Balihotnews.com | DENPASAR – Ada satu bagian penting dalam pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2027 yang patut memperoleh perhatian khusus dari masyarakat Bali. Presiden menyampaikan rencana pengembangan Indonesia Financial Center atau Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII), dengan Jakarta sebagai lokasi awal dan Bali sebagai salah satu lokasi pengembangannya.
Penyebutan Bali secara langsung dalam pidato resmi Presiden bukan sekadar kabar mengenai rencana pembangunan suatu kawasan. Hal tersebut menunjukkan bahwa Bali mulai ditempatkan dalam peta besar transformasi ekonomi nasional. Indonesia tidak lagi ingin hanya menjadi tempat asal kekayaan, modal, dan nasabah, sementara pengelolaan dana dan transaksi bernilai besar dilakukan di pusat-pusat keuangan negara lain. Melalui PFII, Indonesia ingin membangun ekosistem keuangan internasional sendiri: tempat modal dunia bertemu dengan proyek nasional, perusahaan memperoleh pembiayaan, teknologi keuangan berkembang, dan sengketa bisnis diselesaikan dengan cepat serta kredibel.
Bagi Bali, rencana tersebut membuka sebuah kemungkinan baru. Bali selama ini berada di garis depan pariwisata Indonesia. Ke depan, Bali berpeluang ikut berada di garis depan investasi, jasa keuangan, teknologi, ekonomi digital, dan bisnis internasional. Namun, peluang itu belum menjadi kepastian. Bali masih merupakan salah satu opsi lokasi pengembangan PFII. Karena itu, penyebutan Bali oleh Presiden harus dibaca bukan sebagai alasan untuk berpuas diri, tetapi sebagai panggilan untuk mempersiapkan diri.
Bagian dari Transformasi Ekonomi Indonesia
PFII tidak berdiri sendiri. Dalam pidato RAPBN 2027, Presiden menyampaikan rangkaian agenda besar, mulai dari perbaikan puskesmas, rumah sakit dan sekolah, penguatan bursa komoditas, optimalisasi aset BUMN, pengembangan energi surya, pembiayaan proyek strategis, hingga elektrifikasi kendaraan. Seluruh kebijakan tersebut memiliki benang merah yang sama, yaitu memperkuat kapasitas nasional dan mengubah kekayaan Indonesia menjadi kekuatan ekonomi. PFII berada pada sisi pembiayaannya. Indonesia membutuhkan modal besar untuk membangun infrastruktur, industri, energi bersih, teknologi, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan proyek-proyek jangka panjang. APBN tidak mungkin menanggung seluruh kebutuhan tersebut.
Karena itu, Indonesia harus mampu menarik dana internasional dan mengarahkannya kepada kegiatan produktif. PFII diharapkan menjadi jembatan antara modal global dengan kebutuhan pembangunan Indonesia. Kehadiran PFII juga dapat mengurangi ketergantungan perusahaan dan investor Indonesia terhadap pusat finansial di luar negeri. Indonesia ingin menjadi pemain, bukan hanya pasar. Kita ingin transaksi atas kekayaan Indonesia lebih banyak dilakukan di Indonesia, memberikan nilai tambah, pekerjaan, penerimaan, dan pengetahuan bagi bangsa sendiri.
Mengapa Bali Masuk dalam Pertimbangan?
Bali memiliki beberapa keunggulan yang membuatnya layak dipertimbangkan. Bali mempunyai reputasi internasional yang sangat kuat. Nama Bali telah dikenal oleh investor, pemimpin perusahaan, profesional, dan masyarakat dunia. Bali juga berpengalaman menyelenggarakan pertemuan internasional, konferensi ekonomi, forum pemerintahan, dan kegiatan bisnis berskala besar.
Selain itu, Bali memiliki bandar udara internasional, fasilitas perhotelan, layanan konferensi, kawasan ekonomi khusus, ekosistem ekonomi kreatif, serta kualitas kehidupan yang menarik bagi tenaga profesional global. Dalam perkembangan pusat finansial modern, kualitas kehidupan menjadi semakin penting. Talenta global tidak hanya mempertimbangkan gaji dan fasilitas kantor, tetapi juga keamanan, kenyamanan, lingkungan, konektivitas, pendidikan, kesehatan, budaya, dan keseimbangan hidup. Bali memiliki banyak modal tersebut.
Akan tetapi, Bali juga memiliki keterbatasan. Persoalan kemacetan, sampah, air, energi, alih fungsi lahan, kepadatan kawasan tertentu, dan ketimpangan pembangunan tidak boleh diabaikan. Jika tidak ditangani, persoalan tersebut dapat mengurangi daya saing Bali sebagai calon lokasi pusat finansial internasional. Dengan demikian, keindahan dan popularitas Bali saja tidak cukup. Bali harus membuktikan kesiapan kelembagaan, infrastruktur, sumber daya manusia, dan daya dukung lingkungannya.
Peluang Diversifikasi Ekonomi Bali
Pelajaran terbesar dari pandemi adalah tingginya ketergantungan Bali terhadap pariwisata. Ketika perjalanan manusia berhenti, perekonomian Bali mengalami kontraksi yang sangat dalam. Karena itu, transformasi ekonomi Bali harus diarahkan pada penguatan pariwisata berkualitas sekaligus pengembangan sumber-sumber pertumbuhan baru.
PFII dapat menjadi salah satu pintu diversifikasi tersebut. Kehadirannya berpotensi mendorong pertumbuhan: jasa keuangan dan investasi; teknologi finansial; ekonomi digital; jasa hukum dan arbitrase; akuntansi dan perpajakan; manajemen aset dan risiko; keamanan siber; pendidikan internasional; ekonomi kreatif; MICE dan perjalanan bisnis; serta pembiayaan hijau.
Diversifikasi ini tidak berarti meninggalkan pariwisata. Justru kegiatan keuangan dan investasi internasional dapat memperkuat pariwisata berkualitas melalui peningkatan perjalanan bisnis, konferensi, pertemuan investor, pendidikan profesional, dan kebutuhan pelayanan berstandar tinggi. Bali tetap menjadi Bali, tetapi dengan struktur ekonomi yang lebih luas dan lebih tangguh.
Apa Manfaatnya bagi Masyarakat?
Pertanyaan terpenting bukan hanya di mana PFII akan dibangun, tetapi siapa yang akan memperoleh manfaat. Masyarakat perlu mengetahui bahwa pusat finansial internasional bukan hanya membutuhkan bankir atau ahli investasi. Ekosistemnya memerlukan akuntan, auditor, ahli hukum, konsultan pajak, analis data, programmer, penerjemah, tenaga pemasaran, pengelola konferensi, ahli keamanan siber, desainer, pekerja kreatif, profesional perhotelan, serta tenaga pendukung lainnya.
PFII juga dapat menciptakan pasar baru bagi UMKM Bali. Perusahaan dan profesional yang bekerja di dalam ekosistem tersebut akan membutuhkan makanan, transportasi,akomodasi, teknologi, jasa acara, produk kreatif, wellness, kerajinan, dan berbagai layanan berkualitas. Akan tetapi, manfaat tersebut tidak akan datang secara otomatis.
Jika masyarakat dan pelaku usaha lokal tidak dipersiapkan, pekerjaan berkualitas dapat diisi oleh tenaga dari luar, sedangkan UMKM Bali hanya memperoleh manfaat kecil. Karena itu, pembangunan PFII harus berjalan bersama pembangunan manusia Bali.
Jangan Menunggu Keputusan Lokasi
Bali sebaiknya tidak menunggu sampai seluruh keputusan lokasi dan tahapan pembangunan ditetapkan. Persiapan sumber daya manusia, infrastruktur, dan ekosistem usaha harus dimulai sejak sekarang. Perguruan tinggi dan lembaga pendidikan perlu memetakan program studi serta kompetensi yang dibutuhkan, seperti keuangan internasional, teknologi finansial, hukum bisnis, perpajakan, akuntansi, artificial intelligence, analisis data, dan keamanan siber.
Pemerintah daerah perlu menyiapkan peta kebutuhan tenaga kerja dan program sertifikasi. Perbankan, perusahaan, asosiasi profesi, dan perguruan tinggi dapat membangun program magang dan pelatihan bersama. UMKM perlu didampingi untuk memperbaiki legalitas, kualitas produk, kapasitas produksi, pencatatan keuangan, pelayanan, kemampuan digital, dan bahasa asing.
Persiapan seperti ini tetap bermanfaat bagi Bali meskipun proses pembangunan PFII berlangsung bertahap. Kompetensi keuangan, teknologi, dan profesional akan memperkuat perekonomian Bali dalam berbagai skenario.
Bali Harus Menawarkan Model yang Berbeda
Bali tidak perlu meniru Singapura, Dubai, Hong Kong, atau pusat finansial lainnya secara utuh. Bali harus menawarkan keunggulan yang berbeda. PFII di Bali dapat dikembangkan sebagai pusat finansial yang menggabungkan kepercayaan, teknologi, budaya, dan keberlanjutan. Bali dapat menjadi pusat pembiayaan untuk energi bersih, ekonomi kreatif, konservasi, pariwisata berkualitas, pertanian berkelanjutan, dan pembangunan regeneratif.
Nilai-nilai Tri Hita Karana dapat menjadi dasar etikanya: harmoni antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Dengan karakter tersebut, Bali tidak sekadar menawarkan insentif dan fasilitas. Bali menawarkan kepercayaan, kualitas kehidupan, kreativitas, serta identitas budaya yang kuat. Inilah yang dapat membedakan PFII Bali dari pusat finansial lainnya.
Tetapkan Ukuran Manfaat bagi Bali
Dukungan masyarakat akan semakin kuat apabila manfaat PFII dapat dijelaskan dan diukur secara konkret. Pemerintah daerah bersama pemerintah pusat perlu menyiapkan ukuran manfaat lokal, antara lain: jumlah pekerjaan berkualitas bagi tenaga kerja Bali; keterlibatan pengusaha dan UMKM lokal; program pendidikan dan transfer pengetahuan; kontribusi terhadap infrastruktur publik; penggunaan energi bersih; pengelolaan air dan sampah; perlindungan tata ruang dan lingkungan; keterlibatan desa adat; serta penyebaran manfaat ekonomi ke wilayah lain di Bali.
Investasi yang besar belum tentu memberikan manfaat yang besar apabila sebagian besar nilai tambah keluar dari daerah. Karena itu, PFII harus dirancang agar terhubung dengan masyarakat dan perekonomian Bali. Kawasan finansial tidak boleh tumbuh sebagai pulau ekonomi tersendiri di tengah Pulau Bali.
Dari Peluang Menjadi Kesiapan
Ketika Presiden menyebut Bali sebagai salah satu lokasi pengembangan PFII, sebuah pintu besar sedang dibuka. Namun, apakah Bali akhirnya dapat masuk dan memperoleh manfaat optimal akan sangat bergantung pada kesiapan kita sendiri.
Pemerintah perlu bergerak dengan peta jalan yang jelas. Perguruan tinggi perlu menyiapkan talenta. Dunia usaha perlu membangun kemitraan. UMKM harus meningkatkan kualitas. Masyarakat perlu memperoleh informasi yang benar. Lingkungan, budaya, dan desa adat harus dilibatkan sejak awal.
Kita patut menyambut rencana ini secara positif dan penuh harapan. Namun, antusiasme harus diterjemahkan menjadi kerja nyata. Bali tidak cukup hanya dikenal dunia. Bali harus semakin mampu memainkan peran dalam perekonomian dunia. Bali juga tidak cukup hanya dipilih sebagai tempat, tetapi harus tampil sebagai mitra yang siap, kompeten, dan memiliki gagasan.
Pidato Presiden telah menempatkan Bali dalam salah satu pilihan penting arah ekonomi Indonesia 2027. Kini tugas kita adalah memastikan Bali tidak hanya masuk dalam daftar kandidat, tetapi benar-benar layak, siap, dan mampu menghadirkan PFII yang memberi manfaat bagi masyarakat, Indonesia, serta dunia (tnu).






