Balihotnews.com | DENPASAR – Kunto Aji resah. Bukan soal tur atau popularitas, melainkan udara yang ia dan keluarganya hirup setiap hari. Bagi penyanyi dan penulis lagu asal Tangerang Selatan ini, kualitas udara yang memburuk bukan sekadar angka statistik, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan untuk kedua anaknya.
“Udara itu gratis, tapi kenapa kita tidak bisa menikmatinya dengan baik?” keluhnya. “Kita tahu penyebab dan solusinya, tapi tidak ada tindakan nyata. Sebagai musisi, saya mulai bertanya: apa yang bisa saya lakukan?”
Pertanyaan serupa juga muncul dari hati puluhan musisi Indonesia lainnya. Dari kegelisahan personal ini, nama-nama seperti Kunto Aji, Reality Club, Teddy Adhitya, Petra Sihombing, The Brandals, hingga Scaller, sepakat berhenti sejenak dari hiruk-pikuk panggung. Mereka semua berkumpul di Ubud, Gianyar, Bali, bukan untuk konser, melainkan untuk belajar bersama tentang isu yang kian mendesak, yakni krisis iklim.
Dalam program bertajuk IKLIM (Indonesian Climate Communications, Arts & Music Lab), selama lima hari penuh para musisi mengikuti rangkaian kelas, diskusi, dan refleksi yang membongkar realitas krisis iklim Indonesia, mulai dari tambang nikel di Morowali, deforestasi tanpa henti, terancamnya ekosistem laut Raja Ampat, hingga ketergantungan kronis Indonesia pada batu bara.
“Musik punya kekuatan besar untuk menyampaikan keresahan sosial dan lingkungan secara emosional,” ujar I Gede Robi Supriyanto, vokalis band rock Navicula sekaligus salah satu pendiri IKLIM, dalam konferensi pers di Antida Music, Jalan Waribang, Kesiman, Denpasar, Jumat (27/6/2025) malam.
Robi mengatakan, IKLIM yang digagas sejak 2023, berupaya menjembatani para seniman dengan pengetahuan mendalam mengenai isu lingkungan.
“Lewat pendampingan para ahli, para peserta tidak hanya diajak bersimpati, tetapi memahami akar masalah dari berbagai aspek energi, hutan, laut, hingga ruang hidup komunitas adat,” tegas musisi ramah dan murah senyum tersebut.
Sementara itu, menurut Cipoy, gitaris band punk Sukatani, mengaku pengalaman ini membuka kesadarannya. “Krisis iklim bukan cuma soal lingkungan. Ini juga soal manusia, kebudayaan, struktur sosial. Kami sebagai musisi juga terdampak. Jadi penting bagi kami untuk bersuara,” katanya.
Pada tahun ini, gerakan IKLIM makin berkembang dengan bergabungnya 15 musisi baru, seperti Chicco Jerikho (aktor), Majelis Lidah Berduri, dan The Melting Minds. Mereka dibimbing oleh alumni IKLIM sebelumnya, yakni Cholil Mahmud (Efek Rumah Kaca), Iga Massardi, Endah Widiastuti (Endah N Rhesa), dan Tuantigabelas, dalam proses pembelajaran lintas generasi yang memperkuat semangat kolektif.
Robi menyebut, hasil dari lokakarya ini tak berhenti di ruang diskusi. Para musisi kini mengemban misi menerjemahkan kompleksitas isu lingkungan ke dalam medium yang paling mereka kuasai, yaitu musik.
Album kompilasi bertema krisis iklim akan diluncurkan akhir 2025 sebagai bagian dari kampanye global No Music On A Dead Planet, sebuah gerakan yang turut didukung oleh musisi dunia seperti Billie Eilish dan Massive Attack.
“Setelah banyak mendapat hard truth, saya terdorong untuk mulai mengubah pola hidup secara perlahan tapi konsisten,” tambah Faiz, vokalis band Reality Club seraya menyebut kesadaran ini ingin dibagikannya kepada fans, teman, dan keluarga.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, para musisi melakukan aksi penanaman pohon di Gianyar. Sebagai langkah simbolis untuk menyeimbangkan jejak karbon mereka, sekaligus menegaskan bahwa perjuangan menyelamatkan bumi tak cukup hanya dengan lirik dan nada, tetapi juga butuh aksi nyata.*** (dre)





