Konsep trem kini dinilai semakin konkret untuk menjadi salah satu solusi kemacetan, khususnya pada jalur Bandara-Ngurah Rai hingga Canggu.

“Pengembangan transportasi harus tetap, Memperhatikan keunikan Bali, Menjaga keindahan Bali, Mendukung pariwisata dan Tidak mengganggu kehidupan masyarakat,” tandasnya.

Gubernur Koster menegaskan pembangunan trem tidak boleh mengganggu ekosistem pariwisata Bali. Jalur transportasi harus memperhatikan keberadaan hotel, akomodasi wisata, objek pariwisata, lingkungan, permukiman serta kehidupan masyarakat sepanjang trase.

“Kenyamanan wisatawan harus tetap dijaga. Keberadaan trem justru diharapkan dapat menjadi daya tarik baru bagi pariwisata Bali,” kata Gubernur Koster.

Tetap Menjaga Identitas dan Kearifan Lokal Bali

Trem yang dikembangkan di Bali dirancang berbeda dengan konsep kereta api konvensional. Karakteristik yang ingin ditonjolkan yakni tidak berisik, tidak berukuran besar, ramah lingkungan, menggunakan baterai, serta menyesuaikan kondisi dan kearifan lokal Bali.

Berita Terkait:  Made Westra Resmi Gantikan Suadi Putra sebagai Anggota DPRD Denpasar

Koster menekankan pengembangan transportasi di Bali harus tetap menjaga identitas, budaya, keindahan dan harmoni Bali.

Komitmen serupa disampaikan PT KAI. Perusahaan menempatkan aspek budaya, lingkungan dan kehidupan masyarakat lokal sebagai pertimbangan sejak tahap perencanaan.

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin mengatakan Bali dipandang sebagai wilayah strategis dengan keluhuran budaya, spiritualitas, jati diri masyarakat dan kehidupan sosial yang khas.

“Infrastruktur transportasi harus dikembangkan secara hati-hati. Kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan identitas dan harmoni Bali,” kata Bobby.

Menurutnya, teknologi baterai dipilih antara lain untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan, mengurangi kebisingan, serta menjaga kenyamanan masyarakat dan wisatawan.

Dengan panjang trase sekitar 12 kilometer, trem listrik Bandara-Canggu diharapkan menjadi alternatif transportasi massal untuk mengurai kepadatan lalu lintas sekaligus memperkuat konektivitas kawasan pariwisata.

Groundbreaking ditargetkan Maret 2027, trase pertama beroperasi pada 2028, dan seluruh jalur hingga Canggu ditargetkan beroperasi pada 2029. Moda ini dirancang dengan kapasitas maksimal sekitar 60 ribu penumpang per hari serta mengedepankan prinsip ramah lingkungan dan keselarasan dengan budaya serta kearifan lokal Bali. (red).

 

Berita Terkini