Balihotnews.com | GIANYAR – Pemilik Yayasan Kaori Welas Asih (YKWA), Ni Kadek Winie Kaori Intan Mahkota, S.E.,M.M., mengunjungi Yayasan Anak Unik berlokasi di Jalan Pasung Grigis II/2, Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali, Senin (31/8/2026).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari kepedulian YKWA atas keberadaan anak-anak berkebutuhan khusus di Kabupaten Gianyar.
Winie Kaori datang bersama rombongan dan disambut hangat Ketua Yayasan Anak Unik, Ni Gusti Putu Parmiti, S.E., bersama jajaran guru dan sejumlah siswa.
Hingga saat ini, Yayasan Anak Unik Bali memberikan pendampingan kepada sekitar 62 anak berkebutuhan khusus.
Lembaga tersebut tidak hanya berfokus pada pendidikan, tetapi juga memberikan pendampingan dan ruang bagi anak-anak untuk berkembang sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Ketua Yayasan Anak Unik Bali, Ni Gusti Putu Parmiti, SE., menyampaikan keberadaan yayasan berawal dari panggilan hati untuk membantu anak-anak yang membutuhkan perhatian dan penanganan khusus.
“Saya selaku pendiri yayasan, kalau ditanya apa yang mendasari, mungkin ini jalan hidup yang membawa saya ke sini. Saya tidak punya latar belakang guru, tetapi merasa terpanggil untuk membantu mereka-mereka yang membutuhkan bantuan ekstra yaitu anak-anak berkebutuhan khusus tuna grahita,” kata Parmiti.
Menurutnya, masih banyak orang tua yang belum memiliki pengetahuan cukup mengenai kondisi anak berkebutuhan khusus. Bahkan, terdapat anak yang mendapatkan diagnosis maupun penanganan yang tidak tepat.
“Oleh karena itu, saya merasa terpanggil untuk melakukan gerakan ini dan itu betul-betul mengurangi organik, saya disupport oleh guru-guru yang berjiwa besar, oleh orang-orang yang berjiwa besar, saya diijinkan oleh keluarga saya memakai rumah adat kami sebagai sekolah sementara,” ujarnya.
Parmiti menceritakan, perjalanan Yayasan Anak Unik bermula dari kegiatan bimbingan belajar yang didirikannya pada 2012. Saat itu, kegiatan tersebut memberikan les Bahasa Inggris dan Matematika bagi anak-anak sekolah dasar di sekitar tempat tinggalnya.
Seiring waktu, sejumlah orang tua datang dan menitipkan anak yang mengalami kesulitan membaca dan menulis. Dari pengalaman tersebut, Parmiti mulai mengenal lebih jauh mengenai anak dengan hambatan intelektual.
“Diceritakan, awalnya sekali tahun 2012,saya mendirikan Bimbingan Belajar (Bimbel) bahasa Inggris, Matematika itu di sore hari untuk anak-anak SD yang ada di sekitar rumah kita, tetapi lama kelamaan ada orang tua yang dateng menitip anaknya yang tidak bisa membaca, menulis, jadi pengetahuan saya belum sampai di situ,” jelasnya.
Kemudian, Parmiti memahami bahwa anak berkebutuhan khusus tidak selalu memiliki kondisi fisik yang berbeda.
“Saya kira, yang namanya cacat, buta, bisu, tuli, pakai kursi roda itu cacat, waktu itu, pengetahuan saya belum sampai seperti ini. Jadi, ternyata ada juga yang namanya cacat intelektual, sehingga otak yang bermasalah, mereka secara fisik sama seperti kita, namun kalau ditest oleh psikolog mereka memiliki IQ di bawah rata-rata,” imbuhnya.
Parmiti menyebut tantangan yang dihadapi Yayasan Anak Unik terus berubah. Pada masa awal berdiri, salah satu tantangan terbesar justru datang dari kurangnya pemahaman orang tua terhadap anak berkebutuhan khusus.
Parmiti mengatakan masih ada orang tua yang merasa malu, gengsi, bahkan menganggap kondisi anak sebagai sebuah kutukan.
“Di tahun-tahun awal masih belum ada hasilnya, setelah itu hasilnya membludak setelah 5 Tahun tantangannya adalah kekurangan tempat, karena itu rumah, baru bulan Juni kemarin mereka merasakan sekolah sesungguhnya, bisa bermain semenjak pindah dari bulan Juni kemarin ini, baru guru dan murid kami merasakan sekolah yang ideal,” terangnya.
Menurutnya, pemahaman masyarakat kini semakin berkembang. Orang tua semakin aktif mencari informasi mengenai sekolah maupun terapi yang sesuai dengan kebutuhan anak. “Jadi, makin kesini orang tua semakin melek, orang tua semakin sadar,” tegasnya.
Yayasan Anak Unik juga terus beradaptasi karena karakteristik siswa yang ditangani semakin beragam, termasuk anak dengan autisme maupun nonverbal.
Parmiti mengatakan metode pembelajaran juga harus disesuaikan dengan kemampuan setiap anak. “Tantangan kami adalah menyederhanakan perintah instruksi, itu yang sulit, kalau di sekolah formal mengembangkan, kalau kami mengerucutkan informasi sampai ke telinga anak-anak bagaimana caranya se sederhana otak mereka,” jelasnya.
Parmiti menegaskan guru di Yayasan Anak Unik dituntut untuk beradaptasi dengan kondisi siswa. “Jadi kita menyederhanakan frekuensi sesederhana otak mereka, jadi kita bisa masuk ke otak mereka, guru yang beradaptasi. kalau di sekolah formal guru tinggal mengajar, di sini kami mengajar dan mendidik,” urainya.
Dalam hal pembiayaan, Parmiti menjelaskan Yayasan Anak Unik pada awalnya menggunakan sistem subsidi silang. Kegiatan Bimbel Bahasa Inggris dan Matematika menjadi salah satu sumber pendanaan untuk membiayai operasional dan menggaji guru.
“Saat covid itu memang kita lakukan subsidi silang, sorenya Bimbel bahasa Inggris dan Matematika, kebetulan mantan murid saya sekarang jadi guru siswa sambil mengajar les bahasa Inggris,” ungkapnya.
Seiring perkembangan yayasan, bantuan juga datang dari berbagai pihak, termasuk dari luar negeri. Bantuan tersebut tidak selalu berupa uang, tetapi juga pakaian, sembako, minuman, maupun berbagai barang yang dibutuhkan yayasan.
“Ini bukan karena dihadapan Ibu Kaori, tetapi sesuatu yang kami tidak mampu beli kami dapat. Jadi, kami tidak bisa mengungkapkan kata-kata, tetapi apa pun bentuk bantuan apalagi itu barang, sembako, minuman, itu sudah lebih dari ekspektasi kami, itu sangat luar biasa sekali,” jelasnya.
Winie Kaori: Yayasan Anak Unik Bali Hadir dengan Cinta Kasih
Sementara itu, Ketua Yayasan Kaori Welas Asih, Ni Kadek Kaori Intan Mahkota, S.E.,MM., mengapresiasi perjuangan Yayasan Anak Unik dalam memberikan perhatian kepada anak-anak berkebutuhan khusus.
“Hari ini, kita bersama Founder Yayasan Anak Unik Bali yang merawat 60-an lebih anak-anak yang berkebutuhan khusus di kabupaten Gianyar. Kami dari Yayasan Kaori Welas Asih berterima kasih atas semangatnya, jiwa besarnya yang selalu memberikan motivasi kepada anak-anak, keluarga, dan orang tua disini untuk tetap semangat berjuang, tidak mengenal putus asa,” kata Winie Kaori.
Menurutnya, keberadaan Yayasan Anak Unik menjadi contoh nyata mengenai pentingnya kepedulian dan cinta kasih terhadap sesama.
“Yayasan Anak Unik Bali hadir melengkapi, mewarnai, sekaligus memberikan sentuhan cinta kasih, sekaligus memberikan kita sebuah contoh bagaimana kita hidup tidak sendirian, kita hidup tidak hanya berpaku tangan, kita hidup tidak bisa menyerah pada keadaan, tetapi kita hidup untuk selalu berjuang dan memberikan energi positif kepada alam semesta,” kata Winie Kaori.
Winie Kaori juga menilai pendampingan yang dilakukan Yayasan Anak Unik memiliki nilai sosial yang besar, karena anak-anak tidak hanya mendapatkan pendidikan, tetapi juga diterima dan diperlakukan sebagai bagian dari keluarga.
“Disini kami sangat berterima kasih ada sesosok si biang yang menjadi panutan ditengah-tengah masyarakat untuk tetap memberikan perhatian, tidak hanya keluarga tetapi seluruh masyarakat yang memang memiliki kebutuhan khusus untuk anak, dididik dari anak-anak hingga dewasa sampai 30 tahun,” ujarnya.
Winie Kaori menambahkan, setiap anak memiliki kemampuan dan proses perkembangan yang berbeda sehingga pendekatan yang dilakukan harus mengedepankan kasih sayang.
“Tidak ada paksaan untuk belajar, mampu dengan target sesuatu, tetapi disini dengan rangkulan, mereka dicintai selayaknya memanusiakan manusia,” kata Winie Kaori.
Tak hanya mengunjungi Yayasan Anak Unik Bali, Winie Kaori juga berkesempatan berbagi kasih di sejumlah tempat lainnya. Bantuan berupa sembako disalurkan kepada para lanjut usia (lansia) sebagai bentuk kepedulian dan tanda kasih Kaori kepada masyarakat yang membutuhkan. (red).





