Gawang Kosong, Bola Kekosongan, Sepak Bola sebagai Jalan Sunyi Menuju Kesadaran 

Foto: Penulis: I Ketut Sumarta, pejalan kehidupan. (Balihotnews/ist).

Balihotnews.com | DENPASAR – Di lapangan yang paling ramai sekalipun, ditengah teriakan puluhan ribu suara yang menuntut satu hal saja gol, ada satu titik yang selalu diam. Titik itu bukan di tribun, bukan di bangku pelatih, bukan pula di kaki wasit. Titik itu ada tepat di antara kaki seorang pemain dan bola yang sedang bergulir ke arahnya.

Di titik itulah pertandingan yang sesungguhnya berlangsung. Bukan pertandingan dua puluh dua orang memperebutkan bundaran kulit, melainkan pertandingan seorang manusia melawan kebisingan dalam dirinya sendiri.

Sebab bola, jika ditelusuri sampai ke intinya, adalah Kekosongan. Ia bundar, tertutup tak berpihak pada siapa pun, tak menyimpan dendam atau harapan. Ia hanya menggelinding sesuai hukum yang lebih tua tinimbang sepak bola itu sendiri: hukum yang mengatur bagaimana sesuatu yang Kosong bisa menjadi wadah bagi segala kemungkinan.

Seorang pemain yang baru belajar akan melihat bola sebagai musuh yang harus ditaklukkan, direbut, dikuasai dengan otot dan kecepatan. Tapi, seorang pemain yang telah menyelami permainan hingga ke inti-hakikat terdalam, yang telah lelah dikejar dan mengejar, suatu hari akan berhenti dan menyadari sesuatu yang mengubah segalanya: bola tidak bisa dikuasai dengan paksa. Ia hanya bisa diakrabi.

 

Keheningan Sebelum Sentuhan 

Perhatikan pemain besar mana pun saat menerima bola dalam tekanan tinggi. Ada sepersekian detik, begitu singkat hingga penonton biasa tak menyadarinya, dimana segala sesuatu berhenti. Bukan tubuhnya yang berhenti, melainkan pikirannya.

Ia tidak sedang menghitung, tidak sedang panik, tidak sedang berdebat dengan dirinya sendiri tentang opsi mana yang benar.

Berita Terkait:  Mendengar Suara Rakyat, Membenahi Bayangkara Negara

Ia Hening. Keheningan inilah medan pertama yang harus diakrabi seorang pemain sebelum bola benar-benar menjadi miliknya. Sebab kegaduhan batin rasa takut kehilangan bola, ambisi untuk terlihat hebat, kecemasan akan hasil selalu tiba lebih dulu daripada bola itu sendiri, dan justru itulah yang membuat bola memantul liar dari kaki yang gemetar.

Keheningan bukan kekosongan pikiran yang pasif. Ia adalah kesiapan yang dalam, seperti permukaan air danau yang tenang namun sanggup memantulkan seluruh langit. Seorang pemain yang telah menemukan Keheningan ini tidak lagi mengejar bola, justru bola yang menghampirinya, dan ia menyambut sang bola sebagaimana tuan rumah menyambut tamu yang sudah lama dinanti.

 

Begitu pula hidup. Keputusan-keputusan besar, momen-momen yang menuntut kita menjadi diri kita yang paling utuh, jarang lahir dari kepanikan. Ia justru lahir dari jeda hening, tempat kita berhenti bereaksi dan mulai benar-benar Hadir.

 

Segala Kemungkinan Sebelum Terwujud 

Sebelum bola disentuh, ia adalah medan kuantum, ruang segala kemungkinan yang belum runtuh menjadi satu peristiwa. Bola itu bisa menjadi umpan terobosan, bisa menjadi tembakan, bisa menjadi kesalahan fatal, bahkan bisa pula menjadi gol yang dikenang seumur hidup, sepanjang sejarah sepak bola. Semua kemungkinan itu hidup berdampingan, saling tumpang tindih, dalam satu bola yang sama, di satu momen yang sama.

Yang menentukan kemungkinan mana yang runtuh menjadi kenyataan bukanlah kekuatan kaki, melainkan kualitas Kesadaran pemain saat menyentuh bola.

Seorang pemain yang menyentuhnya dengan keterburu-buruan meruntuhkan medan kemungkinan itu menjadi kepanikan. Sebaliknya, seorang pemain yang menyentuh bola itu dengan kesadaran penuh meruntuhkannya menjadi ketepatan.

Berita Terkait:  Harapan kepada Kapolri Baru: Teladani Hoegeng, Lindungi Rakyat

Inilah rahasia yang jarang diucapkan pelatih mana pun: bola tidak diarahkan oleh kaki. Bola diarahkan oleh keadaan batin pemain pada detik ia disentuh. Kaki hanyalah alat penyalur satu keputusan yang sesungguhnya telah dibuat jauh sebelum bola tiba dibuat di ruang batin yang telah berlatih ribuan jam untuk tetap jernih ditengah tekanan.

 

Demikian pula, kehidupan kita. Ia adalah medan kuantum yang belum runtuh. Setiap hari menyimpan seribu kemungkinan versi diri kita. Yang menentukan versi mana yang menjadi nyata bukan nasib, melainkan kualitas Kesadaran yang kita bawa ke setiap sentuhan, setiap keputusan, setiap perjumpaan.

 

Gawang yang Kosong 

Pada akhirnya, ke manakah bola itu harus diarahkan? Ke sebuah gawang, yang jika direnungkan sungguh-sungguh, adalah kekosongan yang lain.

Gawang bukan tembok bukan penghalang, bukan target yang mengeras. Gawang adalah ruang kosong yang dijaga, sebuah lubang dalam realitas yang menunggu untuk diisi.

Seorang pemain tidak menembak ke arah tiang, mistar, atau jaring. Ia menembak ke arah ketiadaan yang belum terisi celah yang sesaat lagi akan ada, sebelum kiper bergerak menutupnya.

Gol tercipta bukan karena kekuatan tembakan, melainkan, karena pemain telah membaca kekosongan itu lebih cepat tinimbang kekosongan itu mengisi dirinya sendiri.

Disinilah kebenaran paling mengguncang permainan ini tersingkap: gol hanya lahir dari pertemuan dua kekosongan. Bola yang kosong dari ego pemain, diarahkan menuju gawang yang kosong dari penghalang.

Tak ada gol yang lahir dari pemain  yang penuh sesak oleh ketakutan, ambisi, atau perhitungan berlebihan, sebagaimana tak ada gol lahir jika gawang itu penuh sesak oleh pemain bertahan yang menutup segala celah. Kekosongan bertemu kekosongan. Dari pertemuan itulah, sesuatu yang penuh, dengan kegembiraan, makna, pencapaia justru dilahirkan.

Berita Terkait:  Reforma Agraria dalam Spirit Sumitro Djojohadikusumo: Tanah untuk Keadilan dan Kesejahteraan Rakyat

 

Hidup sebagai Lapangan yang Sama 

Barangkali inilah yang ingin dikatakan permainan bola ini kepada kita, jika kita mau berhenti sejenak dan mendengarkannya: Hidup pun adalah lapangan tempat kita terus-menerus diminta menyambut bola yang datang tak terduga, dalam tekanan yang tak pernah benar-benar reda.

Kita tidak akan pernah menguasai hidup dengan mencengkeramnya erat-erat, sebagaimana bola tak pernah benar-benar dikuasai oleh kaki yang tegang dan gemetar.

Kita hanya bisa mengakrabinya dan mengenali keheningan di baliknya, menghormati medan kemungkinan yang belum runtuh, dan berani mengosongkan diri sepenuhnya saat momen mengarahkan tiba. Dan tujuan hidup kita, gawang kita, mungkin juga bukan sesuatu yang padat dan kaku seperti yang kita bayangkan selama ini meliputi jabatan, harta, pengakuan.

Barangkali tujuan sejati hidup adalah Kekosongan itu sendiri: ruang lapang tempat kita akhirnya berhenti mengejar dan mulai Ada seutuhnya, tanpa beban, tanpa topeng, tanpa perhitungan.

Tak ada gol tercipta tanpa pemain berani mempertemukan kekosongan dengan kekosongan. Barangkali juga tak ada hidup yang benar-benar terisi tanpa kita berani, sekali saja, meletakkan segala kepenuhan palsu kita, lalu berjalan telanjang menuju Keheningan yang sama, tempat gol-gol sejati kehidupan, sunyi-sunyi, telah lama menunggu untuk tercipta (Catatan Sunyi @ I Ketut Sumarta).

Bali, Minggu, Redite Kajeng Kliwon, Pujut, 12 Juli 2026. (Penulis: I Ketut Sumarta, pejalan kehidupan)

 

 

Berita Terkini