Yayasan Tri Hita Karana Beri Apresiasi Khusus di HUT ke-73 Dwijendra, Singgung Sejarah 1966

Ketua Yayasan THK, I Gusti Ngurah Wisnu Wardana saat menyerahkan mockup tabloid pariwisata Bali Travel Newspaper kepada Ketua Pengurus Yayasan Dwijendra, Dr. I Nyoman Satia Negara dalam Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-73 Yayasan Dwijendra Denpasar, Rabu (28/1/2026) malam. (Balihotnews/tim)
Ketua Yayasan THK, I Gusti Ngurah Wisnu Wardana saat menyerahkan mockup tabloid pariwisata Bali Travel Newspaper kepada Ketua Pengurus Yayasan Dwijendra, Dr. I Nyoman Satia Negara dalam Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-73 Yayasan Dwijendra Denpasar, Rabu (28/1/2026) malam. (Balihotnews/tim)

Balihotnews.com | DENPASAR – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Yayasan Dwijendra Denpasar, pada Rabu (28/1/2026) malam, menjadi momen refleksi sejarah penting bagi Bali. Dalam acara tersebut, Yayasan Tri Hita Karana (THK) memberikan apresiasi khusus berupa mockup tabloid Bali Travel Newspaper kepada Yayasan Dwijendra.

Apresiasi ini bukan sekadar seremonial. Penyerahan tersebut menjadi pengakuan tegas atas peran vital Yayasan Dwijendra sebagai “rahim” lahirnya istilah Tri Hita Karana, falsafah hidup masyarakat Bali yang kini dikenal luas hingga mancanegara.

Ketua Yayasan THK, I Gusti Ngurah Wisnu Wardana, menyerahkan langsung apresiasi tersebut kepada Ketua Pengurus Yayasan Dwijendra, Dr. I Nyoman Satia Negara, S.H., M.H. Momen ini disaksikan ribuan siswa, mahasiswa, serta jajaran pembina yayasan yang memadati area perayaan.

Berita Terkait:  Natalius Pigai Klaim Tak Takut Dicopot dari Jabatan Menteri HAM: Saya Kerja Bagus

Wisnu Wardana yang juga Pemimpin Redaksi Bali Travel Newspaper mengungkapkan, apresiasi tersebut dilandasi alasan historis yang kuat.

Karena menurutnya, Yayasan Dwijendra mencatatkan tinta emas dalam perjalanan peradaban Bali sebagai tuan rumah Konferensi Daerah Badan Perjuangan Umat Hindu Bali pada 11 November 1966 silam.

“Dari konferensi bersejarah di tempat inilah istilah Tri Hita Karana lahir. Selama 73 tahun, Yayasan Dwijendra telah melahirkan gagasan fundamental yang menjadi instrumen pelestarian alam, budi pekerti, dan spirit manusia Bali,” tutur Wisnu.

Sebagai media resmi (official newspaper) Yayasan THK, Bali Travel Newspaper menilai Dwijendra sebagai mitra strategis dalam menyebarluaskan nilai-nilai kearifan lokal tersebut, baik di tingkat nasional maupun global.

Wisnu juga menyoroti relevansi Tri Hita Karana yang melampaui batas lokal. Konsep ini dinilai mampu menjawab tantangan pembangunan global dan selaras dengan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) periode 2015–2030 yang dicanangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Berita Terkait:  Simak 6 Makanan Indonesia yang Ternyata Punya Asal-usul Budaya dari Luar Negeri, Penasaran Apa Saja?

“Faktanya, seluruh tujuan global itu terakomodasi dalam tatanan Tri Hita Karana. Sepuluh tujuan berkaitan dengan Pawongan atau hubungan antarmanusia, lima tujuan selaras dengan Palemahan atau lingkungan, dan dua tujuan menyentuh aspek Parhyangan atau spiritualitas,” paparnya.

Ia menegaskan, filosofi lokal Bali tersebut sesungguhnya telah lama menawarkan jawaban atas persoalan dunia modern.

“Artinya, kebahagiaan hidup dan keberlanjutan dunia dapat dicapai jika prinsip-prinsip Tri Hita Karana diterapkan secara benar dan konsisten,” imbuh jurnalis senior pariwisata itu.

Dalam kesempatan yang sama, Yayasan Dwijendra juga dikukuhkan sebagai penerima penghargaan THK-Innovation Awards. Kategori ini melengkapi deretan penghargaan bergengsi yang dikelola Yayasan THK, mulai dari THK-PR Awards, THK Awards & Accreditation, THK-CSR Awards, hingga THK-Melapa-Melapi Awards bagi para chef pelestari kuliner Bali.

Berita Terkait:  Peringati Perayaan Tumpek Wayang, Gubernur Koster Menghaturkan Sembah Bhakti di Pura Er Jeruk

Penghargaan tersebut menegaskan peran strategis Yayasan Dwijendra sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya mencetak sumber daya manusia, tetapi juga menjaga dan menghidupkan nilai-nilai luhur Bali.

Sinergi antara lembaga pendidikan dan institusi pelestari budaya ini diharapkan mampu menjaga “taksu” Bali tetap menyala di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi.

“Dengan fondasi Tri Hita Karana, maka Bali diyakini tetap kokoh menapaki masa depan tanpa kehilangan jati diri,” tandas Wisnu. *** (dre)

Berita Terkini