WWF Indonesia dan KKP Perkuat Aksi Laut Bebas Sampah di World Ocean Day 2026 Bali

Foto: Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP Ir. A. Koswara bersama Gubernur Bali yang diwakili Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, Ir. Putu Sumardiana, M.P., Chief Conservation Officer Yayasan WWF-Indonesia Dewi Lestari Yani Rizki serta Executive Director CTI-CFF Regional Secretariat Dr. Frank Keith Griffin, saat konferensi pers, dalam kegiatan World Ocean Day & Coral Triangle Day 2026 bertema "Kenali Lautmu, Wujudkan Aksimu" di Peninsula Island, ITDC Nusa Dua, Kabupaten Badung, Minggu, 7 Juni 2026. (Balihotnews/ist).

Balihotnews.com | BADUNG – Peringatan Hari Laut Sedunia atau World Ocean Day 2026 di Bali menyoroti persoalan serius sampah plastik yang mengalir dari daratan menuju laut.

WWF Indonesia bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menegaskan bahwa 90 persen sampah plastik di laut berasal dari aktivitas di darat.

Pesan tersebut mengemuka, dalam kegiatan World Ocean Day & Coral Triangle Day 2026 bertema “Kenali Lautmu, Wujudkan Aksimu” di Peninsula Island, ITDC Nusa Dua, Kabupaten Badung, Minggu, 7 Juni 2026.

Acara ini menjadi bagian dari Road to Ocean Impact Summit 2026 yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, komunitas lingkungan, akademisi, generasi muda hingga sektor swasta.

Selain WWF Indonesia dan KKP, kegiatan kolaboratif ini juga melibatkan Konservasi Indonesia, GIZ Indonesia, CTI-CFF, Coral Triangle Center, Yayasan Pesisir Lestari serta Coca Cola Europacific Partners Indonesia.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Ir. A. Koswara menegaskan bahwa kondisi laut tidak bisa dipisahkan dari aktivitas manusia di daratan. Oleh karena itu, penanganan sampah harus dilakukan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Berita Terkait:  Peringati Perayaan Tumpek Wayang, Gubernur Koster Menghaturkan Sembah Bhakti di Pura Er Jeruk

“Laut ibarat sebuah TPA (Tempat Pembuangan Akhir) artinya perjalanan sampah mulai dari sumbernya hingga ujungnya bermuara di laut,” kata Koswara.

Menurutnya, KKP kini menjalankan tiga program prioritas untuk menjaga kesehatan laut Indonesia. Program pertama fokus pada pengelolaan sampah melalui pengurangan dan penanganan sampah yang sudah ada.

Program kedua dilakukan melalui perlindungan kawasan pesisir dan rehabilitasi lingkungan, termasuk penanaman mangrove skala besar bersama dunia usaha di kawasan Pantai Utara Jawa yang mengalami degradasi cukup parah.

“Kami melakukan program dari aspek penanaman mangrove. Nanti akan ada tanam mangrove skala besar bersama dengan dunia usaha disana,” kata Koswara.

Sementara program ketiga menitikberatkan pada penguatan tata kelola pulau-pulau kecil agar pembangunan antara pulau, laut dan kawasan pesisir dapat berjalan terintegrasi.

Berita Terkait:  Namanya Dikaitkan dengan Dugaan Pemerasan, Andre Sulla Tempuh Jalur Hukum

Lebih jauh, Koswara menjelaskan KKP juga memperkuat program Laut Sehat Bebas Sampah (Laut SEBASAH) melalui kerja sama lintas sektor, termasuk pemerintah daerah, masyarakat pesisir hingga pelaku usaha yang beraktivitas di laut.

Dalam penanganan sampah laut, KKP selama ini telah melibatkan nelayan untuk membantu pengumpulan sampah di laut.

Ke depan, kolaborasi akan diperluas dengan melibatkan seluruh pihak yang memiliki aktivitas di wilayah perairan.

“Nanti kedepan kita akan buatkan dengan seluruh pihak yang beraktivitas di laut, baik itu nelayan maupun para dunia usaha yang beraktivitas di laut. Itu menjadi target utama menangani sampah di laut,” ujarnya.

Sementara itu, Chief Conservation Officer Yayasan WWF-Indonesia, Dewi Lestari Yani Rizki menegaskan bahwa upaya menjaga laut harus dimulai dari daratan, terutama melalui pengurangan kebocoran sampah plastik dari sungai menuju laut.

“90 persen sampah plastik di laut itu berasal dari daratan. Jadi, kami memang kerja betul-betul juga bekerjasama di daratan dengan para pemerintah daerah untuk mengurangi kebocoran sampah dari sungai ke laut,” kata Dewi Lestari Yani Rizki.

Berita Terkait:  Gubernur Koster Tegaskan Pentingnya Sinergi Pusat dan Daerah dalam Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan

WWF Indonesia juga mendukung pengelolaan sampah di pulau-pulau kecil, salah satunya melalui pembangunan tempat pembuangan akhir (TPA) di kawasan Gili Trawangan.

Peringatan World Ocean Day 2026 di Bali turut diisi dengan penandatanganan kerja sama strategis antar lembaga dan serah terima laporan tahunan CTI-CFF kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP Ir. A. Koswara bersama Gubernur Bali yang diwakili Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, Ir. Putu Sumardiana, M.P., Chief Conservation Officer Yayasan WWF-Indonesia Dewi Lestari Yani Rizki serta Executive Director CTI-CFF Regional Secretariat Dr. Frank Keith Griffin melalui pelepasan layang-layang ke udara. (ace).

 

 

Berita Terkini