Balihotnews.com | DENPASAR – Tokoh sesepuh, deklarator sekaligus pendiri Partai Demokrat di Bali, Dewa Gede Bagus Badra menyampaikan tiga hal penting yang perlu menjadi bahan renungan kader dalam momentum HUT ke-25 Partai Demokrat.
Hal tersebut disampaikan Dewa Badra saat menghadiri puncak HUT ke-25 Partai Demokrat yang digelar DPD Partai Demokrat Provinsi Bali secara sederhana di Sekretariat DPD Partai Demokrat Bali, Rabu (9/9/2026).
Menurut Dewa Bagus Badra, usia 25 tahun bukan sekadar angka, tetapi menjadi momentum untuk mengingat kembali sejarah kelahiran partai, melihat proses pendewasaan organisasi, sekaligus melakukan refleksi terhadap visi dan misi Partai Demokrat.
Pertama, Mengingat Sejarah Kelahiran Partai Demokrat
Dewa Bagus Badra menjelaskan, Partai Demokrat digagas pada awal Agustus 2001 oleh dua tokoh utama, yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Vence Rumangkang.
Partai Demokrat kemudian resmi didaftarkan ke Departemen Hukum dan HAM pada 9 September 2001, bertepatan dengan HUT SBY.
“Pendaftaran ini diprakarsai oleh 99 orang pendiri, salah satunya adalah sahabat kita dari Bali, Bapak Drs. I Wayan Sugiana, seorang dosen di Jakarta,” kata Dewa Bagus Badra.
Dalam proses pembentukan partai, mandat dan surat tugas pembentukan pengurus daerah diserahkan kepada Ir. Anak Agung Susila Jelantik, M.S.
Dari sinilah, menurut Dewa Bagus Badra, proses pembentukan Partai Demokrat kemudian bergerak di Bali.
Menjelang verifikasi partai politik, Partai Demokrat Bali berhasil membentuk kepengurusan di tujuh dari sembilan kabupaten/kota.
Setelah kepengurusan terbentuk, Partai Demokrat Bali menggelar Musyawarah Daerah (Musda) di salah satu rumah makan di Jalan Ida Bagus Mantra. Musda tersebut kemudian menunjuk Dewa Badra sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Bali.
“Persyaratan saat itu memang hanya memungkinkan 7 kabupaten/kota. Kisah lengkap perjalanan ini nantinya akan dituangkan dalam buku 25 Tahun Partai Demokrat Provinsi Bali yang dipimpin oleh Pak Sudiartha, Pak Ida Bagus Astawa, serta rekan-rekan lainnya,” kata Dewa Bagus Badra.
Dewa Bagus Badra menambahkan, sejak awal hingga saat ini Partai Demokrat selalu mengikuti dan mematuhi aturan yang ditetapkan KPU Pusat maupun KPU Provinsi Bali.
Kedua, Usia 25 tahun Jadi Simbol Kedewasaan Organisasi
Dewa Bagus Badra menyebut perjalanan seperempat abad menjadi proses pendewasaan Partai Demokrat dalam memahami konstelasi politik, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Menurutnya, dinamika politik yang telah dilalui harus menjadi pengalaman berharga bagi seluruh kader untuk memperkuat organisasi ke depan.
Ketiga, HUT Harus Menjadi Momentum Refleksi
Dewa Bagus Badra menegaskan, peringatan HUT tidak cukup hanya menjadi kegiatan seremonial. Momentum tersebut harus digunakan untuk melihat kembali sejauh mana visi, misi dan platform Partai Demokrat telah terwujud.
“Refleksi terpenting adalah bagaimana visi, misi, dan platform Partai Demokrat dapat diwujudkan secara nasional maupun daerah,” ujarnya.
Menurut Dewa Bagus Badra, platform Partai Demokrat bertumpu pada tiga pilar utama, yakni nasionalis, pluralis dan humanis. Ketiganya kemudian berpadu menjadi pilar nasionalis-religius.
Dewa Bagus Badra juga mengenang masa awal pembentukan Partai Demokrat di Bali, khususnya setelah tragedi Bom Bali. Saat itu, Partai Demokrat tidak hanya berbicara mengenai target memperoleh kursi legislatif, tetapi juga menawarkan gagasan tentang keamanan, kesejahteraan dan demokrasi.
“Kondisi Bali saat itu sangat membutuhkan rasa aman. Dari keamanan, pariwisata dapat pulih kembali, dan dari pariwisata itulah kesejahteraan masyarakat dapat terwujud. Nilai-nilai inilah yang kita tawarkan ke masyarakat sehingga banyak tokoh yang tertarik untuk bergabung,” paparnya.
Dewa Bagus Badra turut mengingat perjalanan politik Partai Demokrat hingga berhasil mengantarkan pasangan SBY dan Jusuf Kalla dalam kontestasi Pilpres.
“Meskipun saat Pilpres dulu syarat pengusungan calon presiden adalah 3% dan secara nasional kita meraih 7,5% di Bali mencapai sekitar 6%, teman-teman dari partai lain akhirnya dapat bersatu dalam Barisan Partai Demokrat untuk mengusung pasangan SBY dan Jusuf Kalla,” urainya.
Oleh karena itu, Dewa Bagus Badra berharap seluruh kader dan tokoh Partai Demokrat dapat bersama-sama membesarkan partai sehingga terus memberikan kontribusi bagi masyarakat sesuai amanah Pembukaan UUD 1945.
Dewa Bagus Badra juga menekankan dua prinsip penting yang harus dipegang dalam membesarkan partai. Pertama, menghormati setiap orang yang datang dan ingin bergabung. Kedua, menghargai orang-orang yang telah lebih dahulu berjuang dan menjadi pengurus partai.
Prinsip tersebut, kata Dewa Badra, juga diterapkan ketika sejumlah tokoh, seperti Pak Oles, Putu Suasta, Made Karda, Turah Santika dan tokoh lainnya bergabung dengan Partai Demokrat.
“Jika kita mampu merangkai dua prinsip ini, yaitu menghormati yang baru datang dan menghargai yang sudah ada di dalam niscaya Partai Demokrat ke depan akan jauh lebih maju, lebih baik, dan semakin dicintai rakyat. Demokrat! Jaya! Demokrat! Jaya! Demokrat! Jaya! AHY! Yes!,” tutupnya. (ace).





