YBM dan Srikandi PLN Hadirkan Harapan Baru bagi Perempuan Pejuang Nafkah di Denpasar

Penyerahan bantuan gerobak cahaya kepada Ibu Acun pedagang nasi kuning dan nasi campur. Tampak Ibu Acun memegang plakat simbolis Bantuan gerobak diapit Srikandi (rompi pink) dan Anggota YBM PLN UID Bali (rompi coklat) berpose didepan Gerobak Barunya. (balihotnews/pln).

Balihotnews.com | DENPASAR – Aroma manis kue pukis menyapa setiap pejalan kaki yang melintas di sudut jalanan Renon, Denpasar Timur. Di balik gerobak bercat putih-biru bertuliskan “Kue Pukis Kita Annajah”, berdiri Bu Hayati, ibu satu anak asal Madura yang tak pernah lelah mengayuh hidup lewat adonan sederhana yang ia olah setiap pagi.

Hari itu, matanya tampak lebih cerah dari biasanya. Ia baru saja menerima gerobak baru hasil bantuan dari Gerobak Cahaya, program pemberdayaan UMKM yang disalurkan Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN dan didukung Komunitas Srikandi PLN. Bantuan ini bukan berasal dari dana CSR korporasi, melainkan dari zakat, infak, dan sedekah yang dikumpulkan dari para pegawai muslim PLN.

“Alhamdulillah, sekarang saya punya gerobak yang layak. Selama ini jualan hanya pakai meja kecil, kurang menarik dilihat. Mudah-mudahan pembeli makin banyak dan dagangan cepat habis,” kata Bu Hayati dengan senyum penuh harap.

Berita Terkait:  El Nino Ancam Produksi Pangan, Koperasi Pertanian ASEAN Didorong makin Kuat

Ia bukan satu-satunya yang menerima bantuan ini. Ada juga Bu Acun, ibu enam anak asal Jawa Barat yang tinggal di Padang Sambian, Denpasar Barat. Setiap hari, ia berjualan nasi kuning dengan omzet rata-rata Rp 300 ribu per hari. Satu lagi adalah Teh Herlin, ibu dua anak asal Tasikmalaya yang berjualan sayur keliling di kawasan Jalan Marlboro, dengan omzet harian sekitar Rp 500 ribu.

Ketiganya mewakili potret perempuan tangguh di sektor informal, pejuang ekonomi keluarga yang bekerja tanpa gembar-gembor namun memberi kontribusi nyata pada roda ekonomi masyarakat.

Ketua YBM PLN UID Bali, M. Fajar Jamaluddin menyampaikan, bahwa Gerobak Cahaya merupakan bentuk tanggung jawab sosial dan spiritual pegawai PLN dalam berbagi manfaat secara langsung kepada masyarakat.

Berita Terkait:  El Nino Ancam Produksi Pangan, Koperasi Pertanian ASEAN Didorong makin Kuat

“Dana yang digunakan berasal dari zakat, infak, dan sedekah para pegawai. Ini adalah amanah yang kami salurkan secara selektif kepada mereka yang memang berhak dan membutuhkan. Semoga dapat meningkatkan daya saing dan keberlangsungan usaha kecil mereka,” terangnya.

Sementara itu, Koordinator Srikandi PLN Bali-Nusra, Nining Asih Pratiwi menyampaikan, bahwa keterlibatan Srikandi PLN tidak hanya sebatas pendistribusian bantuan, tetapi juga memastikan bahwa para penerima mendapatkan pendampingan dan motivasi.

“Kami ingin hadir sebagai sesama perempuan yang mendukung perjuangan mereka. Gerobak ini mudah-mudahan menjadi simbol semangat baru bagi para ibu untuk terus melangkah dan berdaya,” kata Nining.

Dalam suasana penuh kehangatan, para penerima bantuan bersama tim YBM dan Srikandi PLN berfoto di depan gerobak masing-masing. Dengan rompi cokelat muda, tim YBM mewakili nilai solidaritas yang bersumber dari zakat. Sedangkan rompi merah muda Srikandi PLN menjadi lambang kepedulian dan peran aktif perempuan PLN dibalik gerakan sosial ini.

Berita Terkait:  El Nino Ancam Produksi Pangan, Koperasi Pertanian ASEAN Didorong makin Kuat

Lebih dari sekadar alat produksi, Gerobak Cahaya menyala sebagai simbol kolaborasi, empati dan harapan. PLN membuktikan bahwa listrik tak hanya mampu menerangi rumah dan jalan, tapi juga hati dan perjuangan masyarakat kecil yang tak kenal lelah menyalakan masa depan. (red).

Berita Terkini