Balihotnews.com | BULELENG – Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Buleleng melontarkan seruan tegas untuk menolak segala bentuk provokasi bernuansa Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA). Seruan ini digemakan demi menjaga muruah Pulau Bali sebagai simbol keharmonisan dan toleransi dunia.
Ketua DPC GMNI Buleleng, I Kadek Pradhita Ciwa Radhitya, menegaskan bahwa nilai gotong royong telah mendarah daging di tengah masyarakat Bali lintas agama dan budaya. Ia meminta tak ada ruang sekecil apa pun bagi pihak-pihak yang mencoba menabur benih perpecahan.
”Menjaga kedamaian di bumi Bali bukan sekadar merawat tradisi lokal. Ini adalah komitmen bersama bahwa perbedaan latar belakang merupakan anugerah yang harus dirangkul dalam bingkai persaudaraan,” ujar Radhitya melalui keterangan tertulisnya, Jumat (21/8/2026).
Memasuki usia ke-81 Republik Indonesia, Radhitya mengingatkan bahwa kemerdekaan bangsa diraih lewat keringat dan darah para pejuang yang sudi mengesampingkan perbedaan.
Oleh karena itu, momentum sakral kemerdekaan ini dinilai sebagai waktu yang tepat untuk merefleksikan kembali pentingnya menjaga kedaulatan bangsa dari ancaman disintegrasi sosial.
”Kemerdekaan sejati hanya bermakna saat seluruh rakyat hidup berdampingan secara damai, merdeka dari ancaman perpecahan, dan bersatu padu menjaga kedaulatan Ibu Pertiwi,” tuturnya.
Rumah Toleransi Bernama Bali
Sejarah panjang membuktikan Pulau Dewata bukan sekadar surga pariwisata, melainkan rumah yang hangat bagi siapa saja. Konsep kearifan lokal Tri Hita Karana selama ini sukses menjadi jangkar keharmonisan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Harmoni yang terbangun secara organik tersebut dirasakan langsung oleh Kabid Organisasi DPC GMNI Buleleng, Sinatriagung Mintojati. Sebagai kader berdarah Jawa yang telah lama menetap di Bali, ia melihat interaksi sosial yang sangat inklusif tumbuh subur, khususnya di Kabupaten Buleleng.
Menurutnya, Buleleng mampu berkembang menjadi wilayah dengan tingkat heterogenitas tinggi namun tetap mempertahankan kedamaian yang sistematis.
”Oleh karena itu, sangat disayangkan apabila peradaban, kerukunan, dan warisan budaya yang dibangun dengan penuh cinta kasih ini justru diruntuhkan oleh segelintir pihak lewat narasi murahan yang mengeksploitasi isu SARA,” tegas Sinatriagung.
Di penghujung pernyataannya, GMNI Buleleng mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali menghidupi nilai-nilai luhur Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Menjaga Bali agar tetap aman dan damai adalah tanggung jawab bersama demi merawat kehormatan bangsa.
Mereka pun menggemakan kembali peringatan abadi dari Sang Proklamator, Bung Karno, sebagai renungan bersama dalam menghadapi tantangan bernegara ke depan:
“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.”





