Pariwisata Bali Mulai Pulih: Kunjungan Wisatawan Januari-Juli 2026 Positif 0,4 Persen

Wakil Ketua Umum DPP IHGMA Dr. Agus Made Yoga Iswara (kanan) berbincang dengan Kelompok Ahli Pembangunan Bali Dr. Agus Dei di Macca Villas, Seminyak, Badung, Sabtu (15/8/2026). (Balihotnews/red)
Wakil Ketua Umum DPP IHGMA Dr. Agus Made Yoga Iswara (kanan) berbincang dengan Kelompok Ahli Pembangunan Bali Dr. Agus Dei di Maca Villas, Seminyak, Badung, Sabtu (15/8/2026). (Balihotnews/red)

Balihotnews.com | BADUNG – Sinyal pemulihan pariwisata Bali makin terlihat nyata. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, total kunjungan wisatawan, baik mancanegara (wisman) maupun Nusantara (wisnus), mencatat pertumbuhan positif 0,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Angka ini menjadi angin segar setelah pariwisata Pulau Dewata sempat terhantam isu geopolitik global pada awal tahun.

Wakil Ketua Umum DPP Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA), Dr. Agus Made Yoga Iswara, membeberkan rincian pergerakan angkanya. Kunjungan wisman pada periode tersebut tercatat mencapai 3.944.415 orang.

​”Kalau dibandingkan tahun lalu, wisman memang masih minus tipis 0,9 persen. Tapi tren penurunannya sekarang sudah makin mengecil,” kata Yoga saat ditemui di Maca Villas & Spa, Seminyak, Badung, Sabtu (15/8/2026).

Tumbuhnya angka keseluruhan pariwisata ini rupanya ditopang kuat oleh pergerakan wisnus. Tercatat ada 5.905.120 kunjungan domestik, atau tumbuh positif 1,3 persen. Gabungan dari kedua pasar inilah yang sukses menarik rapor pariwisata Bali di semester pertama 2026 masuk ke zona hijau.

Berita Terkait:  BBM Langka Bikin Warga Antre Berjam-jam, GMNI Sentil Pertamina

Mengejar Ketertinggalan di High Season

Yoga yang juga tergabung dalam Kelompok Ahli Pembangunan Provinsi Bali mengakui, kondisi awal 2026 cukup berat. Konflik geopolitik di bulan Februari dan Maret berdampak langsung pada merosotnya kedatangan turis yang biasanya transit dari Timur Tengah dan Eropa.

Namun, situasi berbalik saat Bali memasuki high season di bulan Juni, Juli, dan Agustus. Angka kunjungan kembali ngebut. Efeknya langsung terasa di tingkat hunian hotel (okupansi) wilayah Badung yang tembus 80 hingga 90 persen. Untuk kawasan lain seperti Gianyar, Bali Timur, dan Bali Utara memang sedikit lebih rendah, tapi masih masuk standar wajar musim liburan.

“Sekarang kita mulai mengejar ketertinggalan. Kami optimistis sampai akhir tahun nanti, minimal performa pariwisata Bali bisa sama persis dengan tahun lalu, atau bahkan lebih baik,” ujarnya.

Fenomena Okupansi dan “Bersih-bersih” Akomodasi

Ada satu fenomena menarik yang digarisbawahi Yoga. Lonjakan kunjungan turis saat ini ternyata tidak otomatis membuat semua hotel penuh merata. Apa pasal?

Berita Terkait:  Asyik buat Me Time! 5 Rekomendasi Pantai dengan View Cantik di Uluwatu yang Gak Terlalu Ramai

Rupanya, Bali sedang gencar melakukan penertiban dan tata kelola akomodasi. Ada tambahan sekitar 5.000 properti yang beralih status dari ilegal menjadi resmi. Otomatis, jumlah properti resmi yang pada 2024 hanya 12.000, kini melonjak jadi 17.000.

Bukan cuma itu, Online Travel Agent (OTA) juga ikut “bersih-bersih” dengan mencoret akomodasi tak berizin dari platform mereka.

“Kondisi ini menciptakan transisi. Sebaran tamu berubah. Jadi wajar kalau hunian hotel tidak langsung merata, karena kuenya sekarang dibagi ke lebih banyak properti resmi,” jelas CEO Maca Group ini.

Meski begitu, Yoga justru menyambut positif penertiban tersebut. Menurutnya, banyak ‘PR’ pariwisata Bali yang selama ini stagnan, perlahan mulai terurai dan menemukan solusinya. Ini menjadi narasi yang sangat baik untuk citra wisata Bali ke depan.

Turis Pindah-pindah Hotel, Belanja Makin Deras

​Untuk urusan lama tinggal (length of stay), catatan Badan Pusat Statistik (BPS) biasanya mematok angka 2 sampai 2,5 hari, karena BPS mengacu pada masa inap di satu hotel. Padahal, praktik di lapangan kini jauh berbeda.

Berita Terkait:  Dampak Ekonomi Maybank Marathon 2026 di Bali Tembus Ratusan Miliar

Turis sekarang cenderung nomaden. Mereka suka memecah masa tinggalnya untuk mendapat suasana berbeda. “Misalnya, tiga malam mereka menginap di Ubud, lalu sisanya pindah ke Seminyak. Praktisnya, rata-rata lama tinggal mereka sebenarnya stabil di 4 sampai 5 hari,” urai Yoga.

Kabar baik lainnya datang dari sisi daya beli (spending power). Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan ini ternyata jadi keuntungan tersendiri buat turis asing. Bargaining power uang mereka jadi lebih tinggi saat dibelanjakan di Bali.

“Pengeluaran mereka mengalir lebih deras ke sektor food and beverage, wisata wellness, sampai belanja produk-produk lokal. Ini dampaknya sangat positif buat perekonomian warga di sini,” tuturnya.

Ke depan, para pelaku industri berharap eskalasi geopolitik dunia tak makin parah dan harga minyak stabil. Sebab, fluktuasi harga tiket pesawat adalah faktor penentu utama yang memengaruhi lancar tidaknya rencana liburan wisatawan ke Bali hingga akhir tahun nanti.*** (ace/dre)

Berita Terkini